Tampilkan postingan dengan label catatan penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan penulis. Tampilkan semua postingan

Sing Tenang

Bismillahirrahmanirrahim...

Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.

Aku bertanya,

"Kenapa aku bisa setenang ini?"

Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.

Masih ada gaji yang harus kubayarkan.

Masih ada kebutuhan sehari-hari.

Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.

Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,

"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."

Aku tersenyum sendiri.

Apakah aku terlalu cuek?

Apakah aku terlalu nekat?

Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?

Aku teringat perjalanan panjangku.

Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.

Aku membiasakan diri bershalawat.

Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.

Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.

Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit.

Ditempa oleh ujian demi ujian.

Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.

Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.

Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.

Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.

Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.

Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.

Emosi tidak menambah rezeki.

Konflik hanya menguras tenaga.

Kalau ada masalah besar, kecilkan.

Kalau ada masalah kecil, hilangkan.

Itu yang selalu kuusahakan.

Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.

Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.

Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,

"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."

Aku tidak menyangkalnya.

Tetapi aku juga berkata dalam hati,

"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"

Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.

Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.

Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.

Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.

Aku masih ingin menulis.

Aku masih ingin berkarya.

Aku masih ingin kuliah lagi.

Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.

Hatiku hanya berkata,

"Bismillah... sing tenang."

Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.

Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.

Ya Allah...

Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



Jalur Langit Tak Pernah Tutup

Malam itu, sebuah puisi telah kutitipkan untuk mengikuti lomba cipta puisi tingkat nasional.

Banyak orang mungkin mengira setelah menekan tombol "kirim", pikiranku akan dipenuhi rasa penasaran. Barangkali aku akan terus membuka laman pengumuman, menghitung hari, atau membayangkan hasilnya.

Namun, justru sebaliknya.

Setelah puisi itu terkirim, aku memilih menutup laptop dan membuka sajadah.

Aku tidak membawa lagi puisi itu dalam doaku.

Aku percaya, jika ikhtiar sudah selesai, maka hasilnya adalah wilayah Allah.

Yang kubawa justru nama ibuku yang telah berpulang. Malam itu aku menunaikan shalat taubat, menghadiahkan doa untuk beliau, sekaligus memohon ampun atas dosa-dosaku sendiri. Setelah itu kulanjutkan dengan tahajud dan shalat hajat.

Aku tidak berkata,

"Ya Allah, jadikan puisiku juara."

Aku juga tidak berkata,

"Ya Allah, menangkan aku."

Doaku tetap sama seperti hari-hari biasa.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Aku memohon perlindungan dari lilitan hutang.

Aku memohon agar Allah menyelamatkanku dari jeratan hutang yang masih mengiringi langkahku.

Aku bahkan tidak pernah meminta secara khusus,

"Ya Allah, lunaskan hutangku."

Sebab aku percaya, ketika Allah melapangkan rezeki, menghadirkan keberkahan, dan mencukupkan hamba-Nya, maka jalan untuk melunasi hutang akan terbuka dengan sendirinya.

Selesai bermunajat, aku bersahur sederhana.

Segelas susu kedelai dan umbi-umbian.

Nikmat yang mengingatkanku bahwa syukur tidak pernah diukur dari kemewahan hidangan, tetapi dari hati yang menerima.

Menjelang Subuh, ketika tahrim mulai terdengar dari masjid, aku teringat bahwa waktu itu termasuk saat yang sangat berharga untuk berdoa.

Aku mengirimkan doa kepada sepuluh orang baik yang Allah hadirkan dalam hidupku.

Semoga kebaikan mereka kembali kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari Allah.

Lalu lisanku terus bergerak.

"Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir."

Ratusan kali.

Kemudian doa Nabi Yunus.

Empat puluh satu kali.

Setelah azan Subuh berkumandang, kutunaikan shalat sunah fajar, lalu kuhiasi pagi dengan dzikir, istighfar, dan doa.

Shalat Subuh.

Sedekah Subuh.

Membaca Surah Yasin, Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Setelah semuanya selesai, tanganku meraih tasbih digital yang baru saja Allah titipkan melalui kebaikan seorang sahabat.

Kubuka pagi dengan Shalawat Ibrahimiyah seratus kali.

Lalu Shalawat Jibril seribu kali.

Begitulah aku memulai hari.

Bukan dengan membuka media sosial.

Bukan dengan mengecek hasil lomba.

Bukan pula menghitung kekurangan hidup.

Tetapi dengan mengingat Allah.

Barulah setelah hati terasa tenang, kubuka laptop.

Draft novel yang semalam kutinggalkan kembali menunggu untuk diselesaikan.

Hari ini aku kembali menulis.

Karena aku percaya...

Hasil adalah rahasia Allah.

Sedangkan ikhtiar adalah amanahku.

Mungkin puisi itu akan menang.

Mungkin juga belum.

Tetapi jalur langit yang kutempuh malam itu telah mengajarkanku satu hal:

Ketika sebuah urusan sudah diserahkan kepada Allah, hati menjadi lebih ringan untuk melangkah menuju amal berikutnya.

Dan mungkin...

Itulah kemenangan pertama yang Allah berikan, bahkan sebelum pengumuman lomba diumumkan.




Modal Pertamaku Bernama Bismillah

Malam ini aku kembali menulis. Bukan tentang novel. Bukan pula tentang yayasan. Melainkan tentang perjalanan kecil yang baru saja dimulai.

Beberapa hari lalu aku resmi menjadi Agen BRILink.

Kalau orang bertanya, "Modalnya berapa?"

Aku mungkin hanya tersenyum.

Sebab sejujurnya, modal pertamaku adalah Bismillah.

Bukan berarti aku mengabaikan ikhtiar. Justru karena aku sadar modal yang kumiliki belum banyak, aku belajar menghargai setiap transaksi yang datang.

Hari-hari pertama menjadi agen ternyata penuh cerita.

Aku sempat bingung menentukan tarif.

Bingung mencatat pembukuan.

Bingung membedakan biaya admin dan jasa agen.

Bahkan transfer pertama membuatku deg-degan.

Ada pelanggan yang membeli pulsa.

Ada yang membeli token listrik.

Ada yang transfer ke bank lain.

Ada pula yang ingin membayar tagihan listrik sekitar delapan ratus lima puluh ribu rupiah.

Sayangnya, saat itu limit yang tersedia di aplikasiku hanya sekitar lima ratus ribu rupiah.

Aku tidak mencari alasan.

Aku hanya berkata jujur,

"Mohon maaf, Pak. Saat ini saya belum bisa melayani nominal sebesar itu."

Beliau kemudian melanjutkan pembayaran di tempat lain.

Aneh ya...

Aku tidak merasa gagal.

Justru aku merasa sedang belajar menjaga kepercayaan.

Lebih baik mengatakan belum mampu daripada memaksakan sesuatu yang belum bisa kulakukan.

Malam demi malam, aku juga mulai belajar tentang pembukuan.

Mana transaksi pelanggan.

Mana transaksi pribadi.

Mana yang menjadi pendapatan usaha.

Mana yang tidak boleh dicampur.

Aku ingin usaha kecil ini bertumbuh dengan tertib.

Aku juga sempat berpikir tentang Dana Talangan.

Bukan karena ingin memiliki uang.

Tetapi karena terlintas keinginan sederhana.

"Kalau suatu hari ada pelanggan dengan transaksi besar, semoga aku tetap bisa melayaninya."

Namun aku juga belajar, setiap fasilitas harus dipahami terlebih dahulu.

Tidak semua yang tersedia harus langsung digunakan.

Ada hal lain yang membuatku tersenyum malam ini.

Ternyata sejak resmi menjadi agen, sudah ada sekitar dua puluh transaksi.

Mungkin bagi sebagian orang angka itu kecil.

Tetapi bagiku, dua puluh transaksi berarti dua puluh kali seseorang mempercayakan uangnya kepadaku.

Dan kepercayaan selalu lebih mahal daripada angka.

Aku masih malu bertanya kepada pendamping BRI.

Masih khawatir dianggap terlalu baru.

Masih takut terlihat belum bisa.

Namun aku mulai menyadari...

Belajar bukanlah sesuatu yang memalukan.

Yang memalukan adalah berpura-pura tahu, padahal belum paham.

Malam ini aku menutup buku pembukuan dengan satu doa.

Semoga suatu hari nanti, ketika buku ini telah penuh oleh catatan transaksi, aku masih mengingat malam-malam ketika semuanya berawal dari kebingungan rasa malu, dan keberanian kecil untuk terus belajar.

Karena mungkin...

Allah tidak langsung memberiku modal yang besar.

Tetapi Allah memberiku pelanggan, satu per satu.

Dan mungkin memang begitulah cara Allah mengajarkan aku membangun usaha.

Pelan-pelan.

Sedikit demi sedikit.

Dengan jujur.

Dengan amanah.

Dan selalu dimulai dengan satu kalimat yang sama.

Bismillahirrahmanirrahim.


Refleksi Malamku

"Ya Allah... aku tidak meminta jalan yang mudah. Aku hanya memohon agar Engkau selalu membersamai setiap langkah kecilku. Jadikan setiap transaksi sebagai amanah, setiap pelanggan sebagai jalan rezeki yang halal, dan setiap kebingungan sebagai pintu ilmu. Jika hari ini usahaku masih kecil, berkahilah yang kecil itu hingga tumbuh dengan cara yang Engkau ridhai."

Allahumma yassir wa la tu'assir.

Allahumma barik fi rizqi.

Allahumma aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Uangnya dari Mana?"

 "Uangnya dari mana?"

Pertanyaan itu beberapa kali mampir kepadaku.

Mungkin karena orang melihat aku masih bisa menggaji seseorang yang membantuku setiap hari. Masih membayar listrik, WiFi, membeli obat-obatan, dan memenuhi kebutuhan hidup.

Aku mengerti jika mereka bertanya.

Kalau melihat dari luar, memang semuanya tampak membingungkan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Aku masih harus berhitung.

Masih ada kebutuhan yang datang setiap bulan.

Masih ada hari-hari ketika aku harus benar-benar mengatur pengeluaran dengan hati-hati.

Bahkan, ada kalanya aku harus berutang agar kebutuhan yang mendesak tetap terpenuhi.

Namun aku selalu berusaha untuk tidak lari dari tanggung jawab.

Sedikit demi sedikit, aku berusaha melunasinya.

Alhamdulillah, Allah selalu membukakan jalan.

Lalu... apakah aku hidup sendirian?

Tidak.

Dan aku tidak ingin menghapus bagian itu dari cerita hidupku.

Allah menghadirkan sahabat-sahabat yang luar biasa.

Mereka bukan hanya bertanya, "Apa kabar?"

Sebagian dari mereka, dengan penuh ketulusan, rutin mengirimkan bantuan setiap bulan.

Ada yang membantu membeli obat.

Ada yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mereka tahu keadaanku. Mereka tahu aku sedang berjuang. Dan mereka memilih menjadi bagian dari perjuangan itu.

Aku tidak melihatnya sebagai sekadar bantuan.

Aku melihatnya sebagai kasih sayang Allah yang datang melalui tangan-tangan hamba-Nya.

Karena itu, jika ada yang bertanya,

"Rezekinya dari mana?"

Aku akan menjawab dengan penuh keyakinan,

"Dari Allah."

Allah yang menggerakkan hati sahabat-sahabatku.

Allah yang memberiku kesempatan untuk terus menulis.

Allah yang membukakan jalan melalui usaha kecil yang sedang kurintis.

Allah yang menguatkanku untuk terus berikhtiar.

Allah pula yang berkali-kali mencukupkan, ketika hitung-hitungan manusia berkata, "Seharusnya tidak cukup."

Aku belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu turun dalam bentuk uang yang melimpah.

Kadang Allah menghadirkan orang-orang baik.

Kadang Allah memberi kesehatan untuk terus berusaha.

Kadang Allah memberi ketenangan agar hati tidak putus asa.

Dan sering kali...

Allah memberi lebih dari yang mampu kusyukuri.

Aku teringat firman Allah:

"...Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat itu selalu menguatkanku.

Terlebih setelah aku melewati banyak hal dalam hidup.

Aku percaya, Allah tidak pernah terlambat menolong.

Tidak selalu dengan cara yang kuinginkan.

Tetapi selalu dengan cara yang kubutuhkan.

Karena itu, hari ini aku tidak ingin menghitung berapa kali aku merasa kekurangan.

Aku ingin menghitung berapa kali Allah mencukupkan.

Dan ternyata...

Jumlahnya jauh lebih banyak.

Sing tenang...

Karena Allah Maha Kaya.

Afirmasi Doaku:

Bismillahirrahmanirrahim...

Allahumma sugeh...

Allahumma duit okeh...

Allahumma sehat...

Allahumma bahagia...

Allahumma sukses dunia akhirat...

Aghnini bifadhlika 'amman siwak.

"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin. Aamiin ya Mujibassailiin. 🤲

 


Terima Kasih untuk Tim Kuasa Hukumku

 Bismillahirrahmanirrahim...

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Hari ini, Allah mengizinkan satu perjalanan panjang dalam hidupku sampai pada titik akhirnya.

Gugatan perceraianku telah dikabulkan oleh Pengadilan Agama.

Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati dan sebaik-baik Penolong.

Di balik setiap proses yang telah kulalui, ada banyak orang yang Allah hadirkan sebagai jalan pertolongan.

Melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Tim Kuasa Hukum dari LBH Garda Keadilan Indonesia.

Terima kasih telah mendampingi setiap proses sejak awal hingga putusan dibacakan.

Terima kasih atas kesabaran dalam memberikan arahan, menjawab setiap pertanyaan, serta mendampingi setiap tahapan persidangan dengan profesional.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah perkara hukum.

Namun bagiku, ini adalah perjalanan yang penuh doa, air mata, dan harapan untuk memperoleh satu hal yang sederhana.

Kejelasan status.

Alhamdulillah...

Hari ini Allah mengabulkan doa itu.

Aku juga menyadari bahwa keberhasilan sebuah proses tidak pernah berdiri sendiri.

Ada ikhtiar.

Ada ilmu.

Ada kerja keras.

Dan di atas semuanya...

Ada pertolongan Allah.

Semoga setiap waktu, tenaga, ilmu, dan kebaikan yang telah diberikan kepada klien-kliennya menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah membalas dengan kesehatan, keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, serta perlindungan di dunia dan akhirat.

Aku juga mendoakan semoga LBH Garda Keadilan Indonesia semakin maju, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin banyak menjadi jalan hadirnya keadilan bagi mereka yang membutuhkan pendampingan hukum.

Kini tinggal satu langkah administrasi yang tersisa, yaitu pengambilan Akta Cerai yang juga akan diurus oleh tim kuasa hukum.

Insyaa Allah, semoga Allah mudahkan hingga seluruh proses benar-benar selesai dengan baik.

Sekali lagi...

Terima kasih.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih baik.

Jazakumullahu khairan katsiran.

🤲 Barakallahu fiikum.

Ya Allah...

Limpahkanlah rahmat-Mu kepada seluruh tim kuasa hukum yang telah menjadi jalan pertolongan bagi banyak orang.

Berikan kesehatan, keberkahan umur, keluasan rezeki yang halal, kemudahan dalam setiap langkah, dan jadikan setiap ilmu serta tenaga yang mereka berikan sebagai amal saleh yang Engkau lipatgandakan pahalanya.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin. Aamiin ya Mujibassailin.


 

 "Terima kasih telah menjadi bagian dari ikhtiar saya. Selebihnya, saya meyakini bahwa Allah-lah sebaik-baik Penolong dan sebaik-baik Pemberi Keputusan."

Ketika Allah Mengajarkanku Berdiri

Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa hari ini tubuhku sedang beristirahat.

Saluran pipisku terluka.

Efek obat membuatku lebih banyak tidur.

Namun Alhamdulillah, aku masih Allah kuatkan untuk menjalani Puasa Daud.

Di sela-sela rasa sakit itu, ada satu urusan besar yang juga sedang berjalan.

Sidang perceraianku.

Tanggal 2 Juli, sidang berlangsung dengan baik.

Kini aku hanya menunggu keputusan pada tanggal 8 Juli.

Aku sudah menyerahkannya kepada Allah.

Aku tidak datang untuk memperpanjang luka.

Aku juga tidak datang untuk menuntut ini dan itu.

Yang kuinginkan hanyalah kejelasan status agar aku bisa melanjutkan hidup dan mengurus kebutuhan yang memang harus kuselesaikan.

Tentang masa lalu...

Biarlah Allah yang menjadi sebaik-baik Hakim.

Aku memilih melangkah ke depan.

Namun rupanya, setelah satu ujian berlalu, Allah kembali menghadirkan ujian yang lain.

Bulekku yang selama ini membantuku memutuskan berhenti bekerja karena ingin mencoba peruntungan di pabrik.

Aku ikut mendoakan semoga Allah memberikan yang terbaik untuknya.

Walaupun, jujur saja, aku kembali harus memulai dari awal.

Mencari orang baru.

Belajar lagi.

Menyesuaikan lagi.

Di tengah kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih.

Kadang aku bertanya dalam hati,

"Ya Allah... hari ini aku masih mampu berusaha seperti ini. Bagaimana kalau suatu hari nanti aku benar-benar tidak mampu?"

Pertanyaan itu datang.

Lalu aku terdiam.

Karena aku sadar...

Bukankah selama ini Allah selalu menunjukkan bahwa pertolongan-Nya tidak pernah habis?

Orang yang datang mungkin berganti.

Yang membantu mungkin berbeda.

Tetapi Allah tetap sama.

Dialah yang tidak pernah meninggalkanku.

Aku juga teringat perjalanan hidupku.

Aku belajar menjalani kehidupan dengan keadaan yang Allah tetapkan.

Mungkin itulah sebabnya aku sering berdoa,

Allahumma Sugih.

Bukan karena ingin hidup bermewah-mewahan.

Tetapi karena aku ingin memiliki kemampuan untuk tetap berdiri.

Untuk menggaji orang yang membantuku.

Untuk menghidupkan yayasan.

Untuk bersedekah.

Untuk terus menulis.

Dan untuk tidak menjadi beban bagi siapa pun.

Aku percaya...

Allah mengetahui isi hati yang tidak selalu mampu kuucapkan.

Hari ini aku kembali belajar.

Kekuatan bukan berarti tidak pernah lelah.

Kekuatan adalah tetap percaya kepada Allah, bahkan ketika tubuh sedang sakit dan jalan di depan belum terlihat jelas.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.

#LangitDiDada


Ketika Rezeki Berubah Menjadi Peluang

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini kembali mengajarkanku bahwa Allah sering kali bekerja dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Pagi ini, setelah menunaikan salat Dhuha, aku melanjutkan menulis novel bab baru novelku di KBM App

Satu bab selesai kutulis.

Entah karena semalam kurang istirahat atau memang tubuh sedang lelah, aku tertidur di depan laptop.

Begitu terbangun, aku melihat dua panggilan WhatsApp dan beberapa pesan yang belum sempat kubaca.

Aku membukanya.

Ternyata dari petugas BRI.

Beliau memberi kabar bahwa rekannya akan datang ke rumah untuk melakukan survei.

Beberapa bulan yang lalu aku memang mendaftarkan diri menjadi Agen BRILink tanpa mesin EDC.

Kalau dipikir-pikir, mungkin orang akan bertanya,

"Berani sekali?"

Aku hanya bisa tersenyum.

Karena sebenarnya modal terbesarku bukan uang.

Modal terbesarku adalah Bismillah.

Dan keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya.

Aku memang belum memiliki modal besar.

Tetapi rekeningku hampir setiap hari menjadi saksi.

Ada uang yang masuk.

Lalu keluar lagi.

Untuk kebutuhan

Untuk menggaji orang-orang yang bekerja.

Untuk berbagai amanah yang Allah titipkan.

Lalu mengapa aku tetap mendaftar menjadi Agen BRILink?

Karena aku tidak sedang berpikir untuk sehari.

Tidak juga untuk sebulan.

Aku sedang belajar mempersiapkan sesuatu yang bisa menjadi ikhtiar jangka panjang.

Selama ini aku sering melakukan transaksi.

Mengapa tidak memiliki layanan sendiri?

Kalau Allah berkenan memberikan rezeki melalui usaha ini, aku sudah memiliki niat sejak awal.

Tujuh puluh persen untuk kebutuhanku.

Tiga puluh persen untuk kas yayasan.

Mungkin jumlahnya belum besar.

Tetapi sedikit demi sedikit, semoga bisa menjadi salah satu sumber pemasukan yang halal dan berkelanjutan.

Selama ini ketika ada yang bertanya,

"Yayasannya punya usaha apa?"

Aku sering tersenyum.

Insyaa Allah...

Hari ini aku mulai memiliki jawaban.

Ini adalah salah satu ikhtiar kecil.

Setelah semua proses selesai, aku kembali bercerita kepada sahabatku yang juga menjadi pembina yayasan.

Karena Agen BRILink tanpa EDC tidak mencetak bukti transaksi, aku berpikir untuk membeli printer Bluetooth agar pelanggan tetap bisa menerima bukti pembayaran.

Aku teringat...

Pagi tadi Allah mengirimkan rezeki melalui sahabatku.

Dan tanpa kusangka, rezeki itu langsung menemukan tempatnya.

Untuk membeli perlengkapan usaha yang baru saja Allah bukakan jalannya.

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad, Wa alaa ali Sayyidina Muhammad

Menjelang Magrib, beduk berkumandang.

Aku membatalkan puasa dengan seteguk air putih.

Lalu seperti biasa, aku berdoa.

Namun sore ini ada doa yang terasa lebih panjang.

Lebih khusus.

Aku menyebut nama sahabat baikku.

Sahabat sejak kecil.

Yang hari ini kembali Allah jadikan perantara datangnya rezeki.

Aku belajar lagi.

Terkadang kita mengira Allah sedang memberi kita uang.

Padahal sesungguhnya Allah sedang memberi kita kesempatan.

Kesempatan untuk memulai sebuah usaha.

Kesempatan untuk membangun masa depan.

Kesempatan untuk menghadirkan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi yayasan yang sedang diperjuangkan.

Hari ini aku kembali diingatkan.

Bahwa ketika niat diarahkan kepada kebaikan, Allah mampu mempertemukan satu rezeki dengan rezeki lainnya.

Satu bantuan dengan satu peluang.

Dan satu doa dengan satu jawaban.


SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.

LangitDiDada 


Allah Menjawab Sebelum Aku Selesai Khawatir

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku kembali menjalani Puasa Daud.

Sieharian tadi aku sengaja mengingatkan semua yang ada di rumah.

Malam ini adalah malam menjelang purnama (Full Moon)

Aku selalu mengajak diri sendiri dan orang-orang di sekitarku untuk menjaga hati.

Jangan mudah sedih.

Jangan mengeluh.

Jangan mudah emosi.

Bukan hanya ketika bulan sedang penuh.

Tetapi setiap hari.

Karena hati yang tenang lebih mudah melihat pertolongan Allah.

Semalam aku kembali menulis.

Novel baru untuk persiapan mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI 18) KBM App.

Sedikit demi sedikit kerangka cerita mulai terbentuk.

Menjelang pukul tiga dini hari, aku menutup laptop.

Saatnya tahajud.

Malam itu aku memilih mengamalkan Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.

Setiap tujuh kali membaca, aku berdoa.

Biasanya ada banyak doa yang kupanjatkan.

Namun semalam berbeda.

Aku hanya membawa satu permohonan.

Aghnini bifadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Doa itu terus kuulang hingga bacaan Al-Fatihah genap 313 kali.

Selesai tahajud, aku menyiapkan sahur.

Sahurku sederhana.

Segelas air putih hangat dan sebuah pisang.

Aku memang jarang makan berat ketika sahur.

Bagiku, yang penting tetap bisa menyambut puasa dengan rasa syukur.

Setelah Subuh, seperti biasa, aku menunaikan sedekah subuh.

Alhamdulillah, sedekah itu berasal dari hasil kecil affiliate TikTokku.

Kadang lima ribu rupiah.

Kadang empat ribu.

Kadang tiga ribu.

Kadang hanya dua ribu.

Aku setiap buka akun affiliate ku, aku selalu ajak ngobrol sambil bercanda kepada "akun TikTok"-ku.

Tolong ya... setiap hari datangkan yang beli. Biar aku bisa terus sedekah subuh. 

Entah kenapa, aku senang sekali dengan kebiasaan ini.

Karena aku percaya, bukan besarnya yang Allah lihat, tetapi keikhlasannya.

Setelah salat Subuh biasanya aku melanjutkan membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.

Namun pagi ini kepalaku terasa sangat berat.

Aku memilih berbaring sejenak.

Sekitar pukul enam lewat sedikit...

Teleponku berbunyi.

Notifikasi dari mobile banking.

Lalu sebuah pesan masuk.

Alhamdulillah.

Allah kembali mengirimkan rezeki melalui seorang sahabat baik yang selalu menolongku,

Aku terdiam.

Lalu tanpa sadar, mataku berkaca-kaca.

Kemarin aku masih memikirkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yayasan.

Pagi ini Allah mengirimkan jalan keluarnya.

Aku bisa segera mengembalikan pinjaman itu.

Dan seperti biasa, setiap kali Allah menitipkan rezeki kepadaku, aku ingin ada bagian yang kembali kubagikan.

Pagi ini pun aku kembali bersedekah kepada orang yang selama ini setia membantu

Aku ingin belajar bahwa rezeki yang datang tidak hanya berhenti di tanganku, tetapi juga mengalir kepada orang lain.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat Allah.

Saat menulis catatan ini, waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi.

Ratib Al-Haddad yang tadi belum sempat kubaca akan kulanjutkan.

Kemudian Sholawat Ibrahim seratus kali.

Dan Sholawat Jibril sebanyak yang Allah mampukan lisanku.

Tiga hari lagi aku akan menjalani sidang kedua perceraianku.

Aku tidak tahu bagaimana Allah akan menuliskan takdir itu.

Tetapi hari ini aku memilih untuk tidak mendahului ketetapan-Nya dengan rasa takut.

Karena beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali mengajarkanku satu hal.

Pertolongan-Nya selalu datang.

Kadang melalui orang.

Kadang melalui ide.

Kadang melalui ketenangan.

Dan kadang datang tepat sebelum kita selesai merasa khawatir.

Hari ini aku kembali belajar...

Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.

Mungkin Allah tidak selalu menjawab sesuai waktu yang kita inginkan.

Tetapi Dia selalu menjawab pada waktu yang paling kita butuhkan.


SING TENANG

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

✨ Aghnini bifadlika amman siwak.


Langit DiDada





COMING SOON... KLI 18 - KBM App

Katanya...

Waktu bisa menyembuhkan segalanya.

Lalu mengapa, setelah bertahun-tahun berlalu, aku masih belum sanggup melupakan lelaki berseragam loreng itu?

Ia datang bukan membawa janji-janji manis.

Ia datang membawa kesungguhan.

Bahkan keberaniannya mengetuk pintu rumahku jauh lebih besar daripada keberanianku memberikan jawaban.

Ada cinta yang tidak kalah karena hadirnya orang ketiga.

Ada cinta yang tidak berakhir karena pengkhianatan.

Melainkan... karena sebuah keraguan yang datang pada waktu yang salah.

DI UJUNG SERAGAM LORENG

Sebuah novel remaja yang terinspirasi dari kisah yang pernah singgah dalam hidup.

Insya Allah... segera hadir.

Siapkan hati, karena mungkin... kamu akan menemukan sepotong kisahmu di dalamnya. 

A Novel by Langit Didada






Ketika Allah Memberi Ide

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah.

Kemarin Allah masih mempertemukanku dengan puasa Asyura.

Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali menyapaku.

Maka aku melanjutkan puasa dengan hati yang penuh syukur.

Sahur seadanya.

Sedekah subuh seperti biasa.

Lalu membuka laptop dan melanjutkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.

Pagi ini aku membuka aplikasi KBM

Di halaman utama sudah terpampang banner besar.

KLI 18.

Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli hingga 6 Agustus.

Aku tersenyum kecil.

Masih ada beberapa hari untuk mempersiapkan semuanya.

Namun kemudian aku diam.

Aku bertanya dalam hati.

"Ya Allah... kali ini aku harus menulis kisah apa?"

Aku memejamkan mata.

Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir begitu saja.

Bukan cerita orang lain.

Bukan kisah yang harus kucari ke mana-mana.

Tetapi kisahku sendiri.

Tentang masa remaja.

Tentang sekolah.

Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.

Tentang seorang lelaki berseragam TNI yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku tersenyum.

Kalau ceritanya berasal dari pengalaman sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.

Tentu nanti akan kukembangkan dengan sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja

Remaja bisa membaca.

Para ibu bisa menikmati.

Para ayah pun mungkin akan menemukan pelajaran di dalamnya.

Bismillah...

Fokus.

Namun di balik semangat itu, masih ada satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.

Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa

Beliau memberi waktu dua hari.

Aku hanya bisa menjawab pelan,

"Insyaa Allah."

Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan kas yayasan sedang kosong.

Aku pun menyampaikan informasi itu kepada grup pengurus yayasan.

Aku berharap akan ada ide.

Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.

Namun grup itu tetap sunyi.

Tidak ada balasan.

Tidak ada usulan.

Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan tanggapan.

Sejenak aku kembali menarik napas.

Lalu doa itu kembali terucap pelan.

Aghnini bi fadlika amman siwak.

Ya Allah...

Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.

Karena jika akhirnya harus mencari jalan keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya

Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.

Namun aku belajar, tidak semua beban harus dipikul dengan rasa panik.

Ada yang cukup dipikul dengan doa.

Ada yang cukup diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan semampunya.

Bukankah beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara yang tidak pernah kusangka?

Maka hari ini aku kembali memilih untuk percaya.

Tetap berusaha.

Tetap menulis.

Tetap berdoa.

Dan tetap menjaga hati agar tidak kehilangan harapan.

Karena aku percaya...

Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup

.

SING TENANG.

🤲 Allahumma Sugih.

💰 Allahumma Duit Okeh.

🌿 Allahumma Sehat.

Aghnini bi fadlika amman siwak.



LangitDiDada


 

Sepuluh Nama dalam Doaku

Bismillah

Malam ini adalah malam 10 Muharram.

 

Malam Asyura yang penuh keberkahan, bertepatan pula dengan malam Jumat.

 

Alhamdulillah, hari ini aku menjalani puasa Daud sekaligus puasa Tasu'a.

 

Setelah berbuka dan menunaikan salat Maghrib, aku menjalani malam seperti biasanya.

 

Ba'da Isya, aku beristirahat sejenak. Lantunan sholawat dari YouTube menemani suasana tidurku. Entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati terasa lebih tenang.

 

Sekitar pukul 22.30 aku terbangun.

 

Rasanya seperti sudah tidur sangat lama.

 

Aku duduk sejenak, berdoa, lalu minum. Malam ini terasa haus sekali. Mungkin karena saat berbuka tadi aku belum banyak minum.

 

Tepat pukul 00.00, laptop kembali kubuka.

 

Menulis sudah menjadi rutinitas malamku.

 

Aku memberi batas sampai pukul 03.00. Setelah itu, waktunya fokus untuk tahajud dan menikmati sepertiga malam yang begitu istimewa.

 

Malam ini aku sengaja memilih menulis cerita yang ringan dan bahagia.

 

Aku tertawa sendiri mengingat kebiasaanku.

 

Kadang saat menulis cerita sedih, suasana hati ikut terbawa alur cerita.

 

Karena itu malam ini aku memilih kisah yang membuat hati tetap ringan.

 

Malam Asyura harus disambut dengan bahagia.

 

Apalagi ini malam Jumat yang penuh keberkahan.

 

Namun ada satu kebiasaan yang mungkin lebih berarti daripada semua rutinitas itu.

 

Setiap hari aku memiliki sepuluh nama.

 

Sepuluh nama orang-orang baik yang kuselipkan dalam doa.

 

Saat berbuka puasa, ada sepuluh nama.

 

Saat tahajud, ada sepuluh nama.

 

Dan setelah dhuha pun ada sepuluh nama.

 

Aku sengaja membatasi jumlahnya.

 

Bukan karena doa harus dibatasi.

 

Tetapi agar aku bisa konsisten dan tidak ada yang terlewat.

 

Agar aku tahu siapa yang sudah dan siapa yang belum kusebut dalam doa.

 

Aku senang mendoakan orang-orang baik.

 

Mungkin karena doa adalah salah satu cara yang paling mampu kulakukan untuk membalas kebaikan mereka.

 

Aku percaya, doa yang baik tidak pernah sia-sia.

 

Jika hari ini aku mendoakan kemudahan untuk orang lain, semoga Allah juga menurunkan kemudahan.

 

Jika hari ini aku mendoakan kesehatan untuk orang lain, semoga Allah juga menjaga kesehatan mereka.

 

Dan jika hari ini aku mendoakan kebahagiaan untuk orang lain, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada mereka dan keluarganya.

 

Aku tidak tahu doa mana yang akan Allah ijabah terlebih dahulu.

 

Tetapi aku percaya bahwa tidak ada doa yang hilang.

 

Semuanya sampai.

 

Semuanya didengar.

 

Dan semuanya dicatat oleh Allah Yang Maha Mendengar.

 

Maka malam ini, di antara lantunan sholawat, halaman-halaman novel yang sedang kutulis, dan waktu yang berjalan menuju tahajud, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berdoa.

 

Bersyukur karena masih memiliki orang-orang baik untuk disebut namanya dalam doa.

 

Dan bersyukur karena Allah masih menjaga hati ini agar tetap mencintai kebaikan.

 

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

 

Setelah menulis hingga menjelang pukul 03.00, aku menutup laptop dan mempersiapkan diri untuk tahajud.

 

Malam ini terasa istimewa. Setelah puasa Daud dan Tasu'a, insyaa Allah esok akan melanjutkan puasa Asyura.

 

Di antara lantunan sholawat yang masih menemani malam, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur masih diberi umur untuk bertemu Muharram.

 

Bersyukur masih diberi kesempatan untuk berdoa, menulis, dan menyebut nama-nama orang baik dalam sujud-sujudku.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kami, mengampuni dosa-dosa kami, dan melimpahkan keberkahan kepada orang-orang yang kami cintai.

 

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


 

Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.

 

"Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."



Menulis secukupnya.

Berdoa sebanyak-banyaknya.

Sisanya biar Allah yang bekerja.

LangitDiDada

Belajar dari Bintang: Perjalanan Kak Ayu Wandira

Rabu, 24 Juni 2026. Malam ini kembali hadir Belajar Dari Bintang 📚

Kisah Kak Ayu Wandira, penulis KBM jenjang Gold, menjadi pengingat bahwa mimpi seorang penulis bisa menemukan jalannya di waktu yang tepat.

Hingga hari ini, ia telah melahirkan 17 buku. ✨ Ipar Jadi IstriDulu Dibuang, Sekarang DikejarOTW Jadi Janda

Dan justru buku ke-17 inilah yang mengubah segalanya. 🔥 OTW Jadi Janda berhasil FYP di awal Juni 2026. Bertahan beberapa hari di posisi TBS 1. Terus diperbincangkan pembaca. Dan memecahkan rekor pendapatan tertinggi sepanjang perjalanan kepenulisannya.

Perjalanan Kak Ayu Wandira adalah bukti nyata bahwa konsistensi melahirkan keajaiban. Menulis 17 buku bukanlah hal mudah. Ada jatuh bangun, ada karya yang mungkin tidak sepopuler lainnya. Namun ia terus melangkah, hingga akhirnya satu karya menemukan jalannya menuju cahaya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa:

  • Ketekunan adalah kunci, meski hasil belum terlihat.

  • Kesabaran menjaga mimpi tetap hidup.

  • Momentum bisa datang dari satu karya yang mengubah segalanya.

  • Syukur dan cahaya menjadikan setiap karya bermakna, bahkan melampaui waktu.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: jangan pernah berhenti menulis, jangan pernah berhenti bermimpi. Karena bisa jadi, karya berikutnya adalah yang akan membuka pintu cahaya dan rezeki.




Menulis, Lagu, dan Pertarungan dalam Kepala

Ada saat-saat ketika menulis bukan sekadar merangkai kata, tapi juga merangkai suasana. Aku sering memilih lagu yang sesuai dengan alur cerita, seolah musik menjadi jembatan antara imajinasi dan kenyataan. Setiap bab punya nuansa berbeda, maka setiap lagu pun berganti, mengikuti ritme kisah yang sedang kutulis.

Lagu yang menyayat hati bukan berarti penulis sedang larut dalam kesedihan. Justru di balik nada yang pilu, ada pertarungan dalam kepala: bagaimana menemukan kata yang tepat, bagaimana menjaga emosi agar tetap hidup di setiap kalimat, bagaimana melahirkan karya terbaik dari pergulatan batin.

Menulis adalah perjalanan panjang, kadang melelahkan, kadang penuh kejutan. Namun di setiap detik perjuangan itu, musik hadir sebagai teman setia, menjadi pengingat bahwa karya lahir bukan dari keheningan semata, melainkan dari keberanian menghadapi riuh pikiran sendiri.



Allah Tidak Pernah Terlambat

Bismillah.

Hari ini aku kembali belajar satu hal:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Sejak pagi hari, rasanya semua berjalan di luar rencana.

Orang yang biasa menggantikan yang libur ternyata libur juga.

Aku mulai menghubungi beberapa orang. Telepon sana-sini. Mencari siapa yang mungkin bisa membantu hari itu.

Namun satu per satu belum menemukan jalan keluar.

Seorang sahabat bahkan menawarkan bantuan jika benar-benar tidak ada orang yang datang.

Aku bersyukur sekali atas niat baiknya.

Dalam hati aku berpikir, tidak apa-apa. Yang penting aku bisa mandi dan menjalani hari dengan baik. Untuk urusan lain, nanti bisa dicari jalan keluarnya.

Karena hari itu aku sedang menjalankan puasa Daud, aku berusaha tetap tenang.

Sedih ada.

Khawatir sedikit juga ada.

Tetapi entah mengapa hati tidak panik.

Lalu Allah menunjukkan pertolongan-Nya.

Ketika aku baru saja selesai menelepon seseorang, tiba-tiba terdengar suara dari luar:

"Assalamualaikum..."

Aku menjawab salam itu dan mempersilakan tamu masuk.

Beliau seorang ibu yang belum pernah bekerja di tempatku.

Kalimat pertama yang membuatku hampir menangis adalah:

"Katanya mbak masih cari rewang ya?"

Saat itu rasanya ingin langsung mengucapkan:

Alhamdulillah ya Allah.

Di saat aku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi, Allah mengirimkan seseorang mengetuk pintu rumahku.

Tepat pada waktunya.

Namun rupanya pertolongan Allah belum berhenti di situ.

Sore hari aku mengalami kesulitan yang cukup membuatku kesakitan.

Orang-orang yang biasanya bisa membantu sedang tidak bisa dihubungi.

Aku mencoba menghubungi seorang bidan.

Beliau menjawab dengan ramah dan berjanji akan datang setelah Maghrib.

Dan benar saja, beliau datang.

Yang membuatku terharu, beliau berkata bahwa hari itu kebetulan sedang libur.

Biasanya beliau bertugas hingga malam.

Aku hanya bisa mengucap syukur.

Seolah Allah sedang berkata:

"Kalau hari ini dia tidak libur, mungkin dia tidak bisa datang membantumu."

Masyaa Allah.

Beliau bahkan tidak mau menerima bayaran.

Belum selesai sampai di situ.

Menjelang berbuka, seorang teman alumni datang membawa buah pepaya, makanan berbuka, dan sedikit rezeki untukku.

Mungkin bagi sebagian orang itu sederhana.

Tetapi bagiku saat itu sangat berarti.

Bukan karena jumlahnya.

Melainkan karena aku merasa Allah sedang mengirim pesan:

"Aku tahu keadaanmu."

Hari ini aku benar-benar belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dari orang yang kita harapkan.

Kadang dua orang yang biasa membantu justru sedang tidak bisa hadir.

Namun Allah menggantinya dengan orang-orang lain yang bahkan tidak sedang kita tunggu.

Karena itu malam ini aku ingin mengingatkan diriku sendiri:

Jangan su'udzon kepada Allah.

Berusahalah semaksimal mungkin.

Berdoalah semampu mungkin.

Lalu serahkan sisanya kepada Allah.

Karena ketika ikhtiar sudah dilakukan, Allah tahu kapan waktu terbaik untuk membuka jalan.

Dan hari ini aku menjadi saksi atas itu.

Allah tidak pernah terlambat.

Tidak pernah.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

Sebelum menutup catatan hari ini, aku ingin berdoa.

Ya Allah...

Balaslah kebaikan orang-orang yang telah Engkau kirimkan untuk membantuku hari ini.

Lapangankan rezeki mereka.
Sehatkan tubuh mereka.
Bahagiakan keluarga mereka.
Mudahkan segala urusan mereka.
Jaga mereka sebagaimana Engkau menjaga diriku hari ini.

Dan jika aku belum mampu membalas kebaikan mereka, maka Engkaulah sebaik-baik Pembalas kebaikan.

Jazakumullahu khairan katsiran kepada semua orang baik yang telah Allah hadirkan dalam hidupku.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

H-2 KLI 17 📖


Ada langkah yang sudah sampai di titik cukup,

tapi jiwa memilih untuk melampaui.
Bab minimal telah terlewati,
dan kini pena kembali bergerak
menyusuri bab-bab yang belum bernama.
Semangat, jangan padam.

Allah Menghadirkan Pertolongan Melalui Tangan-Tangan Baik

 Bismillah.

Alhamdulillah, hari ini salah satu proses yang cukup panjang dalam hidupku dimulai. Sidang pertama perceraianku berjalan dengan baik.

Jujur, ada banyak hal yang kupikirkan sebelumnya. Bukan hanya tentang sidang itu sendiri, tetapi juga tentang segala sesuatu yang menyertainya.

Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, setiap kali harus keluar rumah ada banyak hal yang perlu dipersiapkan. Ada biaya transportasi, biaya sewa mobil, bantuan tenaga untuk mengangkatku ke kursi roda dan ke dalam kendaraan, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang.

Karena itulah, kehadiran tim kuasa hukum yang mendampingi hari ini menjadi nikmat yang sangat besar bagiku.

Aku juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pendamping dari LBH Garda Keadilan Indonesia yang telah dengan sabar membantu, mendampingi, dan mewakili kepentinganku dalam proses ini.

Terima kasih atas kesabaran, perhatian, dan profesionalisme yang diberikan. Sebagai seorang penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, pendampingan ini sangat berarti bagiku karena membantu meringankan berbagai kendala yang harus kuhadapi dalam proses persidangan.

Mungkin bagi sebagian orang ini adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang biasa. Namun bagiku, bantuan tersebut sangat berarti dan meringankan banyak hal.

Hari ini kembali mengingatkanku bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan baik yang ada di sekitar kita.

Ketika kita merasa tidak mampu melakukan semuanya sendiri, Allah mengirimkan orang-orang yang membantu menyempurnakan kekurangan kita.

Untuk sidang berikutnya, insyaa Allah akan dilaksanakan bulan depan. Aku tidak tahu bagaimana proses ke depannya, tetapi hari ini aku memilih untuk bersyukur.

Bersyukur karena Allah memberikan kemudahan.

Bersyukur karena Allah menghadirkan orang-orang baik.

Bersyukur karena Allah menguatkan hati untuk menjalani setiap tahap kehidupan.

Aku percaya, setiap takdir yang Allah tuliskan pasti mengandung hikmah yang terbaik.

Dan hari ini, aku hanya ingin mencatat satu hal:

Terima kasih ya Allah, karena sekali lagi Engkau menunjukkan bahwa aku tidak berjalan sendirian.

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. 🤲



Menulis Adalah Perjalanan: Inspirasi dari Mas Dwi Wahyudi

 






Komunitas penulis KBM malam ini kembali belajar dari bintang. Kisah Mas Dwi Wahyudi dari Blora adalah pengingat bahwa mimpi seorang penulis tidak pernah mati, meski jalan penuh liku.

Bertahun-tahun ia menulis tanpa hasil besar. Naik sedikit, turun lagi. Ada masa ketika hasilnya nyaris tak terlihat. Namun ia tidak berhenti. Ia tetap menulis, tetap mengirim naskah, tetap mengikuti lomba.

Perlahan, namanya mulai dikenal: 🏆 Finalis Inspiring Story: Sang Petarung 🏆 Finalis KLI 12: Jerat Dosa Nadia 🏆 Juara Harapan KLI 13: Pernikahan yang Sempurna

Puncaknya datang ketika karyanya Surga di Bawah Telapak Kaki Terpidana Mati berhasil menjadi Juara Utama Spesial Ramadan 3. Sebuah capaian yang bukan hanya penghargaan, bukan hanya apresiasi, tetapi juga hadiah perjalanan umroh 🕋.

Kisah ini bukan hanya milik Mas Dwi Wahyudi, tetapi juga milik kita semua sebagai penulis KBM. Ia mengajarkan bahwa:

  • Ketekunan adalah kunci, meski hasil belum terlihat.

  • Kesabaran menjaga mimpi tetap hidup.

  • Syukur dan cahaya menjadikan setiap karya bermakna, bahkan melampaui waktu.

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat: jangan pernah berhenti menulis, jangan pernah berhenti bermimpi. Setiap kata yang kita tulis adalah doa, setiap karya adalah cahaya.

Dengan syukur dan cahaya, kita akan terus belajar… belajar… dan belajar.

Allahumma Sugeh: Catatan Seorang Pengurus Yayasan yang Masih Belajar Istiqomah

Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa aku masih bertahan?

Padahal mengurus yayasan tidak mudah. Ada laporan yang harus diselesaikan, data anak binaan yang harus diperbarui, arsip yang harus dirapikan, program yang harus dijalankan, dan kebutuhan operasional yang selalu menunggu untuk dipenuhi.

Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, aku selalu menemukan jawaban yang sama:

Karena Allah masih mengizinkan.

LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri pada tahun 2017. Saat itu aku tidak pernah membayangkan seperti apa perjalanan yang akan dilalui. Yang ada hanya keinginan sederhana, semoga yayasan ini bisa menjadi tempat yang bermanfaat bagi anak-anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Tahun demi tahun berlalu.

Ada masa mudah, ada masa sulit.

Ada saat-saat ketika bantuan datang tanpa diduga, ada pula saat ketika aku harus berpikir keras bagaimana memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak.

Tahun 2023 menjadi salah satu momen yang tidak akan kulupakan. Dengan segala keterbatasan yang ada, LKSA Peduli Sahabat Batang mengikuti proses akreditasi dan Alhamdulillah memperoleh nilai A.

Saat itu aku kembali belajar bahwa Allah tidak melihat seberapa besar kemampuan kita, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita berusaha.

Namun perjalanan tidak berhenti di sana.

Setelah ibuku wafat pada tahun 2021, banyak hal berubah. Rumah yang sebelumnya dapat digunakan sebagai kantor yayasan tidak lagi bisa dipakai seperti dulu. Kami harus mencari tempat lain dan akhirnya menyewa kantor.

Sejak saat itu, aku semakin memahami bahwa menjalankan yayasan membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Dibutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan kesabaran yang panjang.

Kadang aku harus mencari donasi untuk biaya sewa kantor.

Kadang aku harus memperbaiki bagian-bagian bangunan yang rusak.

Kadang aku harus menggunakan uang pribadi untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Sedih?

Tentu saja pernah.

Lelah?

Sering.

Menangis?

Berkali-kali.

Tetapi setiap kali aku hampir menyerah, Allah selalu menunjukkan satu hal:

Bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

Mungkin tidak datang dalam bentuk yang aku inginkan.

Mungkin tidak datang dari orang yang aku harapkan.

Tetapi selalu datang pada waktu yang tepat.

Karena itulah sampai hari ini aku masih sering berdoa:

"Allahumma sugeh."

Bukan karena aku ingin hidup mewah.

Bukan karena aku ingin menjadi kaya untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin LKSA Peduli Sahabat Batang berdiri lebih kokoh.

Aku ingin suatu hari nanti yayasan ini memiliki rumah sendiri yang bisa digunakan sebagai kantor dan panti.

Aku ingin ada kendaraan operasional agar mobilitas tidak selalu bergantung pada biaya sewa.

Aku ingin anak-anak yatim yang dibina memiliki tempat yang nyaman untuk tumbuh dan belajar.

Aku tidak memiliki keturunan.

Karena itu, aku berharap jika Allah mengabulkan semua impian ini, manfaatnya bisa terus mengalir bahkan ketika aku sudah tidak ada.

Jika suatu hari nanti berdiri sebuah rumah panti yang penuh dengan tawa anak-anak yatim, jika kegiatan-kegiatan sosial terus berjalan, jika yayasan ini mampu bertahan dan berkembang, maka itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Dan sampai hari itu tiba, tugasku adalah terus melangkah.

Satu laporan demi satu laporan.

Satu arsip demi satu arsip.

Satu program demi satu program.

Satu Jumat demi satu Jumat.

Karena aku percaya, bangunan yang kokoh tidak dibangun dalam satu hari.

Begitu pula dengan mimpi.

Hari ini mungkin hanya Jumat Berbagi Episode 26.

Minggu depan Episode 27.

Lalu Episode 28.

Sedikit demi sedikit.

Tetapi bukankah setiap perjalanan panjang memang dimulai dari langkah-langkah yang terus dijaga?

Untuk itu, aku menitipkan doa kepada Allah:

Ya Allah, kuatkan langkahku selama Engkau masih memberiku usia.

Ya Allah, sehatkan badanku agar aku bisa terus melayani.

Ya Allah, lapangkan rezekiku agar aku bisa terus berbagi.

Ya Allah, cukupkan kebutuhan LKSA Peduli Sahabat Batang dari jalan yang halal dan penuh keberkahan.

Ya Allah, karuniakan rumah sendiri untuk kantor dan panti yayasan.

Ya Allah, karuniakan kendaraan operasional yang memudahkan pelayanan kepada anak-anak binaan.

Ya Allah, hadirkan orang-orang baik yang mau membantu karena cinta kepada-Mu.

Ya Allah, jadikan setiap tetes keringat, setiap air mata, dan setiap langkah dalam mengurus amanah ini sebagai amal jariyah yang Engkau terima.

Dan jika suatu hari nanti semua impian ini terwujud, izinkan aku melihatnya dengan penuh syukur.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.



Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi hatiku tidak lagi seberisik dulu

Catatan Jumat Mubarak

Jumat, 12 Juni 2026

Alhamdulillah, pagi ini kembali dibuka dengan Bismillah. Sebelum tahajud tadi, Allah izinkan aku menyelesaikan satu novel baru. Novel itu lahir dari kisah seseorang yang dengan tulus mempercayakan ceritanya kepadaku untuk ditulis. Tentu saja sudah kubumbui dengan fiksi, agar menjadi karya yang lebih utuh dan tetap menjaga banyak hal.

Aku tersenyum sendiri setelah menulis kata terakhirnya. Rasanya seperti Allah sedang mengingatkanku bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dari tempat tidur pun, Allah masih memberi jalan untuk menulis dan menebar manfaat.

Untuk kegiatan sosial Jumat Berbagi Anak Yatim dari yayasan, hari ini sudah kutugaskan kepada Korwil Timur. Aku memang sengaja mengacak penerima manfaat setiap Jumat, agar keberkahan itu bisa menyapa lebih banyak anak-anak yang membutuhkan.

Alhamdulillah juga untuk kesehatan hari ini. Badan terasa lebih ringan, hati lebih tenang. Nikmat sehat memang sering terasa sederhana, padahal ia adalah salah satu karunia terbesar dari Allah.

Lalu tentang keuangan…

Hari ini mungkin sedang kosong. Tapi anehnya, hatiku tidak lagi seberisik dulu. Aku percaya bahwa Allah Maha Kaya dan tidak pernah salah mengatur rezeki hamba-Nya. Yang tugasku hanyalah berikhtiar, berdoa, dan menjaga hati agar tetap baik sangka kepada-Nya.

Aku kembali mengulang doa yang sering kupeluk dalam diam:

Aghnini bifadlika ‘amman siwak

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.”

Dan sungguh, berkali-kali Allah membuktikan bahwa pertolongan-Nya datang dari arah yang tak pernah kusangka.

Hari ini aku hanya ingin bersyukur.

Atas nafas yang masih Allah titipkan.

Atas tangan yang masih bisa menulis.

Atas hati yang masih ingin dekat dengan-Nya.

Atas kesempatan untuk tetap menjadi manfaat, walau sedikit.

Semoga Jumat ini membawa keberkahan untuk kita semua. Semoga Allah melapangkan rezeki yang halal dan baik, menjaga kesehatan, menguatkan iman, dan menerima setiap amal yang kita lakukan hanya karena-Nya. Aamiinn..




Catatan Puasa Daud: Ketika Aku Hanya Ingin Dekat dengan Allah

Banyak orang bertanya kepadaku, mengapa aku menjalankan puasa Daud?

Ada yang berkata, "Kamu puasa terus, tapi kok nggak kurus-kurus?"

Aku biasanya hanya tersenyum lalu menjawab, "Tujuanku puasa bukan untuk kurus. Aku berpuasa karena Allah Ta'ala."

Ada pula yang berkomentar, "Kalau aku jadi kamu juga kuat puasa. Orang cuma rebahan saja."

Kalimat seperti itu kadang membuat hati sedih. Sebab mereka tidak tahu bagaimana hari-hariku berjalan. Mereka hanya melihat tubuh yang terbaring, tetapi tidak melihat aktivitas yang kulakukan dari tempat tidur.

Aku menulis. Aku mengedit video setiap hari sebagai affiliate. Aku mengurus yayasan. Aku harus selalu siap ketika ada tugas yang datang dari dinas. Ada banyak hal yang tetap harus diselesaikan meski kondisi fisik tidak sempurna.

Namun aku belajar satu hal. Tidak semua orang akan mengerti perjuangan kita. Dan tidak semua penjelasan harus diberikan.

Aku memilih diam dan melanjutkan langkahku.

Awalnya, setelah kecelakaan yang mengubah hidupku, aku terbiasa berpuasa hampir setiap hari, kecuali saat ada uzur syar'i. Sampai suatu hari aku mendengar tausiah bahwa puasa sunnah yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Aku sempat mencoba puasa Senin-Kamis. Namun entah mengapa hati ini masih ingin lebih banyak bersama Allah. Akhirnya aku memilih puasa Daud.

Bukan karena ingin terlihat salehah.

Bukan karena ingin dipuji kuat.

Aku hanya ingin dekat dengan Allah.

Aku ingin setiap hari mengingat-Nya.

Aku ingin hidupku, ibadahku, matiku, semuanya karena-Nya.

Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin.

Seiring waktu, aku mulai merasakan banyak sekali hikmah dari puasa yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Bukan harta berlimpah.

Bukan kemewahan.

Tetapi kemudahan-kemudahan yang datang tepat pada waktunya.

Saat aku dirawat di rumah sakit, pernah terjadi kesalahan administrasi sehingga biaya pengobatan tidak masuk ke jaminan yang seharusnya. Aku baru menyadarinya ketika hendak pulang.

Aku menangis.

Aku tidak tahu harus membayar dari mana.

Namun Allah kembali menunjukkan pertolongan-Nya. Teman-temanku datang pada waktu yang tepat dan membantu melunasi biaya rumah sakit.

Bukan sekali itu saja.

Berkali-kali aku menyaksikan bagaimana Allah membuka jalan ketika jalan itu terlihat buntu.

Mungkin karena itulah aku semakin yakin bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas.

Tahun 2022 aku menandatangani formulir donor mata.

Aku ingin, ketika suatu saat Allah memanggilku, masih ada bagian tubuhku yang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Karena itulah aku berusaha menjaga mata ini dari hal-hal yang tidak baik. Aku ingin mata ini lebih banyak digunakan untuk membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan melihat hal-hal yang diridhai Allah.

Aku juga berusaha menjaga tubuhku sebaik mungkin. Bahkan jika suatu hari ada yang membutuhkan organ tubuhku dan aku mampu menolongnya, aku ingin bisa menjadi manfaat.

Mungkin hidupku tidak sempurna.

Bantuan dari keluarga pun tidak selalu ada.

Kadang aku juga harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kadang harus menggali lubang dan menutup lubang.

Namun aku memilih untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti bersyukur.

Aku lebih suka mengumpulkan alasan untuk tetap tersenyum.

Aku menghindari kebiasaan mengeluh.

Aku menghindari pikiran-pikiran negatif.

Aku memilih berprasangka baik kepada Allah.

Aku memilih memperbanyak doa.

Aku memilih memperbanyak shalawat.

Aku memilih memperbanyak syukur.

Karena aku percaya, hidup akan mengikuti arah hati kita memandangnya.

Jika hari ini ada yang bertanya apa manfaat terbesar dari puasa Daud yang kulakukan selama bertahun-tahun, jawabanku sederhana:

Bukan tubuh yang lebih sehat.

Bukan rezeki yang lebih banyak.

Bukan pula pujian manusia.

Manfaat terbesar yang kurasakan adalah hati yang lebih dekat kepada Allah.

Dan ketika hati sudah dekat kepada-Nya, segala sesuatu terasa lebih ringan untuk dijalani.

Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita semua dalam beribadah.

Semoga setiap lelah yang kita sembunyikan dari manusia menjadi amal yang Allah terima.

Dan semoga ketika hidup terasa berat, kita selalu ingat bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Aamiin.