Pesona Hari Sabtu


 
S-nya apa?
S-nya Selamat Datang Bulan Kelahiran

November selalu punya cara untuk membuatku diam sebentar 
menengok ke belakang dengan senyum kecil,
lalu melangkah lagi dengan hati yang lebih lapang.

Bukan lagi tentang siapa yang pergi atau tinggal,
tapi tentang bagaimana aku belajar
*mencintai diriku sendiri.*

Selamat datang, bulan kelahiran...
semoga langkah-langkahku di bulan ini
senantiasa dipenuhi keberkahan, ketenangan, dan kabar baik dari langit.

Catatan kecil menjelang tanggal 2 November

Selamat datang, November.

Bulan kelahiran, bulan harapan yang kutanam dengan doa. 

Aku tidak meminta dunia tunduk padaku, 

hanya memohon agar hatiku tetap tunduk pada-Nya.


Semoga kebahagiaan datang bukan karena segalanya mudah, 

tapi karena aku dimudahkan dalam bersyukur. 

Semoga rezeki mengalir bukan hanya dalam bentuk materi, 

tapi juga dalam bentuk ketenangan, keberkahan, dan rasa cukup.


Semoga setiap urusan menjadi ringan, 

karena Allah yang menggenggamnya. 

Semoga aku istiqomah dalam ibadah, meski dunia terus berubah.


Jauhkan aku dari hal-hal yang tidak baik, 

yang mengaburkan cahaya dalam diri. 

Lindungi aku, ya Rabb, 

seperti Engkau melindungi hamba-hamba yang Kau cintai.


Di bulan kelahiranku ini, 

aku ingin menjadi lebih berguna, lebih bersih, lebih dekat. 

Karena hidup bukan tentang berapa lama aku ada, 

tapi tentang seberapa banyak aku memberi.


Tenang Sebelum Segala Sesuatu Berubah

Ketika hati sudah benar-benar berserah, bahkan di tengah kesulitan, yang tersisa hanyalah ketenangan. 

Sebuah refleksi sederhana tentang pasrah, ikhlas, dan rasa damai yang datang sebelum pertolongan Allah tiba.


Entah sejak kapan, aku mulai tak lagi terburu-buru meminta segalanya selesai dengan cepat.

Mungkin karena aku sudah terlalu sering melihat, bahwa setiap yang tertunda pun, tetap akan sampai, asal Allah sudah mengizinkan.

Aneh memang, hatiku setenang ini sekarang.

Padahal masalah masih ada, kebutuhan masih menunggu, dan hal-hal kecil seperti ponsel mati pun belum menemukan jawaban.

Tapi justru di situ aku merasa,

bahwa tenang bukan karena keadaan,

melainkan karena keyakinan.


Aku tidak lagi menunggu sesuatu untuk kembali,

aku menunggu bagaimana Allah akan mengembalikannya dengan cara-Nya sendiri.

Mungkin nanti, mungkin besok, mungkin saat aku sudah benar-benar pasrah.


Ada waktu di mana aku hanya tersenyum saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.

Bukan karena aku kuat,

tapi karena aku tahu, setiap yang Allah izinkan terjadi, pasti punya maksud yang lebih indah.


Tenang itu bukan berarti semuanya baik-baik saja,

tapi karena aku sudah percaya,

bahwa di balik setiap ujian,

ada kasih sayang Allah yang sedang bekerja dengan lembut sekali. 


Kadang Allah tidak langsung mengubah keadaan, karena Dia sedang menguatkan hati kita terlebih dahulu. 

Dan di situlah, ketenangan itu tumbuh,bahkan sebelum segalanya berubah.





Daily Volunteer

“Tidak semua perjuangan terlihat, tetapi setiap langkah kebaikan bernilai di sisi Allah.

Advokasi ini merupakan salah satu ikhtiar yayasan untuk memastikan keluarga pra-sejahtera mendapatkan hak bantuan sosial yang layak.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi untuk semakin memperkuat kepedulian dan solidaritas bersama.”



Sebanyak Kebaikan Nabi

Allahumma sholli wa sallim, 

Pada nama yang membuat langit bersujud, Muhammad, 

Cahaya yang tak padam, 

Yang setiap jejaknya adalah jalan kebaikan


Sebanyak kebaikan beliau, 

Sebanyak itu pula kami memohon rahmat, 

Karena tak ada bilangan yang cukup 

Untuk menampung cinta yang beliau wariskan.


Kami sebut namanya di Subuh yang sunyi, 

Di antara desir angin dan dzikir hati, 

Agar hidup kami ikut bercahaya, 

Meski hanya setitik dari samudera beliau.


Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Nabi yang Engkau cintai, 

Kepada keluarganya yang menjaga warisan, 

Kepada sahabatnya yang menyalakan lentera zaman.

Sebanyak kebaikan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam

Sebanyak itu pula kami berharap Engkau mencintai kami, karena kami mencintai beliau.


Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘adada hasanaati sayyidina Muhammad.


Setenang Itu Aku Sekarang

Ada masa di mana aku tak lagi berlari mencari tenang di luar diri.

Karena kini aku tahu, ketenangan sejati bukan datang dari siapa yang menemani, tapi dari seberapa dalam aku berserah pada Allah.

Malam-malamku bukan lagi sepi, tapi ruang untuk berbicara tanpa suara antara aku, Allah, dan Rasul.

Setiap dzikir seakan memelukku, setiap sholawat membawa cahaya, dan setiap ayat yang kubaca menenangkan hatiku.

Aku tak ingin menonjolkan apa yang kulakukan,

cukup ingin berbagi rasa bahwa kedamaian itu nyata 

dan ia datang ketika kita berhenti berpegang pada dunia, lalu menggenggam erat nama-Nya.


Sunyi yang Menenangkan

Di sunyi malam, aku belajar diam,

bukan karena letih, tapi karena ingin mendengar.

Ada bisikan lembut di dada,

mengajak pulang pada Yang Maha Ada.


Tiap hela napas terasa ringan,

seolah beban dunia dilepaskan perlahan.

Sholawat jadi jembatan rindu,

mendekat pada cahaya Rasul-Mu.


Tak ada lagi resah yang menggigil,

hanya damai yang menetes seperti embun subuh.

Kupeluk tenang, bukan karena aku kuat,

tapi karena Engkau tak pernah jauh, ya Allah.


Ketenangan ini bukan karena aku tak diuji,

tapi karena aku belajar memahami setiap ujian adalah cara Allah memelukku dengan cara yang paling lembut.



Doa sebelum tidur

Ya Allah,

malam ini aku serahkan segala lelah dan pikiranku pada-Mu.

Jika ada resah di hatiku, tenangkanlah dengan kasih-Mu.

Jika ada harap yang belum Engkau kabulkan,

jadikan aku sabar menunggu dengan keyakinan bahwa Engkau tahu waktu terbaik.


Lindungilah aku dalam tidurku,

jaga hatiku dari rasa takut dan gelisah.

Bangunkan aku di waktu terbaik,

untuk mengingat nama-Mu, memuji-Mu,

dan memohon ampun di sepertiga malam-Mu yang suci.


Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin 🤲🌿



HP BLACK SCREEN

Hari ini, HP-ku belum menyala. Black screen. Sunyi. Tapi justru di situ aku belajar: bahwa tak semua yang gelap berarti rusak. Kadang, Allah sedang mengajak kita diam, berhenti sejenak dari dunia yang bising.

Mungkin ini waktu untuk lebih banyak dzikir, lebih sedikit scroll. Waktu untuk menatap langit, bukan layar. Waktu untuk mendengar hati, bukan notifikasi.

Aku ridha. karena setiap kejadian, bahkan yang kecil dan remeh, bisa jadi jalan menuju cahaya. Qadarullah. Dan aku percaya, Allah tak pernah salah menulis takdir.



Di Sepertiga Malam Jum’at: Salam untuk Sang Rasul

Di kamar yang sunyi, 

Di antara dinding yang menyimpan dzikir, 

Aku bentangkan sajadah, 

Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.


Tasbih tergeletak di sisi, 

Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap, 

Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.

Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut, 

Seperti pelukan 

Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.


Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak” 

Bukan sekadar ucapan, 

Tapi doa yang mengalir 

Dari hati ke langit.


Wahai Rasulullah, 

Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah 

 Shalawat ini kutitipkan dalam malam, 

Dalam sepi yang penuh makna.


Engkau yang datang membawa cahaya, 

Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah. 

Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat, 

San sabar yang tak pernah padam.


Di malam Jum’at ini, 

Aku ingin menjadi hamba yang kembali, 

Yang tak hanya membaca, 

Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.


Aku ingin menjadi saksi, 

Bahwa malam bukan sekadar waktu, 

Tapi ruang untuk bertemu, 

Dengan Rabb yang Maha Mendengar.


Wahai jiwa, 

Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian. 

Karena di sepertiga malam, 

Ada pintu yang terbuka, 

Ada rahmat yang turun, 

Ada cinta yang menunggu untuk disambut.


Dan jika air mata jatuh, 

Biarlah itu menjadi saksi, 

Bahwa kau pernah berharap, 

Pernah mencintai, dan pernah kembali.


Yang Tahu Segala Bisikan

(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)




Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi, 

ia duduk bersimpuh di atas sajadah, 

dengan tasbih sederhana 

di jemari yang gemetar lembut. 

Tak ada suara, hanya detak hati yang berdzikir, 

dan air mata yang menetes pelan, seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.


Ia tak berkata-kata, karena ia tahu, 

Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap. 

Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia, telah lama sampai ke Arasy, 

Sebelum ia sempat merangkai kata.


"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..." 

 Rahasiakanlah, atau nyatakanlah, 

Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dan ia pun menangis, bukan karena lemah, 

Tapi karena akhirnya merasa dilihat, 

Oleh Yang Maha Melihat, meski dunia tak pernah benar-benar tahu.


Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain, 

Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan, 

Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti. 

Ia tak meminta dunia, ia hanya meminta 

Agar hatinya tetap hidup, 

Agar niatnya tetap bersih, 

Agar amalnya, meski kecil, 

Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak


Dan malam itu, 

Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup. 

Karena ia tahu, bahwa Tuhan-nya tahu. 

Segala isi hati. 

Segala luka. 

Segala cinta. 

Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Hujan Sore dan Perpisahan

Di bawah langit yang menangis pelan, 

Hujan sore turun seperti doa yang diam. 

Ada jejak langkah yang tak lagi kembali, 

Ada pelukan yang tertinggal di hati.


Enam tahun bukan sekadar waktu, 

ia menjahit kenangan, tawa, dan rindu. 

Mbak, engkau bukan hanya penolong, 

engkau saudara dalam diam yang tulus dan panjang.


Hari ini, engkau pamit dengan alasan mulia, 

menyambut cucu yang akan lahir ke dunia. 

Dan aku, yang terbiasa melihatmu di pagi hingga sore hari, 

menangis dalam syukur dan haru yang tak henti.


Maaf atas khilaf yang pernah singgah, 

terima kasih atas sabar yang tak pernah lelah. 

Kita saling memaafkan, saling mendoakan, 

di bawah hujan yang menjadi saksi perpisahan.


Semoga langkahmu diberkahi cahaya, 

semoga cucumu lahir dalam pelukan bahagia. 

Dan semoga perpisahan ini bukan akhir, 

melainkan awal dari doa yang terus mengalir.


Rahmat yang Digiring oleh-Nya

Refleksi dari Ali Imran ayat 74

Yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā’, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

“Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Ali Imran: 74)


Di antara banyaknya harapan yang kita panjatkan, ada satu yang paling lembut: 

agar Allah menggiring rahmat-Nya kepada kita. 

Bukan karena kita layak, tapi karena Dia Maha Pemurah.


Setiap pagi, setelah Subuh, aku ulangi ayat ini enam kali. 

Bukan sekadar dzikir, tapi doa yang tersembunyi di dalamnya:

Agar rahmat-Nya datang, 

Meski aku belum sempat memintanya dengan kata-kata.


Aku percaya, 

Rahmat Allah tidak selalu berupa hal besar. 

Kadang ia datang dalam bentuk ketenangan, 

Dalam cinta yang menumbuhkan, 

Dalam arah yang tak membuatku tersesat.


Dan aku tahu, 

Jika ada yang membaca ini lalu ikut mengamalkan, 

Maka pahala akan mengalir seperti cahaya yang tak padam. 

Karena kebaikan, 

Selalu punya cara untuk kembali kepada yang menanamnya.




Allahumma suq ilayya

Bawalah kepadaku, ya Rabb, 

Segala yang Engkau tahu aku butuhkan, 

Meski belum sempat aku pinta.


Bukan sekadar rezeki yang mengalir, 

Tapi ketenangan yang menetap, 

Cinta yang menumbuhkan, 

Dan arah yang Engkau berkahi.


Bawalah aku pada pertemuan yang Engkau ridhai, 

Pada langkah yang tak tersesat, 

Pada cahaya yang tak padam, 

Meski malam panjang dan hati lelah.


Aku menungguMu, 

Dengan hati yang lapang, 

Dengan jiwa yang percaya, 

Bahwa tak ada yang datang 

Tanpa Engkau yang menggiringnya.


Kata-kata hari ini

 Aku tau, Allah pasti nolong aku


Hujan Di Awal Pekan

Senin pagi, langit menunduk pelan,

Menumpahkan rindu lewat gerimis yang sopan.

Bumi beraroma doa dan harapan,

Seolah berkata, *“Tenanglah, semua akan berjalan.”*


Tetes-tetesnya jatuh seperti nasehat,

Bahwa tak semua langkah harus cepat.

Kadang jeda adalah bagian dari kuat,

Dan diam justru tempat doa paling hangat.


Hujan turun, tapi hati tak redup,

Justru makin jernih seperti air yang mengalir lembut.

Hari baru dimulai, meski langit tak biru,

Ada rahmat Allah di setiap sendu.



Balasan yang Tak Pernah Salah Alamat

Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelupaannya, 

ada tangan-tangan yang terangkat, 

bukan untuk meminta dunia, 

tapi untuk menitipkan lelah yang tak terlihat.


kau yang memberi, 

tanpa panggung, tanpa sorotan, 

kau yang menahan tangis saat kebaikanmu dibalas sunyi

Allah melihatmu.


Hal jazā`ul-ihsāni illal-ihsān 

 Tak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula. 

Dan kebaikan dari-Nya… 

selalu datang tepat waktu, 

meski bukan waktu yang kau harapkan.


Mungkin bukan hari ini. 

Mungkin bukan dari orang yang kau bantu. 

Tapi dari langit, 

dalam bentuk ketenangan, 

dalam bentuk pelukan tak kasat mata, 

dalam bentuk kekuatan untuk terus berjalan.


Teruslah menjadi cahaya, 

meski tak semua mata bisa melihatmu bersinar. 

Karena Allah… tak pernah salah alamat dalam membalas ihsan.


Jangan Biarkan Hatiku Pergi

Di sepertiga malam, 

aku tak minta dunia, aku cuma takut… 

takut hatiku berpaling setelah Kau beri petunjuk.


Rabbana… 

 Jangan biarkan aku kembali gelap, 

setelah Kau nyalakan cahaya di dalamku.


La tuzigh qulubana

jangan biarkan hatiku miring, 

meski dunia terus menggoda arah.


Wahab lana milladunka rahmatan

beri aku rahmat, 

yang tak datang dari manusia, 

tapi langsung dari sisi-Mu.


Innaka antal Wahhab

Engkau Maha Pemberi, 

dan aku… hanya seorang peminta yang tak tahu jalan

tanpa cahaya dari-Mu.


“Rabbana la tuzigh qulubana ba’da idz hadaitana wa wahab lana milladunka rahmatan, innaka antal Wahhab”


SERTIFIKAT LCP #41

Alhamdulillah 

Meski belum jadi juara, saya tetap bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 41 📖


Bagi saya, menulis bukan sekadar mengejar juara,

tetapi tentang keberanian menuangkan rasa,

dan berbagi kisah melalui kata.


Kemenangan sejati adalah ketika hati tetap tenang,

dan semangat untuk berkarya tak pernah hilang 🤍


#LombaPuisiNasional #PuisiHati #MenulisDenganHati #TetapBerkarya


“Rezeki yang Tak Pernah Usai”

(QS. Shad: 54)

“Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tiada habis-habisnya.” (QS. Shad: 54)

 

Di antara sepi yang belum sempat bicara, 

aku duduk, menghadap langit yang masih biru muda. 

“Inna haadza larisqunaa…” 

bisikku, pelan, seperti doa yang malu-malu.

Ini rezeki dari-Mu, ya Rabb, 

yang tak pernah habis, tak pernah lelah datang. 

Bukan hanya dalam bentuk rupiah, 

tapi dalam napas, dalam sabar, dalam pelukan pagi.

Aku tak meminta banyak, 

hanya cukup untuk hidup dengan hati yang lapang. 

Untuk mencintai tanpa takut kekurangan, 

untuk memberi tanpa takut kehilangan.

Dan Subuh pun menjadi saksi, 

bahwa aku percaya pada janji-Mu yang tak pernah usai. 

Maa lahu min nafadin

tak akan habis, tak akan hilang.



Doa dan Ucapan Ulang Tahun untuk Presiden Prabowo Subianto

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Di hari yang penuh berkah ini, kami memanjatkan doa untuk pemimpin kami, Presiden Prabowo Subianto, yang genap berusia 74 tahun. 

Limpahkanlah kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan kepadanya dalam memimpin bangsa ini menuju kemajuan dan keadilan. Jadikanlah beliau pemimpin yang amanah, tegas dalam kebenaran, lembut dalam pelayanan, dan kokoh dalam menjaga persatuan. 

Berikanlah ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kelapangan dada dalam menghadapi setiap tantangan negeri. Semoga setiap langkahnya menjadi jalan kebaikan bagi rakyat Indonesia, dan setiap keputusannya membawa keberkahan bagi masa depan bangsa.

Selamat ulang tahun, Bapak Presiden. PRABOWO SUBIYANTO

Semoga Allah senantiasa melindungi dan membimbing Bapak dalam tugas mulia ini. Terima kasih atas pengabdian dan perjuangan Bapak untuk negeri tercinta.

🇮🇩 Dengan hormat dan doa tulus dari rakyat Indonesia.


Salam Jumah Mubarak

Jumat Mubarak  

Di antara sunyi malam dan bisikan sajadah,  

ada doa yang tak bersuara,  

namun langit mendengarnya lebih dulu.  


Tanganku tak membawa apa-apa,  

hanya luka yang telah kupeluk,  

dan harapan yang tak pernah padam.  


Jumat datang seperti pelukan dari langit,  

mengusap lelah yang tak terlihat,  

menguatkan hati yang terus bertahan.  


Ya Allah,  

cukupkan aku dengan rahmat-Mu,  

walau yang kupinta hanya garam,  

Engkau beri lautan.


Sholawat yang Menyentuh Langit

Allahumma sholli ‘ala Sayyidinaa Muhammad,  

di setiap hembusan napas yang tak sempat kusebut,  

di antara malam yang sunyi dan hati yang rindu.  


Wa ‘ala aali Sayyidinaa Muhammad,  

kepada keluarga yang Engkau muliakan,  

yang menjadi cahaya di tengah gelap zaman.  


Fil awaliina wal aakhiriin

di awal penciptaan,  

di akhir perjalanan,  

di setiap detik yang Engkau izinkan aku hidup.  


Wafil mala’il a’la ila yaumiddiin

di langit tertinggi,  

di antara malaikat yang bertasbih,  

hingga hari di mana semua rahasia dibuka,  

dan cinta yang tulus tak lagi tersembunyi.  


Aku bershalawat bukan karena aku layak,  

tapi karena aku rindu,  

karena aku ingin dekat,  

karena aku tahu,  

di antara segala yang fana,  

ada satu nama yang Engkau jaga dengan cinta.  


Ya Rasulullah ﷺ,  

jadikan aku bagian dari umatmu yang Engkau kenali,  

meski aku datang dengan air mata,  

dan doa yang belum fasih.  


Ya Allah,  

terimalah sholawat ini sebagai bukti cinta,  

sebagai harapan,  

sebagai jalan pulang.


Dzikir di Ujung Malam

Alhamdulillahi robbil 'alamin

aku bersyukur, bukan karena segalanya mudah,  

tapi karena dalam gelap pun,  

ada cahaya yang tak pernah padam.  


Alhamdulillahi 'ala kulli haal

dalam tawa yang lirih,  

dalam tangis yang tak sempat dijelaskan,  

dalam diam yang hanya Engkau pahami.  


Aku duduk di antara sajadah dan langit,  

membawa luka yang telah kupeluk,  

dan harapan yang tak pernah lelah mengetuk pintu-Mu.  


Malam ini, aku tidak meminta dunia,  

aku hanya ingin Engkau tetap dekat,  

menyentuh hatiku dengan kelembutan-Mu,  

menguatkan langkahku dengan ridha-Mu.  


Inna haza larizquna ma lahu min nafad 

Engkau beri tanpa batas,  

bahkan saat aku hanya mampu membawa air mata.  

Rezeki-Mu bukan hanya harta,  

tapi juga ketenangan,  

kesabaran,  

dan cinta yang tak pernah meninggalkan.  


Jumat pun datang seperti pelukan dari langit,  

mengusap lelah yang tak terlihat,  

menguatkan hati yang terus bertahan.  

Dan aku tahu,  

di antara bintang dan bisikan doa,  

Engkau mendengarku.


Ya Hanan, Ya Manan

Aku datang dengan hati yang lelah tapi penuh harap.  

Lembutkanlah hidupku dengan kasih-Mu yang tak bersyarat,  

dan cukupkanlah aku dengan pemberian-Mu yang tak pernah habis.


Jika ada pintu yang tertutup, bukakanlah.  

Jika ada jalan yang gelap, terangilah.  

Jika ada beban yang berat, ringankanlah dengan cinta-Mu.


Aku tak tahu dari mana datangnya pertolongan,  

tapi aku tahu, Engkau Maha Memberi sebelum aku sempat meminta.


Ya Hanan, peluklah hatiku.  

Ya Manan, limpahkanlah rezeki yang halal dan berkah.  

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.




Wa rozaqtahu min haytsu la yahtasib

Aku tak tahu dari mana datangnya, 

hanya tahu bahwa langit tak pernah lupa. 

Wa rozaqtahu min haytsu la yahtasib  

Rezeki itu bukan hanya angka, 

tapi pelukan saat rapuh,  

Doa yang tiba-tiba terjawab, 

dan pintu yang terbuka saat aku bahkan tak mengetuknya


Allahumma ya Fattah iftah li abwaba rizqika wa fadhlika

Ya Fattah, Bukakanlah  

Di malam yang sunyi,  

saat dunia terlelap dan langit bersujud,  

aku mengetuk pintu-Mu,  

dengan tasbeh putih di jemari yang gemetar.


Ya Fattah, wahai Pembuka segala yang tersembunyi,  

bukakanlah untukku  

pintu-pintu rezeki yang penuh berkah,  

pintu-pintu karunia yang tak terhitung,  

pintu-pintu ketenangan yang tak bisa dibeli.


Biarlah cahaya-Mu menyusup ke ruang hatiku,  

mengisi celah-celah luka dengan harapan,  

mengganti kekurangan dengan cukup,  

mengganti kehilangan dengan pelukan dari langit


Allahumma ya Fattah iftah li abwaba rizqika wa fadhlika


Hati yang Tak Ingin Melukai

Tuhan,  

aku tak ingin menjadi tajam di dunia yang sudah penuh luka.  

Ajari aku menjadi lembut,  

meski dunia sering menganggapnya lemah.


Ajari aku punya hati yang tak menyakiti,  

meski pernah disakiti tanpa kata maaf.  

Biar aku belajar dari luka,  

bukan untuk membalas,  

tapi untuk menjadi tempat orang lain bisa bercerita


Di dalam diamku,  

ada doa yang tak terucap:  

semoga setiap langkahku tak menginjak hati siapapun.  

Semoga setiap kata yang keluar,  

tak menjadi duri di jiwa yang sedang rapuh.


Aku ingin menjadi teduh,  

seperti bayangan pohon bagi yang lelah.  

Tak perlu dikenal,  

asal bisa jadi tempat pulang bagi yang kehilangan arah.


Karena aku tahu,  

hati yang tak menyakiti bukan karena tak pernah marah,  

tapi karena memilih kasih daripada kuasa  


Karena aku percaya,  

Tuhan lebih dekat pada mereka yang menjaga hati  

meski hatinya sendiri sedang belajar pulih


24 Tahun Bersama Roda

24 tahun,  

bukan sekadar angka.  

Tapi perjalanan panjang bersama roda  

yang tak pernah berhenti berputar,  

meski langkahku tak lagi sama.


Pernah,  

di satu titik gelap,  

aku bertanya dalam diam:  

Kalau bukan dosa,  

mungkin aku sudah menyerah.”


Tapi Allah,  

dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku.  

Lewat doa ibu,  

 lewat senyum orang asing,  

lewat pagi yang tetap datang meski aku tak memintanya.


Kursi ini bukan penjara.  

Ia adalah saksi.  

Dari air mata yang tak terlihat,  

dari sabar yang tak dipuji,  

dari doa yang tak bersuara.


Aku belajar,  

bahwa kekuatan bukan soal berdiri.  

Tapi soal bertahan,  

saat dunia tak tahu betapa beratnya duduk.


Dan kini,  

aku tak lagi malu.  

Karena roda ini bukan kelemahan.  

Ia adalah sayapku,  

yang membawaku terbang dengan cara yang berbeda.


24 tahun,  

aku masih di sini.  

Masih hidup.  

Masih belajar.  

Masih berdoa.  

Dan itu…  

sudah cukup untuk disebut kuat.

Aku pernah berada di titik gelap,  

di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.  

Tapi Allah, dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku untuk tetap di sini.  

  

24 tahun di kursi ini,  

bukan sebagai beban…  

tapi sebagai bukti bahwa aku masih bisa bertahan.



PROMO E-BOOK

 Bismillah

Promo📚🆕

📖E-Book “Langit di Dada”

Dukung karya perempuan disabilitas ini👩‍🦽🥰

🏷️Harga terjangkau — info selengkapnya di tabel harga.

🕌 Setiap pembelian bukan sekadar transaksi, tapi bentuk dukungan agar langkah kecil ini tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan.

📱Pemesanan via WhatsApp 0895351869458

E-book dikirim otomatis setelah konfirmasi transfer


“Karena menulis bukan sekadar hobi, tapi caraku berdialog dengan takdir dan menenun harapan di setiap halaman.”


Di balik laporan dan birokrasi, ada harap yang lirih

Di ruang ini, aku menata laporan dan harapan. Semoga Allah mudahkan, jangan persulit, dan sempurnakan dengan kebaikan.


AKU PERCAYA JALAN-MU

Aku melangkah mendekat pada-Mu,

meski jalan dunia terasa sempit,

sandaran pergi, rezeki pun layu,

namun hati ini tak lagi sempit.


Hari berganti dengan kabar berat,

hutang menunggu, harap tersendat,

namun di dada tumbuh cahaya hangat,

menyembuhkan luka tanpa syarat.


Tak lagi kubiarkan resah berkuasa,

tak lagi kutanya mengapa begini,

sebab keyakinan kian terasa,


Engkau selalu ada di sisi.

Di genggaman-Mu kutemukan damai,

jalan keluar pasti Kau sediakan,

lebih indah dari mimpi yang usai,

lebih luas dari hitungan beban.



Senyum Palsu

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.



“Senyum bisa menipu. Tapi intuisi jarang salah.”

Senyum itu manis,  

tapi tidak selalu tulus.  

Ada yang menyapa dengan cahaya,  

ada pula yang menyimpan bayangan di balik mata.


Tidak semua yang tersenyum padamu,  

mendoakanmu tetap utuh.  

Beberapa hanya ingin melihatmu retak,  

dengan wajah yang tetap ramah.


Jangan takut berjalan sendiri,  

yang tulus akan tetap tinggal tanpa perlu topeng.



Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.

Lagi sumpek?

Jangan scroll terus.

Sebelum subuh, bisikkan:

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin.

Kadang kita nggak butuh solusi…

Cuma pengakuan bahwa kita lelah.

Allah tahu. Allah dengar


KATA-KATA HARI INI (051025)

Menulis puisi menjadi cara sederhana untuk menuangkan rasa, doa, dan harapan dalam menghadapi kehidupan.




“Tak semua senyum itu doa. Kadang cuma topeng.”

Di dunia yang penuh sorot dan sapaan,  

aku belajar satu hal:  

senyum bukan selalu tanda cinta.  

Kadang, itu hanya formalitas.  

Kadang, itu hanya strategi.


Aku pernah percaya semua yang tersenyum padaku,  

adalah teman.  

Ternyata, beberapa hanya menunggu aku jatuh  

agar mereka bisa berkata, “Sudah kuduga.”


Tapi aku tak marah.  

Aku hanya lebih bijak sekarang.  

Dan lebih selektif pada siapa yang aku izinkan masuk ke dalam doa-doaku.



JASA PENGETIKAN + PRINT & FOTOKOPI

 Proposal | CV | Tugas | File penting lainnya

Capek ngetik? Tugas numpuk, tapi waktu mepet? Sibuk kerja, tapi file harus diketik rapi?

Tenang... Aku bantuin ✨

📌 Terima jasa pengetikan semua jenis file 

📌 Bisa sekalian print & fotokopi 

📌 Cocok buat yang mager, sibuk, atau dikejar deadline

Langsung chat aja ya Biar tugas beres, kamu tetap tenang 💆‍♀️ — 

Fast response | Rapi | Amanah


Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad

Bayangkan… Rasulullah ﷺ menatapmu.

Dengan cinta yang melebihi cinta siapa pun.

Tatapan yang tak menghakimi, hanya memeluk.

Sholawatmu… adalah panggilan rindu yang tak pernah sia-sia.


Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad


Aku merayu-Mu

Tangan ini gemetar, bukan karena lelah… 

tapi karena rindu yang tak bisa kutahan. 

Aku merayu-Mu, di antara butir-butir dzikir yang kusematkan dalam diam.