Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,
tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.
Laptop menyala dalam sunyi,
mencatat rindu yang tak selesai-selesai.
Ada piagam, ada piala,
Kacamata tergeletak, diam saja,
tapi pernah melihat segalanya:
dari tawa yang hangat,
hingga tangis yang dipeluk malam.
Kertas-kertas itu,
seolah mengerti isi hati
mereka terbang ringan,
menuju namamu yang kusimpan rapi
di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.
Dan saat angin menyapa,
ia tak hanya membawa udara,
tapi juga pesan rindu…
yang perlahan terbang ke arahmu.
