Aku memanggilnya matahariku
Poros dari setiap langkah yang kubuat.
Seperti bunga matahari, aku menengadah,
Mengikuti sinarnya tanpa ragu.
Ia membakarku, tapi dalam cahayanya, aku mekar.
Hangatnya bukan sekadar luka, tapi pertumbuhan.
Aku menari dalam sorotnya, mencari makna,
Hingga suatu ketika, ia lenyap dari cakrawala.
Tanpa kehadirannya, daun-daunku merunduk,
Kelopak yang mekar, kini tertunduk lesu.
Aku bertanya pada angin, apakah matahariku tahu?
Bahwa tanpanya, aku perlahan layu
