Aku tidak berjalan seperti mereka,
tidak pula melangkah dengan bebas ke mana saja.
Tapi aku punya dunia,
yang tak terlihat mata,
yang tumbuh diam-diam di dada—
namanya harapan, bentuknya langit.
Langit itu luas,
seperti sabar yang terus aku peluk,
seperti rindu yang tak pernah aku tolak,
seperti mimpi yang kutenun dari titik-titik nyeri
menjadi cahaya kecil yang tak pernah padam.
Aku pernah terjatuh di sunyi,
di tempat di mana suara tak menyapa
dan dunia seperti lupa.
Tapi langit di dadaku tak pernah pergi,
ia tinggal, ia menunggu,
ia menjadi saksi bahwa aku tetap hidup.
Tangan ini menari di atas layar,
bukan untuk mengeluh—
melainkan untuk berkarya.
Kursi ini tak mengurungku,
ia malah jadi perahu,
mengantar aku ke tepian mimpi yang kupahat sendiri.
Aku bersyukur.
Untuk mereka yang hadir saat gelap,
untuk secangkir semangat dari sahabat,
untuk peluk yang tak selalu berbentuk tangan,
tapi selalu sampai ke hati.
Dan aku bermimpi.
Bukan untuk jadi besar,
tapi untuk terus berarti.
Untuk jadi suara dalam senyap,
untuk jadi bukti bahwa cinta dan tekad
bisa membuat langit bersinar
meski ia tumbuh
di dada seorang manusia yang hanya bisa diam
namun tak pernah menyerah
