Bismillahirrahmanirrahim...
Malam ini aku kembali berbicara dengan diriku sendiri.
Aku bertanya,
"Kenapa aku bisa setenang ini?"
Padahal kalau dihitung dengan logika, masih banyak yang harus dipikirkan.
Masih ada gaji yang harus kubayarkan.
Masih ada kebutuhan sehari-hari.
Masih ada cicilan yang tanggalnya terus mendekat.
Namun anehnya, setiap melihat tanggal pembayaran, hatiku hanya berkata,
"Sing tenang... nanti juga Allah datangkan rezeki."
Aku tersenyum sendiri.
Apakah aku terlalu cuek?
Apakah aku terlalu nekat?
Ataukah Allah sedang mengajarkanku sesuatu selama bertahun-tahun?
Aku teringat perjalanan panjangku.
Dulu aku belajar mengucapkan Laa haula wa laa quwwata illa billah berulang-ulang.
Aku membiasakan diri bershalawat.
Ketika hati terasa sesak, aku membaca doa Nabi Yunus.
Aku berusaha menjaga hatiku agar tidak dipenuhi prasangka buruk kepada Allah.
Mungkin ketenangan itu tidak datang dalam semalam.
Ia tumbuh sedikit demi sedikit.
Ditempa oleh ujian demi ujian.
Aku pernah kehilangan kemampuan untuk berjalan.
Aku belajar menerima hidup di atas kursi roda.
Aku pernah menghadapi rumah tangga yang tidak lagi utuh.
Aku memilih menyelesaikannya dengan baik.
Hari ini aku tidak lagi menyimpan kebencian.
Aku mendoakan, lalu melanjutkan hidupku.
Aku sadar, marah tidak mengubah keadaan.
Emosi tidak menambah rezeki.
Konflik hanya menguras tenaga.
Kalau ada masalah besar, kecilkan.
Kalau ada masalah kecil, hilangkan.
Itu yang selalu kuusahakan.
Kalau ingin menangis, aku memilih menangis di hadapan Allah.
Karena hanya kepada-Nya aku ingin mengadu.
Aku juga tersenyum ketika banyak orang berkata,
"Kalau puasa Daud, ujiannya akan semakin besar."
Aku tidak menyangkalnya.
Tetapi aku juga berkata dalam hati,
"Bukankah selama ini Allah sudah menguatkanku melewati banyak ujian?"
Maka yang ingin kujaga bukanlah hidup tanpa ujian.
Melainkan hati yang tetap tenang ketika ujian datang.
Hari ini aku kembali belajar bahwa ketenangan bukan berarti semua masalah sudah selesai.
Ketenangan adalah memilih tetap berikhtiar sambil mempercayakan hasilnya kepada Allah.
Aku masih ingin menulis.
Aku masih ingin berkarya.
Aku masih ingin kuliah lagi.
Entah bagaimana nanti Allah membukakan jalannya.
Hatiku hanya berkata,
"Bismillah... sing tenang."
Karena aku percaya, rezeki bukan datang karena aku panik.
Rezeki datang atas izin Allah, kepada hamba yang terus berusaha, bersyukur, dan tidak putus harapan.
Ya Allah...
Jadikanlah ketenangan ini bukan sebagai kelalaian, tetapi sebagai tanda bahwa hatiku semakin belajar bertawakal kepada-Mu.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.



.jpeg)



















