Pergelangan tanganku tak lagi kosong,
ada selang bening yang menggantikan doa.
Cairan masuk perlahan,
seperti harapan yang dipaksakan tetap hidup.
Aku diam,
tapi tubuhku bicara lewat tetes-tetes itu
tentang lelah yang tak sempat ditulis,
tentang luka yang tak bisa dijual.
Infus ini bukan kelemahan,
ia adalah tanda bahwa aku bertahan,
meski dunia tak tahu
berapa kali aku ingin menyerah.
Dan jika kamu melihatku terbaring,
jangan kira aku kalah.
Aku hanya sedang belajar
mencintai tubuhku yang terus berjuang.
