Tampilkan postingan dengan label LANGITDADA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LANGITDADA. Tampilkan semua postingan

Kertas-kertas pun tahu rasanya rindu

Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,

tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.

Laptop menyala dalam sunyi,

mencatat rindu yang tak selesai-selesai.


Ada piagam, ada piala,

Kacamata tergeletak, diam saja,

tapi pernah melihat segalanya:

dari tawa yang hangat,

hingga tangis yang dipeluk malam.


Kertas-kertas itu,

seolah mengerti isi hati

mereka terbang ringan,

menuju namamu yang kusimpan rapi

di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.


Dan saat angin menyapa,

ia tak hanya membawa udara,

tapi juga pesan rindu…

yang perlahan terbang ke arahmu.


PADATNYA SUNYI

Semakin sunyi seseorang,  

semakin ramai dunia yang ia bawa ke dalam dada.  

Bukan karena ia tak ingin bersuara,  

tetapi karena di balik diamnya,  

ada gugusan rencana,  

pikiran yang saling berdesakan,  

dan cita-cita yang belum sempat dirumuskan.


Langkahnya tenang,  

namun kepalanya riuh oleh tanya, oleh harapan yang ingin disusun,  

seperti langit senja yang tampak diam,  

padahal sedang menyimpan peralihan dari terang ke gelap.


Mereka yang sunyi bukan kosong,  

mereka penuh, oleh dunia yang tak semua orang bisa lihat,  

tapi Alloh tahu,  

dan di sanalah makna tinggal dalam senyap.




SEPERTI SENYUM YANG MENULAR

Seperti senyum, yang menular,  

ia berjalan dari wajah ke wajah,  

dengan langkah pelan tapi pasti,  

membawa terang pada hari yang biasa.


Kalau kau tersenyum hari ini,  

maka hatiku pun ikut bernyanyi,  

karena dalam senyummu ada aku,  

yang menemukan makna sederhana dari bahagia itu.


Tak perlu kata, tak perlu sapa,  

cukup lengkung kecil di bibirmu saja

maka dunia terasa lebih ramah,  

dan aku, tak lagi sendiri di dalamnya.


Rindu yang Turun Bersama Matahari

Pagi belum sepenuhnya bangun,

Tapi rinduku sudah duduk di sisi jendela.

Menyeruput hangat matahari,

Sambil membayangkan senyummu yang jauh di sana.


Angin pelan menyapu tirai,

seolah menyampaikan bisik:

“Dia juga merindukanmu, tenanglah.”


Tak ada yang lebih romantis

Dari pagi yang dibuka dengan doa untukmu.

Walau tak bersua,

Kita tetap satu arah:

Menuju hari yang penuh cinta, meski dari jarak


Kita Memandang Langit yang Sama

 Di malam yang diam,

Aku mencari wajahmu dalam cahaya bulan

Dan kusampaikan salam lewat bintang-bintang

Yang berpendar, menjadi saksi betapa rindu ini tak pernah redup.


Jarak memang membuat langkahmu tak terlihat,

Tapi doaku sudah lama lebih dulu sampai.

Sujud demi sujud, kusebut namamu

Dalam diam yang hanya Allah dengar.


Sebab cinta yang benar tak selalu bicara,

Tapi ia mendoakan.

Dan rindu yang suci

adalah yang tak memaksa, Hanya menunggu dalam sabar

Dan menyandarkan hatinya kepada Rabb yang Maha Membolak-balikkan rasa.


Jika kau tahu betapa sunyinya malam tanpa kabar,

Ketahuilah, ada zikir yang menyelipkan namamu,

Ada air mata yang jatuh,

bukan karena lemah,

Tapi karena berharap Allah menyatukan

Dua jiwa yang sama-sama memilih-Nya.


Malam ini aku menatap langit yang sama,

Seperti yang kau pandangi di tempatmu.

Di sanalah kita bertemu,

Dalam harap, dalam iman,

Dalam cinta yang tak pernah sendirian

Karena Allah selalu jadi perantara rindu 


BUKAN SEKEDAR USIA

 Dewasa bukan soal angka,

Bukan soal lilin yang makin Banyak di kue ulang tahun.

Ia tumbuh dari luka yang tak diumbar,

Dan pelajaran hidup yang tak selalu manis.


Ilmu bukan sekadar bacaan,

Tapi bagaimana ia meresap dalam sikap.

Pemahaman hadir bukan dalam teriak,

Tapi dalam diam yang memilih bijak.


Ada yang muda tapi sudah matang,

Ada yang tua namun masih belajar menimbang.

Karena hidup tak menunggu umur,

Tapi mengajarkan lewat setiap tikungan.


Dan mereka yang tahu kapan bicara,

Kapan diam,

itulah yang dewasa—sebenar-benarnya.


SELAMAT PAGI, LDR-KU

Selamat pagi, kamu yang Allah titipkan di kejauhan,

yang tak bisa kupeluk dengan tangan,

karena meski tak bisa saling genggam,

tapi selalu kutitipkan dalam setiap sujudku yang diam-diam.


Selamat pagi, kamu yang jauh tapi terasa dekat,

yang namanya kusebut, bahkan sebelum teh pertama tuntas kuteguk.

Jarak boleh sejauh awan dan laut,

tapi rinduku selalu tahu jalan pulang ke hatimu.


Jaga kesehatanmu.. itu juga bagian dari syukurku

Jaga dirimu, karena kamu berharga bukan hanya untukku,

tapi juga untuk tujuan besar yang Allah siapkan.

untuk keluarga dan masa depan

.

Dan jaga hatimu…

agar ia tetap suci,

agar cinta ini tetap berada di jalan yang Allah ridai,

karena aku tak hanya ingin bersamamu di dunia,

tapi juga di akhirat nanti.


JIKA PUISIKU HILANG

Di puisiku,

kau akan temukan air mata dan senyuman

menempel pada kaca yang sama

berembun oleh rasa,

bergetar oleh kenangan yang belum reda.


Satu sisi menyimpan luka

yang tak pernah berteriak.

Satu sisi memantulkan cahaya

yang tetap tersenyum,

meski hati belum utuh sepenuhnya.


Jika suatu hari puisiku hilang,

jangan panik,

jangan mencari-carinya di antara kertas yang berserakan.

Temukan aku

dalam suara hening

yang hanya bisa didengar oleh hati yang pernah mengenal sunyi.


Di sana,

aku akan tetap bercerita

tanpa huruf,

tanpa suara,

hanya lewat getar

yang kau rasakan saat menyebut namaku dalam doa.





PERTEMUAN YANG MEMBEKAS (aku tulis untuk sang leader CAA)

Bukan sekadar nama yang Kudengar dari layar,

Tapi jejak langkah yang menggerakkan banyak hati,

Tentang perjuangan, tentang kepedulian,

Yang tak pernah lelah meski harus menembus sunyi.


Hari ini, aku menatap sosok itu nyata,

Dengan mata berkaca, dada penuh haru,

Langkah kecilku tiba di samping orang besar,

Yang tetap sederhana dalam kebaikan yang tak pernah semu.


Terima kasih telah menjadi cahaya,

Bukan hanya di jalan mereka yang membutuhkan,

Tapi juga bagi kami yang sedang belajar mencintai sesama

Dengan cara paling tulus—tanpa banyak suara.


Cak Bolang Sang Explore 

Semoga Alloh jaga setiap langkahmu,

Dan kami di belakangmu…

Akan terus belajar untuk mengikuti jejak kebaikanmu.


SELAMAT PAGI SEMESTAKU

Selamat pagi, semestaku tersayang,

Yang kutitipkan rindu pada desir embun tenang.

Langitmu masih biru, walau hatiku kelabu,

Namun di sinimu, selalu ada ruang rindu yang syahdu.


Kupeluk pagi dengan mata setengah terbuka,

Menyusuri napasmu lewat sinar mentari yang pertama.

Kau ajari aku arti sabar dalam hembusan angin,

Dan tentang cinta yang tak pernah memilih untuk pergi.


Semestaku,

Kau bukan sekadar ruang tanpa suara,

Kau adalah tempat doaku berlabuh,

Saat kata tak cukup, dan dunia terasa lusuh.


Selamat pagi,

Untuk segala harap yang berani tumbuh lagi.

Untuk cinta yang diam-diam memeluk hati,

Dan semesta… yang tak lelah menuntunku kembali


LANGKAH YANG TERTUNDA

Di ujung senja ia berdiri,  

perempuan berhijab, menggenggam sunyi.  

Jalan di hadapannya berhiaskan cahaya lembut,  

tapi hatinya masih menimbang: siapa yang akan tinggal, siapa yang akan ikut.


Ia tahu arah

arah ke cahaya, ke cita-cita, ke ikhlas yang belum sepenuhnya tuntas.  

Tapi keberanian bukan hanya tahu,  

ia adalah doa yang digenggam erat dalam dada yang ragu.


Angin membelai jilbabnya pelan,  

seakan berkata: “tak apa jika belum sekarang.”  

Dan di langit senja yang mulai ungu,  

seekor burung melintas pelan, menjadi tanda…  

bahwa langkah itu akan datang, dengan izin-Nya.


YANG TAHU ARAH, BELUM TENTU BERANI MELANGKAH

Tak semua yang tahu arah

siap menantang gelapnya langkah.

Ada yang menyimpan peta dalam dada,

Namun tak pernah berani membuka gerbang pertama.


Karena tahu bukan berarti siap,

Dan sadar bukan berarti sanggup.

Kadang ada keraguan yang tertanam dalam,

Pengalaman hidup yang membuat hati jadi diam.


Berapa banyak jiwa yang menunggu,

Bukan karena tak tahu ke mana melaju,

Tapi karena takut meninggalkan zona semu

yang lama-lama mengurung jiwa dan waktu.


Padahal…

Arah hanyalah janji,

 Langkahlah bukti sejati.

Tanpa keberanian untuk mulai,

Takkan pernah sampai ke cahaya yang dituju.


Beranilah…

Meski gemetar,

Meski sendiri.

Karena yang benar-benar hidup

Adalah mereka yang memilih melangkah,

Bukan hanya mereka yang tahu arah.


24 JAM SERASA TAK CUKUP

Di balik senyum yang tetap terukir,  

ada tumpukan tugas yang tak kunjung berakhir.  

Laptop menyala, printer berdetak,  

telepon berdering, semua serba mendesak.  


Jam digital terus berlari,  

mengejar mimpi yang belum sempat ditulis lagi.  

Di kepala, suara-suara ingin berhenti,  

tapi hati tetap berbisik: "Bismillah, aku bisa hari ini."  


Meski waktu serasa tak cukup,  

aku tetap hadir, meski rapuh.  

Karena aku bukan sekadar sibuk,  

aku sedang bertumbuh


TOPENG TAWA

 Kamu tahu nggak…

Orang yang paling cerewet,

paling ramai dengan canda,

yang tampak paling kuat di mata dunia—

bisa jadi menyimpan luka

yang tak pernah sempat dicerita.


Depresi tak selalu berwajah murung,

kadang ia datang dengan senyum paling terang,

dengan tawa yang menggema,

yang ternyata hanya topeng semata.


Di balik candanya,

ada sunyi yang menggigit.

Di balik tawanya,

ada air mata yang sengit.


Jangan remehkan senyum orang lain,

karena bisa jadi,

itulah cara mereka bertahan hari demi hari


UJUG UJUG MELINTAS

Terkadang,  

tanpa aba-aba,  

aku tersenyum lirih,  

di tengah sepi yang bersandar di bahuku sendiri.  


Hanya karena wajahmu

datang,  

melintas pelan di kepala,  

seolah langit sore menitipkan bayangmu lewat angin.  


Efek rindu, mungkin.  

Atau doaku yang menjelma menjadi kenangan  

lalu singgah tanpa permisi—  

membuat dadaku hangat,  

meski kau tak di sin


DALAM DOA, AKU MENEMUKANMU

Setiap hari,  

aku belajar memelukmu dalam doa—  

bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat  

di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.


Aku belajar,  

bahwa rindu tak selalu perlu reda,  

cukup ia kuat… agar tak patah.


Dan anehnya,  

dalam gelombang jarak yang sunyi,  

aku tetap bersyukur.


Karena dari jutaan kemungkinan,  

Tuhan memilihkan kamu—  

penenang yang tak bersuara,  

tapi mampu meredakan ributku,  

meski hanya dari kejauhan


BIAR ALLAH YANG MENYEMPURNAKAN

 Fokuskan hatimu dalam sujud yang jujur,  

di tiap lirih doa sebelum fajar beranjak.  

Ibadahmu—itulah penjagaanmu  

saat dunia gemuruh, Allah tetap dekat.


Berikan dengan lapang dari apa yang kamu bisa,  

walau hanya senyum atau secarik doa.  

Karena sedekahmu tak pernah sia-sia,  

meski manusia tak menyapa.


Usahamu mencari rezeki—cukupkan itu dengan ikhtiar,  

tak perlu memaksakan yang bukan takdirmu.  

Karena rezeki datang seperti hujan:  

tak selalu terlihat awalnya,  

tapi cukupkan tanah yang bersabar menunggu.


Dan semua hal yang membuatmu risau,  

biarkan Allah yang menyempurnakan,  

dengan kasih-Nya yang tak pernah absen,  

dan janji-Nya yang tak pernah lalai.


LELAKI YANG TAK PERNAH BERCERITA

Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,  

Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.  

Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,  

Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.


Lelaki itu...  

Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,  

Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.  

Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,

Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah  

yang mungkin belum lunas,  

Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.


Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.  

Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.  

Tapi setiap detik ia berjalan,  

ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:  

Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja


WELAS ASIH

Welas asih...  

bukan sekadar simpati yang singgah di permukaan,  

ia adalah pelukan yang diam-diam menyembuhkan,  

perasaan yang memahami sebelum dijelaskan,  

yang memilih untuk mengerti, bukan menghakimi.


Ia adalah cahaya

bukan hanya menerangi,  

tapi juga menghangatkan langkah jiwa yang tersesat.  

Sumber energi yang tak terlihat,  

namun mampu mengubah dunia yang terasa keras.


Welas asih adalah rasa…  

yang ketika dicubit sakit, memilih untuk tidak mencubit,  

yang ketika dilukai, tetap memberi ruang untuk damai.  

Karena ia tahu,  

kebaikan tidak tumbuh dari dendam,  

tapi dari keberanian untuk mencintai setulus hati




Semoga Allah berkahi Jumatku, dan Jumatmu

Dalam sunyi subuh yang berbisik lembut,  

kutitipkan harap di sela doa yang khusyuk.  

Agar setiap detak langkah kita hari ini,  

berjalan di bawah naungan ridha Ilahi.


Semoga Jumatku, dan Jumatmu,  

menjadi taman amal yang harum mewangi,  

dari salam hangat pada sesama,  

hingga bisikan syukur dalam hati yang tak henti.


Jika harimu lelah, semoga damai-Nya memeluk,  

jika harimu tenang, semoga syukurmu tak putus.  

Untukmu yang jauh namun dekat dalam doa,  

semoga berkah-Nya melimpah seluas samudra.