Setiap hari,
aku belajar memelukmu dalam doa—
bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat
di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.
Aku belajar,
bahwa rindu tak selalu perlu reda,
cukup ia kuat… agar tak patah.
Dan anehnya,
dalam gelombang jarak yang sunyi,
aku tetap bersyukur.
Karena dari jutaan kemungkinan,
Tuhan memilihkan kamu—
penenang yang tak bersuara,
tapi mampu meredakan ributku,
meski hanya dari kejauhan
