Hari ini merah putih berkibar di angkasa,
delapan puluh satu tahun negeri merdeka,
namun di timur sana terdengar kabar duka,
bumi bergetar, menyisakan tangis dan luka.
Di Nusa Tenggara Timur, tanah yang kami
cinta,
ada rumah yang bergetar, ada hati yang terluka,
ada tangan yang mencari keluarga tercinta,
ada doa yang dipanjatkan di antara air mata.
Negeri sedang berpesta dengan cahaya,
tetapi tak semua anak negeri bersuka,
sebab ada yang memeluk kehilangan di dada,
sementara bendera berkibar membawa cerita.
Merah bukan hanya warna sebuah bendera,
ia mengingatkan perjuangan dan darah para pendahulu kita,
putih bukan sekadar warna yang menyertainya,
ia adalah doa agar luka menemukan cahaya.
Indonesia, di ulang tahunmu yang ke
delapan puluh satu,
kami tak ingin hanya mengucapkan kata merdeka selalu,
kami ingin menundukkan kepala untuk mereka yang pilu,
dan menitipkan doa kepada Tuhan Yang Maha Tahu.
Semoga bumi kembali tenang dan damai,
semoga yang terluka segera pulih kembali,
semoga yang kehilangan diberi hati yang damai,
semoga setiap air mata diganti kekuatan yang berarti.
Hari ini kami tetap mengibarkan merah
putih,
meski hati kami ikut merasakan perih,
sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bersorak dan bersih,
tetapi tentang hadir ketika saudara sedang sedih.
Selamat ulang tahun, negeriku tercinta,
maaf jika hari ini ada duka di antara pesta,
kami tetap mencintaimu dengan doa dan air mata,
sebab Indonesia adalah kita yang saling menjaga.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.






.png)



