Aku tidak setenang itu.
Di balik diamku,
ada badai yang kutahan sendiri—
gelisah yang tak bisa kuluapkan,
karena tubuhku tak sebebas jiwa yang ingin terbang.
Aku tidak seikhlas itu.
Banyak hal kutangisi dalam diam,
banyak tanya kutelan bulat-bulat:
“Kenapa harus aku?”
Tapi waktu memelukku,
dengan bisik pelan,
bahwa hidup bukan tentang adil atau tidak,
melainkan tentang kuat atau menyerah.
Aku belajar,
bahwa tak semua yang patah perlu disatukan kembali.
Beberapa luka,
cukup dikenang tanpa dendam.
Beberapa kehilangan,
cukup diterima tanpa penjelasan.
Dan meski jalanku sunyi,
meski sering kulihat dunia dari satu tempat yang sama,
aku tahu:
jiwa ini tetap bergerak,
tetap tumbuh,
meski perlahan.
Meski dalam keterbatasan,
aku sedang menjalani takdir dengan sebaik mungkin.
Pelan-pelan,
aku belajar ikhlas—
bukan karena aku sudah selesai dengan luka,
tapi karena aku ingin damai tinggal di dadaku sendiri
