NIKMAT PAGI YANG TAK TERBELI



Uang bisa membeli kasur empuk dan lampu temaram,

Obat tidur dan suasana yang nyaman.

Tapi ia tak mampu membeli rasa tenang,

Apalagi jaminan untuk bisa terbangun esok pagi.


Ada yang malamnya panjang dalam derita,

Berharap pagi membawa cahaya.

Namun tak semua diberi kesempatan kedua—

Untuk membuka mata dan melihat dunia.


Maka jika pagi ini kita terbangun,

Tanpa alarm, tanpa sentuhan,

Hanya karena kasih Tuhan

Yang meniupkan hidup ke dalam tubuh yang lelah

Bersyukurlah bukan hanya karena nyawa masih ada,

Tapi karena itu tanda:

Masih ada tugas, masih ada makna,

Masih ada cinta Tuhan yang belum selesai untuk kita.


Karena bangun pagi bukan sekadar rutinitas,

Tapi anugerah yang tak semua orang dapat wariskan.

Jangan anggap biasa,

Sebab detik itu bisa jadi bekal surga—atau ujian yang meminta jawabannya.