Di sudut kamar yang temaram,
terbuka layar penuh harapan,
tangan lemah masih berjuang,
menuliskan mimpi yang belum usai.
Kacamata bertengger redup,
menyaksikan mata yang perlahan tunduk,
jemari tak lagi menari,
terjatuh dalam lelah yang sunyi.
Buku-buku bertumpuk rapi,
diam seribu bahasa,
seolah tahu, dalam tiap lembar,
tersimpan tekad yang tak akan pudar.
Dalam lelah, ada doa,
terbisik lirih tanpa suara,
karena perjalanan belum selesai,
dan esok cahaya akan menyapa
