Ga Pa Pa, katanya

Di balik senyum yang tak bersuara,

ada luka yang tak pernah minta diberi nama.

“Ga apa-apa,” katanya ringan,

padahal hatinya sedang hujan pelan-pelan.


Langit di matanya mendung perlahan,

tapi ia tetap memilih diam,

karena kadang bicara pun tak cukup menjelaskan,

betapa lelahnya jadi kuat sendirian.


Tak semua yang tertahan itu tak berarti,

tak semua yang diam itu tak peduli.

Ada cinta dalam redanya,

ada harap dalam sunyinya.


“Ga apa-apa” bukan berarti tak sakit,

hanya cara paling lembut untuk tetap bertahan dalam sunyi yang tak menghakimi.


HARI INI UNTUKKU

Aku tak ingin jadi kuat hari ini,

cukup ingin jadi jujur pada lelahku.

Karena mencintai diri,

bukan soal tangguh… tapi soal tahu kapan rehat.


HUJAN DI AKHIR JUNI

Pada langit yang menangis, kutemukan ketenangan

butir hujan merenda zikir di jendela malam.

Seperti rahmat yang diturunkan perlahan,

Allah hadir dalam setiap gemuruh dan diam.


Langit bersyahadat lewat petir yang menyala,

dan bumi mengamini doa-doa yang terlupa.

Aku duduk berselimut harap dan taubat,

dalam sunyi yang mengajarkan makna sabar.


Tak ada yang sia-sia dalam tangis langit,

semuanya kembali pada takdir yang lembut.

Aku hanya hamba yang mencoba mengerti,

bahwa bahkan hujan pun bersujud.


Takdir yang Kutahu Cinta

Bagian terindah dalam hidupku,

bukan bunga, bukan pelangi,

tapi hari saat doa-doaku

berubah wujud dan menjadi kamu.


Bukan pertemuan yang biasa,

karena aku tahu, ini bukan kebetulan.

Ada tangan langit yang menuntun,

menyelipkan namamu dalam takdirku diam-diam.


Bersamamu, waktuku lebih lapang,

doaku lebih dalam,

dan senyumku lebih mudah tumbuh,

karena kamu adalah jawaban yang lembut itu.


Terima kasih telah datang,

bukan hanya dalam hidupku,

tapi dalam keyakinanku bahwa

Allah menyayangiku dengan mempertemukan kita.


LEBIH DARI CANTIK ITU BERKELAS


Wanita tak sekadar rupa,

bukan sekadar gaun atau rias yang singgah.

Dia adalah tenang dalam badai,

langkah pasti meski dijatuhkan dunia.


Cantik bisa dibuat lensa,

tapi berkelas…

tumbuh dari luka yang disembunyikan anggun,

dari tutur yang tak membalas keras,

dari doa-doa yang menjulang tanpa suara.


Mereka menyangka itu pilihan,

padahal sesungguhnya ia harga.

Karena jadi cantik itu mudah,

tapi jadi berkelas, itulah perjuangan nyata

JEJAK YANG TAK KAU LIHAT

Jangan kau nilai langkah saudarimu,

barangkali ia sedang menuju cahaya,

melalui jalan sunyi yang tak pernah kau tahu,

melewati luka yang tak pernah kau rasa.


Ia mungkin tak bersuara,

tapi tiap diamnya adalah zikir,

tiap tangisnya adalah doa

yang hanya langit mampu mendengar.


Kau melihat ragu dalam langkahnya,

padahal itu keyakinan yang dibungkus hening.

Kau melihat asing di caranya,

padahal ia sedang pulang—dengan cara yang paling tulus.


Maka, lepaskan prasangka dari matamu,

dan doakan setiap jiwa yang berjalan,

karena tak satu pun dari kita,

punya peta utuh menuju Tuhan.


Tahun Baru Masih Dalam Jarak

Tahun ini datang,

dan kamu masih di sana

sementara aku menyambut bulan baru

dengan secangkir susu dan secuil rindu.


Tapi jarak tak mengurangi doaku,

karena kukirim lewat langit yang sama,

kutitip pada angin yang mungkin

menyapa rambutmu saat subuh tiba.


Ya Allah,

jika tahun lalu penuh ujian,

jadikan tahun ini ladang keberkahan

untukku yang menanti, dan dia yang juga menunggu dalam diam.


Dekatkan hati kami, meski langkah masih terpisah,

kuatkan kami untuk saling jaga,

saling doakan dalam sepi yang rahasia.


Dan bila tiba waktunya bersua,

biarlah cinta ini tidak hanya bertahan,

tapi tumbuh

dalam restu-Mu yang paling tenang.




SUSU DI MALAM TAHUN BARU


Di antara tenang dan sunyinya malam,

Kugenggam hangat gelas susu yang lembut seperti doa.

Ya Alloh, berkahilah yang kuseguk perlahan,

Tambahkan cinta, kesehatan, dan harapan dalam setiap tegukan.

Semoga putihnya mengalirkan ridha-Mu,

hingga hari-hariku menjadi manis seperti niat yang kuucap malam ini.


Allohumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu

DIBAWAH TANAH YANG SUNYI

Hari ini aku pulang, Bu...

bukan ke rumah yang biasa,

tapi ke rumah Ibu yang paling sepi 

di mana tak ada atap, hanya langit,

dan tak ada pintu, hanya doa.


Aku datang, Bu...

bawa semua rindu yang tak pernah selesai,

bawa semua cerita yang dulu

selalu Ibu dengar meski aku belum selesai bicara.


Aku sudah berusaha jadi kuat, Bu,

aku datang sendiri ke tempat yang jauh,

berjuang membawa amanah,

sambil diam-diam berharap...

andai Ibu masih ada,

pasti Ibu peluk aku tanpa bertanya banyak.


Di sini aku duduk,

di dekat namamu yang tertulis di batu,

menatap tanah basah,

dan menunduk — karena hanya itu yang bisa kulakukan

ketika rindu tak punya lengan

untuk memeluk kembali.


Ibu...

kalau malam Ibu datang dalam mimpiku,

jangan cepat-cepat pergi ya...

biar aku bisa pulang sebentar

ke dalam pelukan yang tak pernah terganti.


SELAMAT SIANG LDR-KU

Di antara jeda siang yang panas,

aku kirim napas rindu lewat angin pelan.

Jangan lupa makan, ya,

dan jangan lupa bahagia juga, meski aku tak di sana.


Hari ini panjang,

dan mungkin melelahkan,

tapi tolong…

jaga kesehatanmu dengan lembut,

jaga dirimu dengan sabar,

jaga hatimu—jangan biarkan lelah membuatnya goyah.


Ada jarak yang tak bisa kupeluk,

tapi ada doa yang selalu menjemputmu.

Kita belum bisa duduk di bangku yang sama,

tapi percayalah,

rindu ini tidak pernah istirahat.


SYUKURKU MENGALIR

Aku tidak punya dunia,

tapi pagi masih membuka tirainya.

Aku tak punya semua jawaban,

tapi setiap hari adalah halaman baru yang boleh kutulisi harapan.


Syukurku bukan tentang banyaknya,

tapi tentang cukupnya

tentang tangan yang masih bisa merangkul,

dan hati yang masih tahu cara bersyukur.


Pada langit yang tak pernah lelah menaungi,

pada doa ibu yang tak henti mengiringi,

pada doa orang-orang yang tak kuketahui

Aku dicintai, dan itu sudah lebih dari cukup.








Selamat malam, LDR-ku.

Selamat malam, LDR-ku.

Tidurlah, dan biarkan rindu pelan-pelan berkemas.

Biar hatimu tenang,

dan semesta tahu:

ada seseorang yang menjagamu, meski dari jauh.


Pagi dari Sebuah Jarak

Ada pagi yang datang tanpa suara,

cukup dengan gambar kecil yang dikirim

dari tempat yang entah berapa ribu langkah jauhnya,

tapi rasanya seperti dekat

karena dikirim dengan rasa.


Angin pesisir menyapa lewat layar,

sementara mata mencoba menerka

apakah di sana seseorang juga memikirkan hal yang sama.

Kadang jarak memang ajaib

semakin jauh, semakin terasa.


Hari ini, aku ingin menyapamu dengan diam,

dengan rindu yang tak perlu dijelaskan,

cukup lewat senyuman yang tertangkap kamera,

cukup lewat “pagi” yang tak pernah benar-benar biasa,

karena kamu adalah alasannya.


Kertas-kertas pun tahu rasanya rindu

Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,

tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.

Laptop menyala dalam sunyi,

mencatat rindu yang tak selesai-selesai.


Ada piagam, ada piala,

Kacamata tergeletak, diam saja,

tapi pernah melihat segalanya:

dari tawa yang hangat,

hingga tangis yang dipeluk malam.


Kertas-kertas itu,

seolah mengerti isi hati

mereka terbang ringan,

menuju namamu yang kusimpan rapi

di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.


Dan saat angin menyapa,

ia tak hanya membawa udara,

tapi juga pesan rindu…

yang perlahan terbang ke arahmu.


RINDU

Lucu ya,

kalau kamu jauh, aku bisa tiba-tiba kangen,

tapi kalau kamu dekat, meski jarang jumpa,

aku justru tenang.


Mungkin karena aku tahu,

kita sibuk bukan berarti saling lupa,

dan diam kita bukan akhir dari rasa.


Cinta kita tidak berisik,

ia tidak butuh kabar tiap jam

atau janji yang harus diulang-ulang.

Ia cukup tahu…

bahwa di sela kesibukan,

kita tetap saling titip nama

di dalam doa yang lirih.


PADATNYA SUNYI

Semakin sunyi seseorang,  

semakin ramai dunia yang ia bawa ke dalam dada.  

Bukan karena ia tak ingin bersuara,  

tetapi karena di balik diamnya,  

ada gugusan rencana,  

pikiran yang saling berdesakan,  

dan cita-cita yang belum sempat dirumuskan.


Langkahnya tenang,  

namun kepalanya riuh oleh tanya, oleh harapan yang ingin disusun,  

seperti langit senja yang tampak diam,  

padahal sedang menyimpan peralihan dari terang ke gelap.


Mereka yang sunyi bukan kosong,  

mereka penuh, oleh dunia yang tak semua orang bisa lihat,  

tapi Alloh tahu,  

dan di sanalah makna tinggal dalam senyap.




SEPERTI SENYUM YANG MENULAR

Seperti senyum, yang menular,  

ia berjalan dari wajah ke wajah,  

dengan langkah pelan tapi pasti,  

membawa terang pada hari yang biasa.


Kalau kau tersenyum hari ini,  

maka hatiku pun ikut bernyanyi,  

karena dalam senyummu ada aku,  

yang menemukan makna sederhana dari bahagia itu.


Tak perlu kata, tak perlu sapa,  

cukup lengkung kecil di bibirmu saja

maka dunia terasa lebih ramah,  

dan aku, tak lagi sendiri di dalamnya.


Rindu yang Turun Bersama Matahari

Pagi belum sepenuhnya bangun,

Tapi rinduku sudah duduk di sisi jendela.

Menyeruput hangat matahari,

Sambil membayangkan senyummu yang jauh di sana.


Angin pelan menyapu tirai,

seolah menyampaikan bisik:

“Dia juga merindukanmu, tenanglah.”


Tak ada yang lebih romantis

Dari pagi yang dibuka dengan doa untukmu.

Walau tak bersua,

Kita tetap satu arah:

Menuju hari yang penuh cinta, meski dari jarak


Kita Memandang Langit yang Sama

 Di malam yang diam,

Aku mencari wajahmu dalam cahaya bulan

Dan kusampaikan salam lewat bintang-bintang

Yang berpendar, menjadi saksi betapa rindu ini tak pernah redup.


Jarak memang membuat langkahmu tak terlihat,

Tapi doaku sudah lama lebih dulu sampai.

Sujud demi sujud, kusebut namamu

Dalam diam yang hanya Allah dengar.


Sebab cinta yang benar tak selalu bicara,

Tapi ia mendoakan.

Dan rindu yang suci

adalah yang tak memaksa, Hanya menunggu dalam sabar

Dan menyandarkan hatinya kepada Rabb yang Maha Membolak-balikkan rasa.


Jika kau tahu betapa sunyinya malam tanpa kabar,

Ketahuilah, ada zikir yang menyelipkan namamu,

Ada air mata yang jatuh,

bukan karena lemah,

Tapi karena berharap Allah menyatukan

Dua jiwa yang sama-sama memilih-Nya.


Malam ini aku menatap langit yang sama,

Seperti yang kau pandangi di tempatmu.

Di sanalah kita bertemu,

Dalam harap, dalam iman,

Dalam cinta yang tak pernah sendirian

Karena Allah selalu jadi perantara rindu 


BUKAN SEKEDAR USIA

 Dewasa bukan soal angka,

Bukan soal lilin yang makin Banyak di kue ulang tahun.

Ia tumbuh dari luka yang tak diumbar,

Dan pelajaran hidup yang tak selalu manis.


Ilmu bukan sekadar bacaan,

Tapi bagaimana ia meresap dalam sikap.

Pemahaman hadir bukan dalam teriak,

Tapi dalam diam yang memilih bijak.


Ada yang muda tapi sudah matang,

Ada yang tua namun masih belajar menimbang.

Karena hidup tak menunggu umur,

Tapi mengajarkan lewat setiap tikungan.


Dan mereka yang tahu kapan bicara,

Kapan diam,

itulah yang dewasa—sebenar-benarnya.


SELAMAT PAGI, LDR-KU

Selamat pagi, kamu yang Allah titipkan di kejauhan,

yang tak bisa kupeluk dengan tangan,

karena meski tak bisa saling genggam,

tapi selalu kutitipkan dalam setiap sujudku yang diam-diam.


Selamat pagi, kamu yang jauh tapi terasa dekat,

yang namanya kusebut, bahkan sebelum teh pertama tuntas kuteguk.

Jarak boleh sejauh awan dan laut,

tapi rinduku selalu tahu jalan pulang ke hatimu.


Jaga kesehatanmu.. itu juga bagian dari syukurku

Jaga dirimu, karena kamu berharga bukan hanya untukku,

tapi juga untuk tujuan besar yang Allah siapkan.

untuk keluarga dan masa depan

.

Dan jaga hatimu…

agar ia tetap suci,

agar cinta ini tetap berada di jalan yang Allah ridai,

karena aku tak hanya ingin bersamamu di dunia,

tapi juga di akhirat nanti.


JIKA PUISIKU HILANG

Di puisiku,

kau akan temukan air mata dan senyuman

menempel pada kaca yang sama

berembun oleh rasa,

bergetar oleh kenangan yang belum reda.


Satu sisi menyimpan luka

yang tak pernah berteriak.

Satu sisi memantulkan cahaya

yang tetap tersenyum,

meski hati belum utuh sepenuhnya.


Jika suatu hari puisiku hilang,

jangan panik,

jangan mencari-carinya di antara kertas yang berserakan.

Temukan aku

dalam suara hening

yang hanya bisa didengar oleh hati yang pernah mengenal sunyi.


Di sana,

aku akan tetap bercerita

tanpa huruf,

tanpa suara,

hanya lewat getar

yang kau rasakan saat menyebut namaku dalam doa.





KARENA ALLAH MAHA MELIHAT


Di jalan sunyi perjuangan,

Ada hati-hati yang tetap bertahan.

Tak digaji, tak selalu dipuji,

Tapi memilih melangkah demi kemanusiaan yang hakiki.


Ada yang memberi dengan diam,

Ada yang memberi dengan ramai.

Ada yang peduli sampai ke detail,

Bahkan memikirkan ongkos dan lelah yang mengiringi amal.


Terkadang harus merogoh saku sendiri,

Untuk administrasi, logistik, atau sekadar transportasi.

Namun semua dijalani dengan senyum,

Karena keyakinan bahwa semua ini bukan untuk dunia semata.


Dunia sosial memang tak selalu mudah,

Tak semua berjalan lurus seperti yang diharap.

Namun di tengah segala ujian dan celah,

Selalu ada cahaya: Allah yang Maha Melihat segala langkah.


Pejuang kemanusiaan tak selalu punya panggung,

Namun mereka punya langit sebagai saksi.

Tak selalu dipeluk oleh manusia,

Namun selalu dijaga oleh Yang Maha Cinta.


Teruslah melangkah,

Walau pelan, walau sendiri.

Karena di balik letih yang tersembunyi,

Ada pahala yang Allah simpan abadi.

PERTEMUAN YANG MEMBEKAS (aku tulis untuk sang leader CAA)

Bukan sekadar nama yang Kudengar dari layar,

Tapi jejak langkah yang menggerakkan banyak hati,

Tentang perjuangan, tentang kepedulian,

Yang tak pernah lelah meski harus menembus sunyi.


Hari ini, aku menatap sosok itu nyata,

Dengan mata berkaca, dada penuh haru,

Langkah kecilku tiba di samping orang besar,

Yang tetap sederhana dalam kebaikan yang tak pernah semu.


Terima kasih telah menjadi cahaya,

Bukan hanya di jalan mereka yang membutuhkan,

Tapi juga bagi kami yang sedang belajar mencintai sesama

Dengan cara paling tulus—tanpa banyak suara.


Cak Bolang Sang Explore 

Semoga Alloh jaga setiap langkahmu,

Dan kami di belakangmu…

Akan terus belajar untuk mengikuti jejak kebaikanmu.


SELAMAT PAGI SEMESTAKU

Selamat pagi, semestaku tersayang,

Yang kutitipkan rindu pada desir embun tenang.

Langitmu masih biru, walau hatiku kelabu,

Namun di sinimu, selalu ada ruang rindu yang syahdu.


Kupeluk pagi dengan mata setengah terbuka,

Menyusuri napasmu lewat sinar mentari yang pertama.

Kau ajari aku arti sabar dalam hembusan angin,

Dan tentang cinta yang tak pernah memilih untuk pergi.


Semestaku,

Kau bukan sekadar ruang tanpa suara,

Kau adalah tempat doaku berlabuh,

Saat kata tak cukup, dan dunia terasa lusuh.


Selamat pagi,

Untuk segala harap yang berani tumbuh lagi.

Untuk cinta yang diam-diam memeluk hati,

Dan semesta… yang tak lelah menuntunku kembali


LANGKAH YANG TERTUNDA

Di ujung senja ia berdiri,  

perempuan berhijab, menggenggam sunyi.  

Jalan di hadapannya berhiaskan cahaya lembut,  

tapi hatinya masih menimbang: siapa yang akan tinggal, siapa yang akan ikut.


Ia tahu arah

arah ke cahaya, ke cita-cita, ke ikhlas yang belum sepenuhnya tuntas.  

Tapi keberanian bukan hanya tahu,  

ia adalah doa yang digenggam erat dalam dada yang ragu.


Angin membelai jilbabnya pelan,  

seakan berkata: “tak apa jika belum sekarang.”  

Dan di langit senja yang mulai ungu,  

seekor burung melintas pelan, menjadi tanda…  

bahwa langkah itu akan datang, dengan izin-Nya.


YANG TAHU ARAH, BELUM TENTU BERANI MELANGKAH

Tak semua yang tahu arah

siap menantang gelapnya langkah.

Ada yang menyimpan peta dalam dada,

Namun tak pernah berani membuka gerbang pertama.


Karena tahu bukan berarti siap,

Dan sadar bukan berarti sanggup.

Kadang ada keraguan yang tertanam dalam,

Pengalaman hidup yang membuat hati jadi diam.


Berapa banyak jiwa yang menunggu,

Bukan karena tak tahu ke mana melaju,

Tapi karena takut meninggalkan zona semu

yang lama-lama mengurung jiwa dan waktu.


Padahal…

Arah hanyalah janji,

 Langkahlah bukti sejati.

Tanpa keberanian untuk mulai,

Takkan pernah sampai ke cahaya yang dituju.


Beranilah…

Meski gemetar,

Meski sendiri.

Karena yang benar-benar hidup

Adalah mereka yang memilih melangkah,

Bukan hanya mereka yang tahu arah.


24 JAM SERASA TAK CUKUP

Di balik senyum yang tetap terukir,  

ada tumpukan tugas yang tak kunjung berakhir.  

Laptop menyala, printer berdetak,  

telepon berdering, semua serba mendesak.  


Jam digital terus berlari,  

mengejar mimpi yang belum sempat ditulis lagi.  

Di kepala, suara-suara ingin berhenti,  

tapi hati tetap berbisik: "Bismillah, aku bisa hari ini."  


Meski waktu serasa tak cukup,  

aku tetap hadir, meski rapuh.  

Karena aku bukan sekadar sibuk,  

aku sedang bertumbuh


TOPENG TAWA

 Kamu tahu nggak…

Orang yang paling cerewet,

paling ramai dengan canda,

yang tampak paling kuat di mata dunia—

bisa jadi menyimpan luka

yang tak pernah sempat dicerita.


Depresi tak selalu berwajah murung,

kadang ia datang dengan senyum paling terang,

dengan tawa yang menggema,

yang ternyata hanya topeng semata.


Di balik candanya,

ada sunyi yang menggigit.

Di balik tawanya,

ada air mata yang sengit.


Jangan remehkan senyum orang lain,

karena bisa jadi,

itulah cara mereka bertahan hari demi hari


UJUG UJUG MELINTAS

Terkadang,  

tanpa aba-aba,  

aku tersenyum lirih,  

di tengah sepi yang bersandar di bahuku sendiri.  


Hanya karena wajahmu

datang,  

melintas pelan di kepala,  

seolah langit sore menitipkan bayangmu lewat angin.  


Efek rindu, mungkin.  

Atau doaku yang menjelma menjadi kenangan  

lalu singgah tanpa permisi—  

membuat dadaku hangat,  

meski kau tak di sin


DALAM DOA, AKU MENEMUKANMU

Setiap hari,  

aku belajar memelukmu dalam doa—  

bukan sekadar kata, tapi harap yang melekat  

di tiap helai sajadah yang basah oleh rindu.


Aku belajar,  

bahwa rindu tak selalu perlu reda,  

cukup ia kuat… agar tak patah.


Dan anehnya,  

dalam gelombang jarak yang sunyi,  

aku tetap bersyukur.


Karena dari jutaan kemungkinan,  

Tuhan memilihkan kamu—  

penenang yang tak bersuara,  

tapi mampu meredakan ributku,  

meski hanya dari kejauhan


BIAR ALLAH YANG MENYEMPURNAKAN

 Fokuskan hatimu dalam sujud yang jujur,  

di tiap lirih doa sebelum fajar beranjak.  

Ibadahmu—itulah penjagaanmu  

saat dunia gemuruh, Allah tetap dekat.


Berikan dengan lapang dari apa yang kamu bisa,  

walau hanya senyum atau secarik doa.  

Karena sedekahmu tak pernah sia-sia,  

meski manusia tak menyapa.


Usahamu mencari rezeki—cukupkan itu dengan ikhtiar,  

tak perlu memaksakan yang bukan takdirmu.  

Karena rezeki datang seperti hujan:  

tak selalu terlihat awalnya,  

tapi cukupkan tanah yang bersabar menunggu.


Dan semua hal yang membuatmu risau,  

biarkan Allah yang menyempurnakan,  

dengan kasih-Nya yang tak pernah absen,  

dan janji-Nya yang tak pernah lalai.


LELAKI YANG TAK PERNAH BERCERITA

Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,  

Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.  

Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,  

Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.


Lelaki itu...  

Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,  

Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.  

Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,

Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah  

yang mungkin belum lunas,  

Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.


Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.  

Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.  

Tapi setiap detik ia berjalan,  

ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:  

Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja


WELAS ASIH

Welas asih...  

bukan sekadar simpati yang singgah di permukaan,  

ia adalah pelukan yang diam-diam menyembuhkan,  

perasaan yang memahami sebelum dijelaskan,  

yang memilih untuk mengerti, bukan menghakimi.


Ia adalah cahaya

bukan hanya menerangi,  

tapi juga menghangatkan langkah jiwa yang tersesat.  

Sumber energi yang tak terlihat,  

namun mampu mengubah dunia yang terasa keras.


Welas asih adalah rasa…  

yang ketika dicubit sakit, memilih untuk tidak mencubit,  

yang ketika dilukai, tetap memberi ruang untuk damai.  

Karena ia tahu,  

kebaikan tidak tumbuh dari dendam,  

tapi dari keberanian untuk mencintai setulus hati




Semoga Allah berkahi Jumatku, dan Jumatmu

Dalam sunyi subuh yang berbisik lembut,  

kutitipkan harap di sela doa yang khusyuk.  

Agar setiap detak langkah kita hari ini,  

berjalan di bawah naungan ridha Ilahi.


Semoga Jumatku, dan Jumatmu,  

menjadi taman amal yang harum mewangi,  

dari salam hangat pada sesama,  

hingga bisikan syukur dalam hati yang tak henti.


Jika harimu lelah, semoga damai-Nya memeluk,  

jika harimu tenang, semoga syukurmu tak putus.  

Untukmu yang jauh namun dekat dalam doa,  

semoga berkah-Nya melimpah seluas samudra.


HARI INI

Hari ini bukan sekadar ulangan dari kemarin,  

tapi undangan baru dari Allah  

untuk mencoba lagi

lebih sabar, lebih ikhlas,  

lebih percaya bahwa kebaikan  

tidak pernah sia-sia.


Jika langkahmu terasa lambat,  

ingat: bunga pun tak mekar dalam sehari.  

Tugasmu bukan berlari kencang,  

tapi tetap berjalan walau pelan,  

asal arahmu tetap pada harapan


PAGI ADALAH BUKU SEGALA KEMUNGKINAN

 Pagi adalah buku segala kemungkinan,

Dengan halaman-halaman putih yang menunggu disentuh niat,

Namun bila kau membuka lembar pertamanya  

dengan beban ekspektasi yang melambung,  

Maka bisa jadi hanya sunyi yang menjawab,  

Hampa yang bersuara paling lantang.


Tapi lihatlah...  

Saat kau hirup kelegaan dalam embun,  

Merasakan kesejukan angin menepuk pelipis,  

Menyerap kebeningan cahaya pertama,

Kau pun sadar,  

Euforia itu tidak terletak pada hasil,  

Melainkan pada kesempatan  

untuk hidup hari ini...  

sekali lagi.


Karena, bukankah bisa saja  

Kau tak bangun lagi pagi ini?  

Namun Alloh memilihkan yang lain:  

Kesempatan.  

Untuk mencintai, berbuat baik,  

Dan menyadari bahwa hidup itu sendiri  

Adalah anugerah yang tidak diulang


AKU MENULIS PUISI TENTANG KAMU

Aku menulis puisi tentang kamu

bukan karena kata-kata itu manis,  

tapi karena di matamu,  

semua luka bisa berubah jadi doa yang tenang.


Aku menulis puisi tentang kamu,  

sebab diam-mu lebih jujur dari ribuan bait—  

dan dalam senyum kecilmu,  

aku menemukan alasan untuk percaya lagi.


Bukan cuma tinta yang bicara,  

tapi rindu, syukur, dan harap yang kau ajarkan tanpa sadar.  

Kamu...

adalah puisi yang tak pernah selesai kutulis.


Selamat Datang, Pakde dan Toyik (Misi ke 12)

Langkah kalian datang bukan hanya sekadar hadir,  

tapi membawa niat, cinta, dan harapan yang tak pernah letih berpikir.  

Di antara reruntuh sunyi dan rumah yang menanti pelukan,  

kalian datang membawa atap harapan dan dinding perjuangan.


Pakde dengan langkah teduhnya,  

Toyik dengan senyum yang menyala,  

berdua menyatu dalam kisah para pejuang  

yang tak hanya membangun rumah, tapi juga membangkitkan jiwa-jiwa yang pernah kehilangan.


Ini bukan sekadar misi,  

ini perjalanan cinta yang dibungkus dalam video,  

disaksikan ribuan mata, tapi dikerjakan dengan hati yang sunyi  

tanpa pamrih.


Selamat datang dalam pelukan Misi Ke-12,  

di mana CAA bukan hanya nama,

tapi cahaya yang menuntun langkah bagi anak-anak yang tak lagi punya rumah untuk pulang.  

Kini mereka punya tempat,  

punya cerita,  

karena kalian memilih untuk datang dan menjadi bagian dari keajaiban itu.


Batang,11 Juni 2025

CAA Lovers


DI ANTARA MEREKA

Ada yang menunggu,  

menunggu kau hancur, jatuh, tenggelam  

seperti malam menanti fajar terlambat datang.  


Ada yang berharap,  

berharap kau lelah, menyerah  

seperti angin menguji nyala api kecil di tepi jalan.  


Ada yang menginginkan,  

ingin melihatmu rapuh, terbawa arus, hilang arah  

seperti daun gugur yang tak lagi berpijak.  


Namun, kau bukan malam yang ditelan gelap,  

kau adalah cahaya yang menembus batas.  

Kau bukan api yang mudah padam,  

kau adalah bara yang tak gentar pada angin.  

Kau bukan daun yang menyerah pada musim,  

kau adalah akar yang menolak tercerabut.  


Biarlah mereka menunggu, berharap, menginginkan.  

Sebab kau melangkah bukan untuk jatuh,  

melainkan untuk berdiri lebih tegak, lebih kuat,  

lebih tak terkalahkan.


PAGI DUNIA

Dalam ritme waktu yang terus berjalan,  

Rutinitas kadang terasa membosankan.  

Namun jika hasilnya untuk kebaikan,  

Jangan biarkan ia menghilang dalam keluhan.  


Lakukan dengan hati yang tenang,  

Dengan senyuman yang tak pernah padam.  

Sebab dalam setiap usaha yang kau berikan,  

Ada cahaya yang tumbuh dan berkembang.  


Selamat pagi, untuk langkah yang baru,  

Untuk harapan yang mengalun dalam semesta.  

Semoga hari ini membawa terang,  

Sebagaimana mentari yang menyapa dengan hangat


AKU DIAM MENDOAKANMU

Tak kupanggil namamu,  

tapi kutitipkan pada angin subuh  

agar sampai di sela-sela langkahmu  

sebagai pelindung yang tak tampak,  

sebagai harap yang tak lekang.


Aku tak hadir di hadapanmu,  

tapi dalam setiap sujud,  

ada namamu yang tak pernah luput—  

kusisipkan dalam sunyi,  

karena mencintaimu,  

adalah menjaga dari jauh  

tanpa harus kau tahu


HUJAN DI MALAM HARI

 Hujan turun tanpa ragu,

membasuh malam yang dulu pilu.

Langit menangis lirih di luar jendela,

seakan menyapa jiwa yang diam berbicara.


Tiap tetesnya mengetuk hati,

membawa ingatan yang sulit pergi.

Tentang senyum, tawa, juga luka,

semuanya larut dalam gerimis yang mereda.


Di balik tirai gelap malam,

hujan adalah doa yang diam-diam.

Meninabobokan rindu dan harap,

di pelukan malam yang hangat meskipun basah.


Maka tidurlah 

biarkan hujan menjagamu dengan cinta.

Esok pagi akan lebih terang,

karena malam ini… hujan telah datang


SENJA YANG KURINDU

 Senja, kau datang membawa rindu,  

melukis langit dengan warna yang tak pernah jemu.  

Di tepi pantai, aku duduk menulis,  

huruf-huruf berlari mengejar kenangan manis.  


Debur ombak membisikkan cerita,  

tentang langkah yang dulu menyusuri pesisirnya.  

Ada dia di sampingku, diam namun dekat,  

senja menjadi saksi, hati yang erat.  


Andai waktu bisa berhenti sejenak,  

biarkan rindu ini bercengkerama dengan senja,  

biarkan kata-kata tak hanya tertulis,  

tapi juga terbaca di hati yang memahami


TAHUN BARUKU MASIH BERJARAK

Hari ini,

bulan menyapu langit dengan cahaya yang pelan,

dan aku berdiri di antara jejak yang kutinggalkan

seraya memeluk harapan yang baru kupintal.


Tahun baruku bukan sekadar tanggal,

ia adalah zikir yang kusematkan di dada,

doa yang kutanam di sepi malam,

dan luka yang perlahan kupelajari untuk sembuhkan.


Aku melangkah,

tidak lagi mengejar sempurna,

tapi memilih menjadi lebih bermakna.

Dengan segala letih, ragu, dan syukur yang tak putus-putus,

aku ucapkan:

Selamat datang, tahun hijrahku.




SELAMAT DATANG TIM CAA

Selamat Datang TIM CAA 

Di Kabupaten Batang


Masyaa Alloh tabarakalloh..

Selamat datang para insan hebat, TIM CAA yang datang bukan sekadar membantu,

Tapi membangunkan rumah cinta untuk anak-anak yatim piatu


Langkah kalian bukan langkah biasa,

Tapi langkah besar menuju surga, karena niat tulus tak pernah sia-sia.

Kalian membangun bukan hanya tembok dan atap,

Tapi tempat berteduhnya hati-hati kecil yang lama menanti hangatnya pelukan dunia.


Semoga setiap keringat yang jatuh, jadi saksi cinta dan amal jariyah yang terus mengalir

Semoga setiap batu bata yang ditata, jadi pondasi berkah dunia akhirat.

Dan kelak, jika anak-anak itu dewasa,  

mereka akan berkata, "Di sinilah kami belajar…  

bahwa kasih itu nyata, dan dibangun oleh tangan-tangan yang percaya

Terima kasih

Allah bersama kalian. 💪

Kita bersama kalian. 🤍

Langit mencatat semuanya... insyaa Alloh...


#misike12

🕹️Ds Tedunan, Kec.Gringsing, Kab.Batang


MATAHARIKU

Aku memanggilnya matahariku

Poros dari setiap langkah yang kubuat.  

Seperti bunga matahari, aku menengadah,  

Mengikuti sinarnya tanpa ragu.  


Ia membakarku, tapi dalam cahayanya, aku mekar.  

Hangatnya bukan sekadar luka, tapi pertumbuhan.  

Aku menari dalam sorotnya, mencari makna,  

Hingga suatu ketika, ia lenyap dari cakrawala.  


Tanpa kehadirannya, daun-daunku merunduk,  

Kelopak yang mekar, kini tertunduk lesu.  

Aku bertanya pada angin, apakah matahariku tahu?  

Bahwa tanpanya, aku perlahan layu


JEJAK YANG TAK TERHAPUS

 Dalam hidup,  

kadang dibenci, kadang disukai,  

kadang dicari, kadang diabaikan,  

kadang dilupakan…  


Namun langkah tak berhenti,  

karena hidup adalah tentang menerima,  

tentang bertahan saat angin menerpa,  

tentang terus melangkah tanpa ragu,  

tanpa kehilangan jati diri.  


Biar waktu menguji,  

biar dunia mengubah wajahnya,  

jiwa yang teguh tetap berdiri,  

menjadi kisah yang tak terhapus oleh lupa


Karena Allah, Segalanya Indah

Teruslah berlatih,

Meski letih memeluk setiap jengkal napas yang pasrah.

Teruslah berkarya,

Meski pujian tak pernah singgah,

Dan karya terdiam tanpa suara.


Percayalah…

Lelahmu bukan sia-sia,

Air matamu bukan sekadar luka.


Sebab ketika niatmu lurus karena-Nya,

Langit pun mencatat setiap langkah setia.

Dan semua yang kau rasa perih

Akan berubah menjadi berkah yang bersih,

Menjadi keindahan,

Dalam pandangan Tuhan




Manis yang Tak Terjamah

 Lebih baik teguk pahitnya kenyataan,  

Daripada menunggu manis yang tak kunjung tiba,  

Sebab luka yang jujur lebih menenangkan,  

Daripada harapan yang hanya fatamorgana.  


Pahit itu mengajar, mendewasakan,  

Ia tak menipu, tak berjanji palsu,  

Sedang angan yang terlalu indah,  

Seringkali berakhir menjadi abu.  


Maka biarkan lidah mencicipi getirnya hidup,  

Sebab dari sana kita belajar makna syukur,  

Tak semua pahit adalah duka,  

Tak semua manis adalah bahagia