SELAMAT DATANG JUNI

Selamat datang, Juni yang manis,

Langkahmu lembut, membawa kisah baru yang realistis.

Setelah hujan di bulan lalu reda,

Kini harapan tumbuh, menjulang ke udara.


Juni, engkau bagai senyum pagi,

Hangat menyentuh hati yang sempat letih berdiri.

Bersamamu, kami belajar lagi,

Tentang sabar, syukur, dan berani menapaki.


Mentari lebih lama bersinar,

Langit cerah, semangat pun mengalir deras tak gentar.

Bulan keenam—tanda pertengahan jalan,

Tapi langkah kami tak akan perlahan.


Juni, tuntun kami dalam doa-doa,

Dalam usaha yang tak pernah sia-sia.

Biar sedikit, asal terus melaju,

Menuju kebaikan, menuju restu.


Selamat datang, Juni penuh harapan,

Mari menulis cerita yang penuh kebaikan.

Dengan cinta, doa, dan hati yang bersih,

Insyaa Alloh, segalanya terasa lebih indah dan berseri. 




AKU DAN JALANKU

Aku,  

penulis yang merangkai harapan dalam kata,  

relawan yang menebar kasih pada mereka yang butuh pelukan dunia,  

affiliate yang membangun langkah dengan usaha dan kreativitas,  

dan pencinta yang tak pernah ragu.  


Di antara langkah-langkahku,  

ada jejak doa yang kutitipkan,  

ada hati yang ingin memberi,  

ada impian yang kian tumbuh,  

dan ada dirimu, yang tak pernah luput dari ingatan


BUKAN CINTA MANUSIA BIASA

 Ini bukan sekadar rindu yang menepi  

Bukan hati yang mengemis temu  

Ini cinta yang tak terikat waktu  

Mengalir dalam doa, bertaut di langit biru  


Tak hanya lirih dalam senandung  

Tak hanya terucap dalam syair  

Ia menelusup ke dasar jiwa  

Menjadi cahaya yang tak pernah berakhir


Cinta ini suci, tak mengenal batas  

Mengalun bagai irama

Menghidupi arti yang lebih luas  

Bukan cinta manusia biasa




DALAM RENGKUH KEKURANGAN

Tak perlu mengejar sempurna,  

Sebab cahaya tak selalu datang dari bintang.  

Kadang ia lahir dari retakan,  

Mengalir lembut di sela-sela luka.  


Ada indah dalam yang tak utuh,  

Serupa daun yang berlubang diterpa angin,  

Tetap berbisik pada langit,  

Tentang hidup yang tak harus tanpa cela.  


Jangan takut pada goresan waktu,  

Di sanalah kisah bertumbuh.  

Biarkan kekurangan merangkul,  

Sebab dalam rengkuhannya, keindahan menemukan ruangnya








CAHAYA DALAM GELAP

Jangan bersinar di tempat yang terang,  

di sana, gemerlap sudah berlimpah,  

mata yang memandang tak akan bertanya,  

siapa kau, cahaya kecil yang bercahaya?  


Namun di gelap, meski redup sinarmu,  

kau adalah harapan yang tak tergantikan,  

seberkas lembut, secercah tenang,  

keindahanmu hadir dalam kesunyian.  


Tak perlu menjadi bintang di langit yang ramai,  

cukup jadi lentera di malam yang sepi,  

sebab dalam gulita yang menelan dunia,  

cahayamu adalah arti,  

adalah keindahan,  

adalah hidup bagi yang mencari.


TUMPAHKAN PADA-NYA

Jangan tumpahkan segalanya pada manusia,

Karena pandangan mereka sebatas mata,

Hanya mampu menilai dari rupa,

Tak selalu paham luka yang tersembunyi di dada.


Mereka terbatas dalam mengerti,

Hanya menebak dari yang mereka lihat dan dengar,

Sedang hatimu,

adalah samudera yang dalam,

tak terselami oleh sekadar nalar.


Tumpahkanlah segalanya kepada Allah,

Dzat yang tak pernah alpa memahami,

Yang tahu tiap desah napas dalam diam,

Yang mendengar bisik doa, meski hanya di hati.


Dia Maha Mengetahui apa yang tak terucap,

Maha Bijaksana dalam tiap keputusan yang ditetapkan,

Maha Berkehendak atas tiap takdir yang dijalankan—

tak pernah keliru, tak pernah terlambat datang.


Maka tenanglah, wahai jiwa yang resah,

Tak perlu semua orang mengerti,

Cukup Allah yang tahu dan menguatkan,

Di situlah letak ketenangan sejati.


PESAN LEMBUT UNTUK JIWA

Wajahmu akan berubah, seiring waktu berlalu,

Keriput singgah pelan, tanpa bisa ditolak atau disuruh.

Tubuhmu juga akan berubah, melemah dalam diam,

Tak sekuat dulu saat langkahmu ringan menantang malam.


Namun jangan risau pada bayang yang memudar,

Sebab cahaya sejati tak tinggal di cermin yang retak.

Satu-satunya keindahan yang tak akan pudar,

Adalah kebaikan yang tertanam dalam hatimu yang lembut dan bijak.


Ia tumbuh dalam diam, tapi mengakar kuat,

Melewati waktu, musim, dan segala warna hayat.

Bukan hiasan fana yang dipuja mata,

Tapi keindahan abadi—yang dikenang jiwa-jiwa.


NIKMAT PAGI YANG TAK TERBELI



Uang bisa membeli kasur empuk dan lampu temaram,

Obat tidur dan suasana yang nyaman.

Tapi ia tak mampu membeli rasa tenang,

Apalagi jaminan untuk bisa terbangun esok pagi.


Ada yang malamnya panjang dalam derita,

Berharap pagi membawa cahaya.

Namun tak semua diberi kesempatan kedua—

Untuk membuka mata dan melihat dunia.


Maka jika pagi ini kita terbangun,

Tanpa alarm, tanpa sentuhan,

Hanya karena kasih Tuhan

Yang meniupkan hidup ke dalam tubuh yang lelah

Bersyukurlah bukan hanya karena nyawa masih ada,

Tapi karena itu tanda:

Masih ada tugas, masih ada makna,

Masih ada cinta Tuhan yang belum selesai untuk kita.


Karena bangun pagi bukan sekadar rutinitas,

Tapi anugerah yang tak semua orang dapat wariskan.

Jangan anggap biasa,

Sebab detik itu bisa jadi bekal surga—atau ujian yang meminta jawabannya.




DALAM RINDU YANG SIBUK

Di antara jadwal yang padat,  

di sela kerja yang tiada henti,  

kita saling mencari,  

tanpa pernah lelah merindui.  


Waktu berlari, tugas menumpuk,  

namun di hatiku, kau tak pernah tergerus,  

cinta kita bukan sekadar temu,  

tapi kepercayaan yang tumbuh tanpa ragu.  


Aku tahu kau sibuk,  

kau tahu aku pun tak selalu luang,  

tapi kita mengerti, kita percaya,  

bahwa kasih tak diukur dari berapa sering berjumpa.  


Dan saat dunia memberi jeda,  

saat tatap kita akhirnya menyatu,  

segala rindu tak lagi terucap,  

hanya terserap dalam dekap.  


Kita adalah bukti,  

bahwa cinta tak perlu selalu hadir,  

cukup mengisi ruang hati,  

dengan percaya yang tak pernah pudar


Dari Pelukan Kecil, Kini Mereka Berlari

Dulu...

Kami menyambut mereka dalam pelukan kecil

Tangis tanpa ayah, senyum yang tetap kuat walau kehilangan arah.

Satu per satu kami datangi, bukan sekadar memberi,

tapi mendengarkan... merangkul... menemani tumbuhnya harapan.


Hari ini, mereka berlari kecil ke sekolah

dengan seragam yang dulu hanya mimpi,

dengan tawa yang kini tak lagi diselimuti sepi.

Mereka tumbuh... dan kami menjadi saksi

bahwa kasih yang tulus tak pernah sia-sia.


Ada rindu di dada ini

rindu mengetuk pintu rumah mereka,

rindu cerita polos dan peluk hangat dari anak-anak luar biasa.

Semoga kelak, langkah kaki kami kembali diberi daya,

untuk menjemput senyum mereka satu per satu...

dalam kasih yang tak pernah padam.


Untuk anak-anak binaan tercinta, dari LKSA Peduli Sahabat Batang


DEKAPAN ALAM

Berbisik tanpa ucap,

angin menitipkan rindu yang tak sempat tersampaikan.

Merawat luka tanpa tanya,

hujan diam-diam membersihkan jejak duka yang tertinggal.


Menjadi obat tanpa resep,

mentari menyusup lembut ke relung jiwa yang rapuh.

Dan memeluk tanpa lengan,

senja menggenggam sepi tanpa perlu banyak kata.


Biarkan hatimu pulih,

dalam dekapan alam yang tak pernah menuntut,

hanya menerima dan menyembuhkan dalam diam.




Selamat Datang, Bulan Dzulhijjah

Dalam jejak waktu yang perlahan tiba,  

Dzulhijjah mengetuk pintu jiwa,  

membawa hembusan doa di udara,  

menyapa hati yang rindu surga.  


Langkah-langkah suci mengarah ke tanah suci,  

dalam takbir yang menggema, penuh cahaya ilahi.  

Tak ada hamba yang terlalu kecil,  

bagi kasih Allah yang selalu hadir.  


Bulan ini bukan sekadar pergantian,  

tetapi panggilan bagi keikhlasan.  

Di setiap helai malam yang hening,  

tersimpan rahmat yang begitu bening.  


Bagi yang berkorban, semoga diterima,  

bagi yang berdoa, semoga dikabulkan.  

Bagi yang berharap, semoga dipeluk cahaya,  

dalam ridha-Nya yang tak berkesudahan.  


Selamat datang, wahai bulan mulia,  

tempat hati berteduh dalam makna.  

Semoga setiap harinya menjadi keberkahan,  

yang kita genggam dengan penuh ketulusan


Mari Menjadi Bagian dari Perubahan Hidup Seorang Anak yatim piatu

Dik Ririn, anak yatim piatu yang tinggal di rumah tak layak huni,

akan segera memiliki tempat tinggal yang lebih layak melalui misi sosial Tim CAA.

Kami mengetuk hati sahabat semua,

untuk ikut bergandengan tangan,

membangun harapan,

menghadirkan kenyamanan.


Satu keping donasi darimu,

adalah batu bata bagi rumah masa depannya.

Setiap rupiah yang kau beri,

bisa jadi saksi kebaikan yang tak pernah mati.


Bersama Tim CAA,

kita wujudkan rumah penuh cinta untuk Dik Ririn.

Bismillah, semoga menjadi amal jariyah tak terputus


CERMIN HATI

Orang yang hatinya jernih,

melihat sesama seperti taman yang bersih.

Ia temukan bunga di tiap pandang,

melihat kebaikan, walau kecil dan jarang.


Ia tak sibuk mencari cela,

karena hatinya penuh cahaya.

Yang dilihatnya adalah niat dan usaha,

bukan luka atau noda lama.


Tapi hati yang keruh dan gelisah,

selalu mencari celah di wajah-wajah lelah.

Ia lupa bahwa tiap jiwa pun sedang berjuang,

dan setiap manusia sedang belajar menenang.


Maka bila kau menatap dunia,

dan yang terlihat adalah cinta...

Bersyukurlah—itu pertanda

hatimu masih punya cahaya.



JEJAK MENUJU REDHO-NYA

Mereka berjalan tanpa pamrih,  

Menata rumah bagi jiwa yang sunyi,  

Di tangan mereka, harapan terlahir,  

Di langkah mereka, kasih bersemi.  


Bukan harta yang mereka kejar,  

Bukan sanjungan yang mereka harapkan,  

Hanya ridha Allah yang mereka cari,  

Hanya keberkahan yang mereka nanti.  


Di mata anak-anak yatim yang bersinar,  

Ada rahmat yang turun dari langit,  

Bukan sekadar bangunan yang mereka dirikan,  

Tapi perlindungan yang dititipkan.  


Tak ada upah tertulis di dunia,  

Namun ada pahala yang tak terhitung,  

Setiap bata yang mereka letakkan,  

Mengukir pahala yang tak terhitung


Teruslah berjuang, wahai para pembawa cahaya,  

Jangan lelah dalam memberi,  

Karena yang kau bangun bukan hanya rumah,  

Tapi doa yang mengalir hingga akhir nanti.  


Ana

CAALovers


JANGAN JADI ILALANG

Jika tak mampu menjadi padi,

yang merunduk dalam rendah hati,

janganlah jadi ilalang tinggi,

yang sombong namun tak berarti.


Bila tak sanggup memberi terang,

seperti mentari yang cemerlang,

cukup jangan menebar bayang,

yang mengaburkan arah dan pandang.


Jika belum mampu jadi manfaat,

setulus embun yang turun hangat,

cukup berusahalah, sepenuh niat,

untuk tak jadi beban atau mudarat.


Karena hidup bukan soal jadi besar,

tapi bagaimana kita tak menyebar gusar.

Tak perlu jadi cahaya terang,

asal tak menambah gelap yang datang




MENULIS DI TEPI SENJA

Kubuka buku catatan,

Halaman kosong menanti cerita,

Tinta pena menari pelan,

Sambil angin pantai menyisir jiwa.


Ombak tak pernah lelah bercerita,

Aku dengarkan, kuresapi maknanya,

Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,

Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.


Dia duduk tak jauh dariku,

Membiarkanku larut dalam imajinasi,

Tak mengganggu, tak bertanya,

Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.

Kupilih duduk lama biar pikiran reda

Biar aku dan dia menyatu dalam senja


Senja memudar di ujung cakrawala,

Aku masih menulis,

Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,

Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis



SAMBUTAN & DOA UNTUK TIM CAA

"Allahumma yassir walaa tu’assir"

Ya Allah, mudahkanlah, jangan Engkau persulit..."


Dalam langkah penuh berkah kalian datang,

Membawa cahaya harapan di tengah keterbatasan,

Tak sekadar kamera atau konten jalan,

Namun hati yang peduli, yang tak semua orang bisa tunjukkan.


Adik kecil kami, Ririn namanya,

Sejak dini menapaki hidup tanpa pelukan ibu 

Tanpa teduhnya naungan seorang ayah,

Namun Allah tak pernah pergi…

Ia kirimkan kalian 

Sebagai perpanjangan tangan kasih-Nya.


Hari ini bukan sekadar survey,

Ini adalah momen dituliskannya cerita baru,

Tentang rumah yang mungkin akan dibangun,

Tentang hidup yang semoga kembali punya ruang untuk tumbuh dan berlindung.


Kami berdoa…

Semoga langkah kalian ringan dan diberkahi,

Dipenuhi kemudahan dari awal hingga akhir,

Dilindungi dari segala hal yang memberatkan hati dan pikiran.

Diberi balasan terbaik oleh Allah, dunia dan akhirat,

Dan semoga setiap konten yang dihasilkan,

Menjadi jalan dakwah dan jembatan rezeki yang tak terputuskan.


Aamiin Ya Mujibassailiin.

Terima kasih telah peduli.

Selamat datang, pejuang kebaikan sejati 


Ana

24052025


DALAM DIAM YANG MENGUATKAN

Tak selalu suara yang lantang

yang paling menggetarkan

kadang ada hati,

yang memberi tanpa banyak tanya

menyapa tanpa perlu hadirkan nama


Langkahku mungkin goyah

tapi ada jejak yang diam-diam menopang

tak banyak kata,

tapi hangatnya terasa

seperti pelukan,

yang datang tanpa disadari

namun menyelamatkan


Terima kasih,

untuk diam yang tak pernah pamrih

untuk hadir, meski tanpa sorot cahaya

Kau tahu caranya jadi cahaya

tanpa membuat mata silau


Semoga kebaikanmu

menemukan jalan pulang

ke hatimu sendiri

dalam bentuk yang lebih indah

dari apa pun yang pernah kau beri


Bisikan Langit

Dalam sunyi itu,

ketika dunia menepi dan waktu seakan membeku,

ada bisikan lirih menyusup ke ruang hati—

bukan dari bumi, tapi dari langit yang abadi.


"Aku di sini..."

suara itu tak lantang, tapi dalam,

mengalir lembut seperti angin malam

yang menyentuh luka tanpa mengusik perihnya.

Aku tidak pernah pergi.

seolah menjahit retak di dada,

menghapus tanya-tanya yang lama mengendap,

tentang kehadiran yang tak terlihat,

namun nyata dalam setiap detak.


Malam pun menjadi saksi,

sholawat mengalun menembus langit tinggi,

dan jiwa yang sempat letih kini mengerti—

bahwa cinta-Nya tak pernah henti.


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat."

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.

(QS. Al-Baqarah: 186)


Hujan Pagi, Semangat Lagi

Turun perlahan dari langit tinggi,

hujan menyapa bumi dengan kasih yang sunyi.

Tak sekadar basahi daun dan tanah,

tapi juga hati yang kadang lelah.


Pagi ini bukan tanda redupnya hari,

melainkan berkah yang jatuh tanpa henti.

Langit mungkin mendung,

tapi semangat tak boleh ikut murung.


Mari bergerak dengan hati yang hangat,

walau hujan deras, semangat tetap kuat.

Sebab seperti hujan yang terus turun,

kita pun tak boleh berhenti melangkah meski perlahan dan sunyi


RINDU YANG TAK BISA DIAM

(Kutulis untuk anak2 LKSA Peduli Sahabat Batang)


Hari-hari berlalu dalam kesibukan,

tapi di sela itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh dalam diam.

Rindu senyum-senyum polos penuh harapan,

rindu tawa kecil yang tulus, tanpa beban.


Mereka bukan sekadar anak binaan,

mereka bagian dari doa yang kusebutkan setiap malam.

Setiap nama, setiap wajah,

tersimpan rapi di ruang hati yang tak pernah lelah.


Andai bisa kugenggam waktu,

ingin sekali datang dan memeluk satu-satu.

Bercerita, mendengar, dan menyeka duka,

walau hanya dengan tatapan hangat seadanya.


Ya Robb.. sampaikan rinduku lewat angin,

biar mereka tahu:

di manapun aku berada…

mereka tak pernah jauh dari doa.



AKU MASIH ADA

Aku tidak setenang langit pagi,

tapi aku belajar menenangkan badai dalam diri.

Bukan karena hidupku mudah,

tapi karena aku tahu—

marah tak bisa mengubah arah,

dan sedih tak bisa membayar mimpi.


Tubuhku terbatas,

tapi jiwaku luas.

Aku tak bisa berlari mengejar dunia,

maka kugenggam dunia dari tempatku berada.

Dengan jemari yang tak lelah berjuang,

kupilih jalan sunyi:

mengetik, berjualan, mencipta harapan,


Aku masih di sini.

Masih menyapa dunia dengan senyum,

Masih mencoba bertahan,

bukan karena tak lelah,

tapi karena aku percaya:

Tuhan melihat semua yang tak terlihat orang lain.


Dan jika hari ini hanya bisa kulalui dengan setengah tenaga,

maka akan kuberikan setengah itu dengan sepenuh hati.

Karena aku bukan ingin dikasihani,

aku hanya ingin dimengerti,

bahwa perjuanganku nyata,

meski tak selalu terdengar suara.


Aku masih ada.

Masih melangkah dalam diam,

masih menyalakan semangat dari dalam.

Karena hidup bukan tentang sempurna,

tapi tentang bagaimana kita memilih

untuk tetap hidup dengan makna



JALAN PULANG

 Seseorang yang telah ditakdirkan,

tak akan hilang meski terpisah angin dan waktu.

Ia akan menapak sepi, menembus sunyi,

mencari jejak yang pernah ia tinggalkan di hatimu.


Tak perlu kau teriak,

tak perlu kau cari dalam ribuan arah.

Ia tahu, meski diam-diam,

ke mana arah pulang yang paling sunyi namun pasti—kepadamu.


Karena takdir bukan tentang seberapa lama kau menunggu,

tapi tentang seberapa yakin langkahnya menuju

tempat di mana hatinya terasa utuh:

dalam dekapan namamu


LANGIT DI DADA

Aku tidak berjalan seperti mereka,

tidak pula melangkah dengan bebas ke mana saja.

Tapi aku punya dunia,

yang tak terlihat mata,

yang tumbuh diam-diam di dada—

namanya harapan, bentuknya langit.


Langit itu luas,

seperti sabar yang terus aku peluk,

seperti rindu yang tak pernah aku tolak,

seperti mimpi yang kutenun dari titik-titik nyeri

menjadi cahaya kecil yang tak pernah padam.


Aku pernah terjatuh di sunyi,

di tempat di mana suara tak menyapa

dan dunia seperti lupa.

Tapi langit di dadaku tak pernah pergi,

ia tinggal, ia menunggu,

ia menjadi saksi bahwa aku tetap hidup.


Tangan ini menari di atas layar,

bukan untuk mengeluh—

melainkan untuk berkarya.

Kursi ini tak mengurungku,

ia malah jadi perahu,

mengantar aku ke tepian mimpi yang kupahat sendiri.


Aku bersyukur.

Untuk mereka yang hadir saat gelap,

untuk secangkir semangat dari sahabat,

untuk peluk yang tak selalu berbentuk tangan,

tapi selalu sampai ke hati.


Dan aku bermimpi.

Bukan untuk jadi besar,

tapi untuk terus berarti.

Untuk jadi suara dalam senyap,

untuk jadi bukti bahwa cinta dan tekad

bisa membuat langit bersinar

meski ia tumbuh

di dada seorang manusia yang hanya bisa diam

namun tak pernah menyerah


ALLOH MERANCANGNYA (dengan cinta)

Alloh merancangnya,

dengan cinta yang tak selalu terlihat mata,

bukan sekadar apa yang kau pinta,

tapi apa yang paling kau butuh di dunia.


Jangan benci jalan yang Ia pilihkan,

meski kadang pedih, tak kau mengerti tujuan.

Sebab di balik musibah, ada balasan,

di balik sakit, tersimpan ampunan.


Setiap kehilangan bukan akhir,

karena pengganti akan datang, meski tak selalu serupa wujud dan takdir.

Dan sabarmu...

tak pernah sia-sia di sisi-Nya yang Maha Mengerti rasa.


Kebaikan itu sering terlambat datang,

bukan karena Ia lupa,

tapi karena hatimu perlu siap menerimanya

dengan prasangka baik pada-Nya.


MASIH ADA HARAPAN

Walau langkah terasa berat,

dan napas tertahan oleh lelah yang pekat,

ingatlah, hidup tak selamanya mendung,

akan ada cahaya yang datang, meski perlahan merayap.


Kesulitan bukan akhir,

ia hanya jeda sebelum takdir yang lebih indah hadir.

Dalam setiap luka, ada ruang untuk sembuh,

dalam setiap jatuh, ada alasan untuk bangkit penuh.


Jangan menyerah,

karena selama matahari masih setia terbit di ufuk timur,

harapan pun tak akan pernah pergi,

ia menunggu... dalam sabar yang tak bertepi.



ISI HATI

 


Bismillah...

Ini langkah kecil menuju mimpi besar.

Aku tidak sendiri, Allah bersamaku.

Aku berhak bertumbuh, berhak mencoba, berhak belajar.

Tak perlu sempurna, cukup berani satu langkah lebih maju hari ini.

Apa pun hasilnya nanti, aku sudah menang — karena aku tidak menyerah

SETIAP TANGAN YANG MENENGADAH


Setiap tangan yang menengadah ke langit,

bukan sekadar meminta, tapi berserah pada yang Maha Mendengar.

Dalam sunyi, doa meluncur tanpa suara,

namun langit menyambutnya dengan cinta yang luar biasa.


Tak satu pun harap melayang sia-sia,

meski jawabannya mungkin datang dalam bentuk yang tak disangka.

Air mata yang jatuh bersama rindu,

kan tumbuh jadi bahagia dalam waktu yang tak pernah keliru.


Sungguh, tangan yang menengadah tak akan pulang dengan hampa,

karena Allah tak pernah meninggalkan hamba yang percaya.

Teruslah berharap, teruslah percaya,

sebab langit selalu terbuka untuk jiwa yang berserah penuh cinta

PEREMPUAN GAUL YANG TAAT

 Di tengah gemerlap dunia yang megah,

Ia melangkah penuh maruah.

Gaya kekinian, tutur menawan,

Namun iman tetap jadi pegangan.


Tak gentar arus yang menggoda,

Tak silau kilau fana dunia.

Gaulnya santun, canda berfaedah,

Tak luntur akhlak dalam langkah.


Sami’na wa atho’na di hati tertanam,

Bukan sekadar lisan yang terucap pelan.

Taat bukan beban, tapi kebanggaan,

Syariat Allah, cahaya pegangan.


Dia teguh dalam prinsipnya,

Tersenyum ramah, tetap terjaga.

Gaul bukan alasan untuk lalai,

Karena ridha-Nya tujuan yang dicari.


Maka lihatlah, wahai dunia,

Seorang perempuan dengan cahaya jiwa.

Modern, cerdas, dan berdaya,

Namun tetap tunduk pada-Nya


LELAH

Di sudut kamar yang temaram,  

terbuka layar penuh harapan,  

tangan lemah masih berjuang,  

menuliskan mimpi yang belum usai.  


Kacamata bertengger redup,  

menyaksikan mata yang perlahan tunduk,  

jemari tak lagi menari,  

terjatuh dalam lelah yang sunyi.  


Buku-buku bertumpuk rapi,  

diam seribu bahasa,  

seolah tahu, dalam tiap lembar,  

tersimpan tekad yang tak akan pudar.  


Dalam lelah, ada doa,  

terbisik lirih tanpa suara,  

karena perjalanan belum selesai,  

dan esok cahaya akan menyapa


CINTA YANG TAK TERBATAS

Aku ingin mencintaimu  

lebih banyak dari debar—  

dalam setiap denyut yang menggema,  

mengisi sunyi dengan getar namamu.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih besar dari sabar

menanti dalam doa,  

merangkai harapan dalam ketulusan yang tak pudar.  


Aku ingin mencintaimu  

lebih lama dari selamanya—  

melebur waktu dalam kenangan,  

mengabadikan kasih dalam keabadian.  


Di antara bintang dan senja,  

di antara nafas dan doa,  

cinta ini tetap ada, tetap nyata, tetap mengakar.  

Karena untukmu, aku ingin mencinta  

tanpa batas, tanpa akhir.


TAK PERNAH KITA TAHU


Tak pernah kita tahu,

kapan napas ini jadi yang terakhir,

di jalanan sepi, di rumah sendiri,

atau di tengah riuh dunia yang tak peduli.


Tak pernah kita tahu,

sedang apa kita saat waktu menjemput,

tersenyumkah, menangiskah,

atau justru lupa bahwa hidup hanya titipan sesaat.


Tak pernah kita tahu,

bagaimana caranya kita berpulang,

apakah ringan langkah menuju surga,

atau berat karena dunia yang kita genggam terlalu erat.


Maka jangan tunda kebaikan,

karena ajal tak pernah berjanji akan datang saat kita siap.

Setiap hari adalah kesempatan,

untuk memperbaiki diri dan menabur amal dalam sunyi.


Hari ini mungkin kita yang menangis,

esok bisa jadi kita yang dibacakan doa,

semoga saat waktu itu tiba,

kita pulang dalam husnul khatimah…

dipanggil Allah dalam keadaan terbaik,

di waktu terbaik,

dengan bekal yang cukup.

PERSAHABATAN

 Di antara tawa dan air mata,  

kita melangkah tanpa ragu,  

saling menggenggam dalam cerita,  

menjalin kenangan yang tak kan layu.  


Kau dan aku, bukan sekadar nama,  

tapi hati yang saling memahami,  

tak perlu banyak kata,  

cukup hadir dan tetap menemani.  


Saat dunia terasa berat,  

ada bahu tempat bersandar,  

saat langkah terasa penat,  

ada tangan yang tetap mengajar.  


Persahabatan bukan sekadar kebersamaan,  

tapi kepercayaan yang tak tergoyah,  

menjadi rumah saat tersesat,  

menjadi cahaya di setiap arah.


JANGAN LELAH, POKOKNYA

Jangan lelah, pokoknya, walau langkahmu pelan,

Langit tetap biru, meski tertutup awan.

Hari ini berat? Besok bisa terang,

Asal hati bertahan, semangat pun menjulang.


Jangan lelah, pokoknya, meski dunia sepi,

Ada doa yang lirih, menembus langit tinggi.

Peluh dan air mata, bukan tanda kalah,

Tapi bukti kuatmu, tak mudah menyerah.


Kalau jatuh, rehatlah, jangan menghilang,

Karena cahaya harapan, selalu datang terang.

Mimpi tak pernah menertawakan yang lambat,

Yang penting terus jalan, meski perlahan amat.


Jangan lelah, pokoknya, ini belum selesai,

Masih banyak senyum yang bisa kau bagi nanti.

Tuhan tak tidur, Dia tahu usahamu,

Peluk dirimu, dan bilang: "Aku mampu!


SAYAP TAK TERLIHAT

Manusia tak bersayap,

tapi percaya bisa terbang.

Bukan karena angin,

bukan karena awan yang memanggil dari kejauhan.


Namun karena seseorang di sisinya,

yang tak memberinya janji,

tapi memberi harapan.

Yang tak mengangkat tubuhnya,

tapi menguatkan jiwanya.


Dengan tatap yang menenangkan,

dengan kata yang menyala lembut,

dengan hadir yang tak selalu dekat,

tapi selalu terasa hangat.


Manusia pun terbang—

bukan di langit biru,

tapi di dalam semesta hati yang baru.

Karena kadang,

sayap itu bukan milik punggung…

melainkan milik rasa yang tumbuh diam-diam


DOA YANG MENGETUK LANGIT

Adakalanya, saat lelapmu dalam diam,

puluhan doa melesat menembus malam.

Mengetuk pintu langit yang tak pernah tertutup,

dari hati-hati yang dulu sempat kau peluk.


Dari fakir yang kau bantu tanpa pamrih,

saat lapar melilit dan dunia terasa perih.

Dari jiwa gelisah yang kau hibur lembut,

meski hanya dengan senyum atau sekadar sambut.


Tak kau sadari, sedekahmu jadi cahaya,

menghapus duka, menumbuhkan asa.

Karena tangan yang memberi, takkan pernah rugi,

bahkan saat dunia menolak memberi arti.


Maka bersemangatlah, wahai hati yang ragu,

karena kebaikanmu tak pernah bisu.

Jangan tunggu kaya, jangan tunggu cukup,

karena rezeki mengalir justru saat kita melepas erat menggenggam hidup




PELAN-PELAN AKU BELAJAR

Aku tidak setenang itu.

Di balik diamku,

ada badai yang kutahan sendiri—

gelisah yang tak bisa kuluapkan,

karena tubuhku tak sebebas jiwa yang ingin terbang.


Aku tidak seikhlas itu.

Banyak hal kutangisi dalam diam,

banyak tanya kutelan bulat-bulat:

“Kenapa harus aku?”

Tapi waktu memelukku,

dengan bisik pelan,

bahwa hidup bukan tentang adil atau tidak,

melainkan tentang kuat atau menyerah.


Aku belajar,

bahwa tak semua yang patah perlu disatukan kembali.

Beberapa luka,

cukup dikenang tanpa dendam.

Beberapa kehilangan,

cukup diterima tanpa penjelasan.


Dan meski jalanku sunyi,

meski sering kulihat dunia dari satu tempat yang sama,

aku tahu:

jiwa ini tetap bergerak,

tetap tumbuh,

meski perlahan.

Meski dalam keterbatasan,

aku sedang menjalani takdir dengan sebaik mungkin.


Pelan-pelan,

aku belajar ikhlas—

bukan karena aku sudah selesai dengan luka,

tapi karena aku ingin damai tinggal di dadaku sendiri.


PELAN-PELAN AKU BELAJAR

Aku tidak setenang itu.

Di balik diamku,

ada badai yang kutahan sendiri—

gelisah yang tak bisa kuluapkan,

karena tubuhku tak sebebas jiwa yang ingin terbang.


Aku tidak seikhlas itu.

Banyak hal kutangisi dalam diam,

banyak tanya kutelan bulat-bulat:

“Kenapa harus aku?”

Tapi waktu memelukku,

dengan bisik pelan,

bahwa hidup bukan tentang adil atau tidak,

melainkan tentang kuat atau menyerah.


Aku belajar,

bahwa tak semua yang patah perlu disatukan kembali.

Beberapa luka,

cukup dikenang tanpa dendam.

Beberapa kehilangan,

cukup diterima tanpa penjelasan.


Dan meski jalanku sunyi,

meski sering kulihat dunia dari satu tempat yang sama,

aku tahu:

jiwa ini tetap bergerak,

tetap tumbuh,

meski perlahan.

Meski dalam keterbatasan,

aku sedang menjalani takdir dengan sebaik mungkin.


Pelan-pelan,

aku belajar ikhlas—

bukan karena aku sudah selesai dengan luka,

tapi karena aku ingin damai tinggal di dadaku sendiri


DIRIMU SENDIRI

Di antara ribuan langkah dan bayang,

Ada satu yang tak pernah menghilang —

Dirimu sendiri, yang diam-diam bertahan

di saat dunia tak bisa jadi sandaran.


Ia menampung letihmu tanpa keluh,

menyeka air mata saat tak ada yang tahu.

Satu-satunya yang selalu tinggal,

meski yang lain pergi, tinggal kenang mengental.


Maka sayangilah ia sepenuh hati,

jangan letakkan beban yang terlalu tinggi.

Ia bukan karang yang takkan retak,

ia juga ingin bahagia dan tak merasa sesak.


Peluk dirimu, damaikan jiwamu.

Jangan paksa ia kuat setiap waktu.

Karena dirimu adalah rumah terindah,

yang paling layak diberi cinta paling ramah.




BELAJAR TENANG

Aku tidak setenang yang kau lihat,

hanya sedang berusaha—

menata gelombang dalam dada

agar tak selalu pecah di permukaan.


Aku tidak seikhlas yang kau kira,

hanya sedang belajar

bahwa tak semua yang datang

bisa kita tolak,

dan tak semua yang hilang

bisa kita tahan.


Ini tentang hati yang pelan-pelan paham,

bahwa hidup tak selalu tentang menang,

tapi tentang menerima

apa yang tak bisa diubah,

dan tetap bernapas dengan utuh

meski luka belum sembuh