Aku menghabiskan waktuku
Bukan untuk menghapus luka,
Tapi untuk mencari
Satu titik ikhlas
Yang bisa menetap
Di antara reruntuhan kecewa
Yang terus-menerus
Memanggil namaku.
Aku mencoba berdamai,
Dengan segala hal yang tak bisa kupeluk
Dengan segala harapan
Yang patah bahkan sebelum tumbuh.
Berjuta-juta ketidakterimaan
Berdesakan dalam dadaku,
Seperti tamu tak diundang
Yang menolak pulang.
Dan setiap malam,
Aku tenggelam perlahan
Dalam lautan kecewa
Yang dinginnya menusuk
Hingga ke tulang paling dalam.
Namun di tengah tenggelam itu,
Ada setitik harapan,
Bahwa aku masih bisa bernapas,
Meski hanya dengan air mata.
Aku ingin satu hal saja
Ikhlas.
Bukan pasrah,
Bukan menyerah.
Tapi sebuah ikhlas yang tumbuh
Karena aku memilih untuk memahami,
Bukan melupakan.
Yang datang bukan karena aku kuat,
Tapi karena aku lelah,
dan tahu…
Allah tak pernah benar-benar meninggalkan
