Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan

Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Modal Pertamaku Bernama Bismillah

Malam ini aku kembali menulis. Bukan tentang novel. Bukan pula tentang yayasan. Melainkan tentang perjalanan kecil yang baru saja dimulai.

Beberapa hari lalu aku resmi menjadi Agen BRILink.

Kalau orang bertanya, "Modalnya berapa?"

Aku mungkin hanya tersenyum.

Sebab sejujurnya, modal pertamaku adalah Bismillah.

Bukan berarti aku mengabaikan ikhtiar. Justru karena aku sadar modal yang kumiliki belum banyak, aku belajar menghargai setiap transaksi yang datang.

Hari-hari pertama menjadi agen ternyata penuh cerita.

Aku sempat bingung menentukan tarif.

Bingung mencatat pembukuan.

Bingung membedakan biaya admin dan jasa agen.

Bahkan transfer pertama membuatku deg-degan.

Ada pelanggan yang membeli pulsa.

Ada yang membeli token listrik.

Ada yang transfer ke bank lain.

Ada pula yang ingin membayar tagihan listrik sekitar delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

Sayangnya, saat itu limit yang tersedia di aplikasiku hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Aku tidak mencari alasan.

Aku hanya berkata jujur,

"Mohon maaf, Pak. Saat ini saya belum bisa melayani nominal sebesar itu."

Beliau kemudian melanjutkan pembayaran di tempat lain.

Aneh ya...

Aku tidak merasa gagal.

Justru aku merasa sedang belajar menjaga kepercayaan.

Lebih baik mengatakan belum mampu daripada memaksakan sesuatu yang belum bisa kulakukan.

Malam demi malam, aku juga mulai belajar tentang pembukuan.

Mana transaksi pelanggan.

Mana transaksi pribadi.

Mana yang menjadi pendapatan usaha.

Mana yang tidak boleh dicampur.

Aku ingin usaha kecil ini bertumbuh dengan tertib.

Aku juga sempat berpikir tentang Dana Talangan.

Bukan karena ingin memiliki uang.

Tetapi karena terlintas keinginan sederhana.

"Kalau suatu hari ada pelanggan dengan transaksi besar, semoga aku tetap bisa melayaninya."

Namun aku juga belajar, setiap fasilitas harus dipahami terlebih dahulu.

Tidak semua yang tersedia harus langsung digunakan.

Ada hal lain yang membuatku tersenyum malam ini.

Ternyata sejak resmi menjadi agen, sudah ada sekitar dua puluh transaksi.

Mungkin bagi sebagian orang angka itu kecil.

Tetapi bagiku, dua puluh transaksi berarti dua puluh kali seseorang mempercayakan uangnya kepadaku.

Dan kepercayaan selalu lebih mahal daripada angka.

Aku masih malu bertanya kepada pendamping BRI.

Masih khawatir dianggap terlalu baru.

Masih takut terlihat belum bisa.

Namun aku mulai menyadari...

Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan.

Yang memalukan adalah berpura-pura tahu, padahal belum paham.

Malam ini aku menutup buku pembukuan dengan satu doa.

Semoga suatu hari nanti, ketika buku ini telah penuh oleh catatan transaksi, aku masih mengingat malam-malam ketika semuanya berawal dari kebingungan rasa malu, dan keberanian kecil untuk terus belajar.

Karena mungkin...

Allah tidak langsung memberiku modal yang besar.

Tetapi Allah memberiku pelanggan, satu per satu.

Dan mungkin memang begitulah cara Allah mengajarkan aku membangun usaha.

Pelan-pelan.

Sedikit demi sedikit.

Dengan jujur.

Dengan amanah.

Dan selalu dimulai dengan satu kalimat yang sama.

Bismillahirrahmanirrahim.


Refleksi Malamku

"Ya Allah... aku tidak meminta jalan yang mudah. Aku hanya memohon agar Engkau selalu membersamai setiap langkah kecilku. Jadikan setiap transaksi sebagai amanah, setiap pelanggan sebagai jalan rezeki yang halal, dan setiap kebingungan sebagai pintu ilmu. Jika hari ini usahaku masih kecil, berkahilah yang kecil itu hingga tumbuh dengan cara yang Engkau ridhai."

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik fi rizqi.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Sebuah Tasbih, Sejuta Doa

 Bismillahirrahmanirrahim...

Ada benda kecil yang hampir tidak pernah lepas dari tanganku.

Bukan karena harganya mahal.

Bukan karena bentuknya istimewa.

Tetapi karena di dalam benda kecil itu, tersimpan ribuan shalawat, dzikir, dan doa yang setiap hari menemani langkahku.

Tasbih digitalku.

Beberapa hari terakhir, baterainya mulai melemah.

Sering kali ketika hitungan baru mencapai beberapa ratus, tiba-tiba layarnya mati.

Aku mengulang lagi.

Lalu mati lagi.

Yang paling membuatku sedih adalah ketika tahajud.

Setiap malam aku memiliki amalan yang sangat kujaga.

Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali bacaan, aku berhenti sejenak untuk berdoa.

Ketika hitungannya hilang karena tasbih mati, rasanya seperti kehilangan jejak di tengah perjalanan.

Aku sempat berpikir untuk membeli tasbih baru.

Namun ketika melihat harganya, aku tersenyum sendiri.

Di kepalaku langsung muncul hitungan lain.

"Uang ini bisa untuk membayar mbak beberapa hari."

Akhirnya aku mengurungkan niat.

Lalu Allah mengingatkanku kepada seorang sahabat yang sangat gemar bersedekah.

Aku memanggilnya dengan penuh sayang,

Nokji.

Dengan sedikit rasa malu, aku memberanikan diri mengirim pesan.

Bukan meminta uang.

Tetapi meminta dibelikan sebuah tasbih digital.

Aku berharap, semoga tasbih ini menjadi salah satu jalan pahala yang terus mengalir untuk beliau. Setiap kali aku berdzikir, bershalawat, atau membaca Al-Fatihah, semoga Allah Yang Maha Mengetahui niat menerima amal kami dan melipatgandakan kebaikan itu.

Masyaa Allah...

Tidak lama kemudian beliau menjawab,

"Iya, Mbak. Kirim alamatnya."

Beliau bahkan memilih membelikannya secara online agar langsung sampai ke rumahku.

Hari ini...

Tasbih itu akhirnya tiba.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Aku memegangnya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan.

Pembuka hitungannya bukan angka besar.

Melainkan rasa syukur.

Aku memulai dengan Shalawat Ibrahimiyah 100 kali.

Lalu kulanjutkan Shalawat Adrikni 1.000 kali, sambil menunggu waktu berbuka Puasa Daud.

Di tanganku, tasbih itu hanyalah alat.

Tetapi bagiku...

Ia adalah pengingat agar lisanku tidak lelah menyebut nama Allah dan bershalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Hari ini aku kembali belajar.

Allah tidak selalu mengirim pertolongan dalam bentuk yang besar.

Kadang pertolongan itu datang dalam bentuk sebuah tasbih kecil yang mampu menjaga istiqamah seseorang dalam berdzikir.

Terima kasih, Nokji.

Semoga setiap butir dzikir yang terhitung melalui tasbih ini menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah.

Dan semoga Allah membalasmu dengan balasan yang jauh lebih indah daripada apa yang telah engkau berikan.

Karena sesungguhnya...

Sedekah terbaik bukanlah yang paling mahal.

Tetapi yang paling bermanfaat.

Doa untuk Nokji 🤲

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pemurah...

Limpahkanlah rahmat dan keberkahan-Mu kepada sahabatku, Nokji, yang telah menjadi jalan kebaikan bagiku.

Jadikan setiap dzikir, setiap shalawat, setiap istighfar, dan setiap doa yang kuhitung dengan tasbih ini sebagai sebab bertambahnya pahala baginya, sejauh Engkau berkenan menerima niat baik kami.

Berikanlah kepadanya kesehatan yang sempurna, umur yang penuh berkah, keluarga yang sakinah, rezeki yang halal dan berlimpah, hati yang selalu dekat kepada-Mu, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Balaslah setiap sedekahnya dengan balasan yang jauh lebih baik, sebagaimana hanya Engkau yang mampu membalas segala kebaikan hamba-hamba-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

🌤️ Catatan Langit Di Dada

Kadang yang paling berharga bukanlah benda yang kita miliki.

Tetapi benda yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Dan kadang...

Allah mengirimkannya melalui tangan seorang sahabat yang baik.

SING TENANG.

Terima Kasih untuk Tim Kuasa Hukumku

 Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Hari ini, Allah mengizinkan satu perjalanan panjang dalam hidupku sampai pada titik akhirnya.

Gugatan perceraianku telah dikabulkan oleh Pengadilan Agama.

Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati dan sebaik-baik Penolong.

Di balik setiap proses yang telah kulalui, ada banyak orang yang Allah hadirkan sebagai jalan pertolongan.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Tim Kuasa Hukum dari LBH Garda Keadilan Indonesia.

Terima kasih telah mendampingi setiap proses sejak awal hingga putusan dibacakan.

Terima kasih atas kesabaran dalam memberikan arahan, menjawab setiap pertanyaan, serta mendampingi setiap tahapan persidangan dengan profesional.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah perkara hukum.

Namun bagiku, ini adalah perjalanan yang penuh doa, air mata, dan harapan untuk memperoleh satu hal yang sederhana.

Kejelasan status.

Alhamdulillah...

Hari ini Allah mengabulkan doa itu.

Aku juga menyadari bahwa keberhasilan sebuah proses tidak pernah berdiri sendiri.

Ada ikhtiar.

Ada ilmu.

Ada kerja keras.

Dan di atas semuanya...

Ada pertolongan Allah.

Semoga setiap waktu, tenaga, ilmu, dan kebaikan yang telah diberikan kepada klien-kliennya menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah membalas dengan kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, serta perlindungan di dunia dan akhirat.

Aku juga mendoakan semoga LBH Garda Keadilan Indonesia semakin maju, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin banyak menjadi jalan hadirnya keadilan bagi mereka yang membutuhkan pendampingan hukum.

Kini tinggal satu langkah administrasi yang tersisa, yaitu pengambilan Akta Cerai yang juga akan diurus oleh tim kuasa hukum.

Insyaa Allah, semoga Allah mudahkan hingga seluruh proses benar-benar selesai dengan baik.

Sekali lagi...

Terima kasih.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih baik.

Jazakumullahu khairan katsiran.

🤲 Barakallahu fiikum.

Ya Allah...

Limpahkanlah rahmat-Mu kepada seluruh tim kuasa hukum yang telah menjadi jalan pertolongan bagi banyak orang.

Berikan kesehatan, keberkahan umur, keluasan rezeki yang halal, kemudahan dalam setiap langkah, dan jadikan setiap ilmu serta tenaga yang mereka berikan sebagai amal saleh yang Engkau lipatgandakan pahalanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

 "Terima kasih telah menjadi bagian dari ikhtiar saya. Selebihnya, saya meyakini bahwa Allah-lah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pemberi Keputusan."

Ketika Rezeki Berubah Menjadi Peluang

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini kembali mengajarkanku bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Pagi ini, setelah menunaikan salat Dhuha, aku melanjutkan menulis novel bab baru novelku di KBM App

Satu bab selesai kutulis.

Entah karena semalam kurang istirahat atau memang tubuh sedang lelah, aku tertidur di depan laptop.

Begitu terbangun, aku melihat dua panggilan WhatsApp dan beberapa pesan yang belum sempat kubaca.

Aku membukanya.

Ternyata dari petugas BRI.

Beliau memberi kabar bahwa rekannya akan datang ke rumah untuk melakukan survei.

Beberapa bulan yang lalu aku memang mendaftarkan diri menjadi Agen BRILink tanpa mesin EDC.

Kalau dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya,

"Berani sekali?"

Aku hanya bisa tersenyum.

Karena sebenarnya modal terbesarku bukan uang.

Modal terbesarku adalah Bismillah.

Dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Aku memang belum memiliki modal besar.

Tetapi rekeningku hampir setiap hari menjadi saksi.

Ada uang yang masuk.

Lalu keluar lagi.

Untuk kebutuhan

Untuk menggaji orang-orang yang bekerja.

Untuk berbagai amanah yang Allah titipkan.

Lalu mengapa aku tetap mendaftar menjadi Agen BRILink?

Karena aku tidak sedang berpikir untuk sehari.

Tidak juga untuk sebulan.

Aku sedang belajar mempersiapkan sesuatu yang bisa menjadi ikhtiar jangka panjang.

Selama ini aku sering melakukan transaksi.

Mengapa tidak memiliki layanan sendiri?

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki melalui usaha ini, aku sudah memiliki niat sejak awal.

Tujuh puluh persen untuk kebutuhanku.

Tiga puluh persen untuk kas yayasan.

Mungkin jumlahnya belum besar.

Tetapi sedikit demi sedikit, semoga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan yang halal dan berkelanjutan.

Selama ini ketika ada yang bertanya,

"Yayasannya punya usaha apa?"

Aku sering tersenyum.

Insyaa Allah...

Hari ini aku mulai memiliki jawaban.

Ini adalah salah satu ikhtiar kecil.

Setelah semua proses selesai, aku kembali bercerita kepada sahabatku yang juga menjadi pembina yayasan.

Karena Agen BRILink tanpa EDC tidak mencetak bukti transaksi, aku berpikir untuk membeli printer Bluetooth agar pelanggan tetap bisa menerima bukti pembayaran.

Aku teringat...

Pagi tadi Allah mengirimkan rezeki melalui sahabatku.

Dan tanpa kusangka, rezeki itu langsung menemukan tempatnya.

Untuk membeli perlengkapan usaha yang baru saja Allah bukakan jalannya.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, Wa alaa ali Sayyidina Muhammad

Menjelang Magrib, beduk berkumandang.

Aku membatalkan puasa dengan seteguk air putih.

Lalu seperti biasa, aku berdoa.

Namun sore ini ada doa yang terasa lebih panjang.

Lebih khusus.

Aku menyebut nama sahabat baikku.

Sahabat sejak kecil.

Yang hari ini kembali Allah jadikan perantara datangnya rezeki.

Aku belajar lagi.

Terkadang kita mengira Allah sedang memberi kita uang.

Padahal sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan.

Kesempatan untuk memulai sebuah usaha.

Kesempatan untuk membangun masa depan.

Kesempatan untuk menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yayasan yang sedang diperjuangkan.

Hari ini aku kembali diingatkan.

Bahwa ketika niat diarahkan kepada kebaikan, Allah mampu mempertemukan satu rezeki dengan rezeki lainnya.

Satu bantuan dengan satu peluang.

Dan satu doa dengan satu jawaban.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.

LangitDiDada 


Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Sing Tenang

Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".

Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.

Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.

Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.

Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.

Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.

Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.

Aamiin.


Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.

Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.

Aku tidak menangis.

Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.

Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.

Air mata itu sudah selesai pada masanya.

Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.

Sing tenang.

Are you oke? Aman saja

Kalimat sederhana “Are you ok?” sering muncul sebagai bentuk kepedulian. Pertanyaan itu seolah mengetuk pintu hati, menanyakan keadaan seseorang di balik senyum atau diamnya.

Jawaban “aman saja” terdengar singkat, tapi menyimpan makna: ada ketenangan, ada kekuatan, meski mungkin banyak hal sedang terjadi. Kata “aman” memberi rasa lega, seolah berkata: aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir.

Dalam percakapan sehari-hari, kombinasi ini bisa menjadi simbol komunikasi yang hangat. Pertanyaan singkat, jawaban ringkas, namun keduanya mencerminkan perhatian dan keteguhan.


Risiko Memiliki Pasangan Seorang Penulis: Antara Imajinasi, Baper, dan Kenyataan

Buat yang punya pasangan penulis:

Menjalani hubungan dengan seorang penulis itu seperti hidup berdampingan dengan dua dunia: dunia nyata dan dunia imajinasi yang kadang jauh lebih riuh dari kehidupan sehari-hari. Penulis bekerja dengan hati, menggunakan emosi sebagai bahan bakar, dan meminjam banyak situasi, baik yang dialami, didengar, maupun sekadar diamati, untuk diubah menjadi cerita. Dan di titik inilah sering muncul risiko yang jarang dibicarakan: pasangan bisa ikut terbawa perasaan.

1. Penulis Memiliki Radar Emosi yang Lebih Pekat

Penulis sering menulis berdasarkan detail kecil yang bagi orang lain mungkin tak berarti. Tatapan seseorang, percakapan yang lewat di telinga, atau bahkan suasana hujan bisa berubah menjadi kisah. Kadang pasangan salah paham, mengira semua yang ditulis adalah kode, sindiran, atau cerminan isi hati yang sebenarnya, padahal tidak selalu begitu.

2. Tokoh Fiksi Bisa Membuat Pasangan Merasa “Tersaingi”

Penulis menciptakan tokoh yang ideal: tampan, sabar, romantis, kuat, kadang nyebelin tapi bikin jatuh hati. Tokoh ini lahir dari proses kreatif, bukan karena penulis tidak puas dengan pasangannya. Namun ada kalanya pasangan merasa dibandingkan, merasa kalah, atau takut tokoh fiksi itu lebih sempurna dari dirinya.

3. Pembaca Baper, Pasangan Ikut Baper

Salah satu risiko terbesar adalah: bukan hanya pembaca yang mudah terbawa perasaan, pasangan pun bisa ikut merasakan hal yang sama. Ketika ribuan orang berkomentar bahwa tokoh pria dalam cerita sangat mempesona atau tokoh wanitanya begitu menarik, pasangan bisa merasa cemburu. Padahal itu sekadar respon terhadap karya seni.

4. Penulis Tidak Menulis dari Satu Sumber

Ini penting: cerita penulis tidak selalu datang dari pengalaman pribadi. Penulis merangkai potongan realitas dari mana saja, teman, tetangga, sahabat, film, trauma masa lalu, postingan viral, bahkan cerita orang tak dikenal. Tapi sering kali pasangan merasa: “Jangan-jangan ini tentang aku…”

Padahal belum tentu. Justru terkadang penulis sengaja menjaga privasi pasangan dengan memodifikasi cerita jauh dari kenyataan.

5. Penulis Butuh Ruang untuk Berkarya

Di balik karya yang disukai banyak pembaca, ada kreativitas yang butuh dibiarkan berjalan bebas. Jika penulis harus selalu mengkhawatirkan perasaan pasangannya setiap kali menulis, kreativitas bisa terkunci. Pasangan penulis perlu memahami bahwa menulis adalah bagian dari identitas, bukan ancaman.

Pesan untuk Pasangan Seorang Penulis

Untuk kamu yang hidup berdampingan dengan seorang penulis, percayalah:

Menjadi pasangan mereka bukanlah kompetisi antara dirimu dan karakter fiksi. Kamu adalah dunia nyata yang tidak bisa digantikan oleh imajinasi mana pun.

Penulis bisa menciptakan seribu tokoh, tapi hanya mencintai satu orang di kehidupan nyata — orang yang hadir, mendampingi, mengerti proses kreatifnya, dan tidak mudah tersulut oleh cerita yang bahkan bukan tentang dirinya.

Jika sesekali cemburu atau baper, itu wajar. Itu tandanya kamu sayang.

Tapi ingat juga: cerita adalah cerita, cinta adalah kamu.

Jadi, ketika pasanganmu menulis kisah yang dramatis, romantis, pedas, atau membuat pembaca heboh

tenanglah… semua itu adalah bagian dari karya, bukan cermin dari hubungan kalian.

Peluk penulismu dengan pengertian.

Karena di balik semua paragraf dan karakter fiksi itu, ada satu tokoh utama yang selalu mereka pilih di dunia nyata: kamu.

Salam hangat

-Langit Didada



Refleksi Hari Ini

Di antara lelah yang singgah,

ada lega karena amanah terjaga.

Jadwal berbagi sudah tertata,

bab-bab baru lahir setiap hari,

Novel pun menyapa dunia.

 

Jumat ini bukan sekadar hari,

ia jadi saksi doa dan karya.

Semoga setiap langkah ini

menjadi cahaya besar di jalan panjang.



Ikhlas, Cahaya yang Menyembuhkan

Pagi ini, tim kuasa hukum datang ke rumah untuk menanyakan beberapa hal terkait berita acara gugatan perceraian. Besok, insyaa Allah, proses akan berlanjut dengan penandatanganan surat kuasa. Alhamdulillah, hati yang selama ini terasa digantung bertahun-tahun, kini mulai menemukan jalan terang. Ada rasa lega, karena akhirnya bisa melepaskan dengan ikhlas.

Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang berpisah, tetapi tentang keberanian untuk memilih kejelasan, tentang menerima takdir dengan lapang dada. Melepaskan bukan berarti kalah, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh, sembuh, dan menemukan kembali cahaya.

Hari ini, aku belajar bahwa ikhlas adalah kekuatan. Bahwa setiap akhir adalah pintu menuju awal yang baru. Semoga langkah ini menjadi jalan menuju ketenangan, dan semoga hati tetap terjaga dalam doa dan rasa syukur.


MENANG

Aku tidak tertarik menang di mata orang.

Karena kemenangan yang sejati bukanlah tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.

Aku lebih tertarik membangun hidup yang kokoh,

hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih,

tidak goyah saat dibandingkan,

dan tidak hancur meski ditinggalkan.

 

Menjadi kuat bukan berarti tak pernah jatuh,

tetapi mampu berdiri lagi dengan hati yang utuh.

Menjadi teguh bukan berarti tak pernah rapuh,

tetapi tetap melangkah meski luka masih terasa.

 

Aku ingin hidup yang berdiri di atas fondasi cinta

cinta pada diri sendiri, cinta pada perjalanan,

cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.

Karena ketika cinta itu kokoh,

tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,

tak ada perbandingan yang bisa menggoyahkan,

tak ada kepergian yang bisa menghancurkan.

 

Dan di sanalah aku menemukan arti:

bahwa hidup bukan tentang terlihat menang,

melainkan tentang tetap utuh,

meski dunia mencoba merobeknya.

 


FIKSI, BAPER, REALITA

Menjadi penulis itu kadang lucu. Cerita yang kutulis sering dikira sebagai kisah hidupku sendiri. Ada yang ikut baper, ada yang kirim pesan menenangkan, bahkan ada yang marah karena merasa ceritanya terlalu mirip dengan kehidupannya. Padahal, fiksi lahir dari imajinasi, riset, dan inspirasi kecil yang kadang muncul begitu saja.

Tapi di situlah indahnya menulis, ketika kata-kata mampu menyentuh hati, membuat orang merasa dekat, seolah kisah itu milik mereka. Mungkin itulah kekuatan cerita: ia hidup bukan hanya di kepala penulis, tapi juga di hati pembaca. Dan aku bersyukur, setiap bab yang kutulis bisa jadi jembatan rasa, meski kadang disalahpahami. Karena sejatinya, tulisan adalah doa yang mengalir, semoga membawa kebaikan bagi siapa pun yang membacanya.


- Langit Didada


DIA HADIR & ANTUSIAS

Bisa bersama orang yang aksinya menunjukkan seberapa besar cintanya, itu adalah KEMENANGAN besar. 

Ultahmu, makanan favoritmu, hal-hal yang membahagiakanmu,

DIA HADIR DAN ANTUSIAS! 



Mas Ton - LOMBA CERPEN NASIONAL


Ada cerita yang tak lagi untuk diulang,

tapi cukup dituliskan… lalu diikhlaskan.

Mas Ton, sebuah cerpen yang lahir dari perjalanan rasa, kini melangkah mengikuti lomba cerpen nasional.

“Batang Bahagia, Tanah yang Menumbuhkan Kita”

Di tanah tempat matahari pertama kali kita sapa,

Batang berdiri teduh, enam puluh tahun sudah usianya.

Di sela angin pesisir dan sejuk pegunungan,

ada doa-doa yang tumbuh pelan,

menjadi harapan, menjadi masa depan.


Batang adalah rumah—

tempat langkah kecil kita belajar berjalan,

tempat tawa dan kerja keras bertemu,

tempat setiap lorong menyimpan cerita

tentang siapa yang pernah kita jadi,

dan siapa yang ingin kita tuju.


Enam puluh tahun bukan hanya angka,

melainkan perjalanan panjang

yang ditopang gotong royong,

dihidupkan oleh tangan-tangan sederhana,

dan dijaga oleh hati-hati yang tak pernah lelah mencinta.


Di setiap bukitnya, ada harap bertunas.

Di setiap lautnya, ada mimpi terhampar luas.

Di setiap warganya,

ada bahagia yang saling menaut,

membentuk jalinan yang kita sebut:

Batang Bahagia.


Selamat ulang tahun ke-60, Kabupaten Batang.

Semoga tanah ini terus tumbuh,

mewarnai hari-hari kita

dengan kedamaian,

kelimpahan,

dan kebahagiaan yang tak terputus.




Quote - Langit Di Dada

 “Kadang aku rindu… tapi aku belajar diam, karena yang kunanti selalu sibuk.”



"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



Aku Pernah

Aku Pernah Melepaskan Seseorang

Bukan Karena Perasaanku Sudah Hilang, 

Tapi Karena Ada Orang Lain Yang Membutuhkannya, 

Dan Dia Juga Butuh orang Itu....


Langkah yang Dilapangkan – Catatan Ramadhan, Doa, dan Jalan Baru

Assalamu’alaikum 

E-book ini adalah catatan perjalanan hati: dari doa Ramadhan, jejak masa lalu yang ditinggalkan, hingga cahaya yang membuka jalan baru. Ditulis dengan kelembutan, kisah ini bukan sekadar cerita pribadi, melainkan serpihan cahaya yang bisa menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang mencari ketenangan.

Untuk membaca versi lengkap e-book ini, silakan unduh di sini:
https://drive.google.com/file/d/10h28WVafFv17NQ07hrcxhA9MsU1RYx9g/view?usp=drive_link





"Redho adalah cahaya yang membuka jalan baru, membawa hati menuju ketenangan."