Sepuluh Nama dalam Doaku

Bismillah

Malam ini adalah malam 10 Muharram.

 

Malam Asyura yang penuh keberkahan, bertepatan pula dengan malam Jumat.

 

Alhamdulillah, hari ini aku menjalani puasa Daud sekaligus puasa Tasu'a.

 

Setelah berbuka dan menunaikan salat Maghrib, aku menjalani malam seperti biasanya.

 

Ba'da Isya, aku beristirahat sejenak. Lantunan sholawat dari YouTube menemani suasana tidurku. Entah mengapa, setiap kali mendengarnya, hati terasa lebih tenang.

 

Sekitar pukul 22.30 aku terbangun.

 

Rasanya seperti sudah tidur sangat lama.

 

Aku duduk sejenak, berdoa, lalu minum. Malam ini terasa haus sekali. Mungkin karena saat berbuka tadi aku belum banyak minum.

 

Tepat pukul 00.00, laptop kembali kubuka.

 

Menulis sudah menjadi rutinitas malamku.

 

Aku memberi batas sampai pukul 03.00. Setelah itu, waktunya fokus untuk tahajud dan menikmati sepertiga malam yang begitu istimewa.

 

Malam ini aku sengaja memilih menulis cerita yang ringan dan bahagia.

 

Aku tertawa sendiri mengingat kebiasaanku.

 

Kadang saat menulis cerita sedih, suasana hati ikut terbawa alur cerita.

 

Karena itu malam ini aku memilih kisah yang membuat hati tetap ringan.

 

Malam Asyura harus disambut dengan bahagia.

 

Apalagi ini malam Jumat yang penuh keberkahan.

 

Namun ada satu kebiasaan yang mungkin lebih berarti daripada semua rutinitas itu.

 

Setiap hari aku memiliki sepuluh nama.

 

Sepuluh nama orang-orang baik yang kuselipkan dalam doa.

 

Saat berbuka puasa, ada sepuluh nama.

 

Saat tahajud, ada sepuluh nama.

 

Dan setelah dhuha pun ada sepuluh nama.

 

Aku sengaja membatasi jumlahnya.

 

Bukan karena doa harus dibatasi.

 

Tetapi agar aku bisa konsisten dan tidak ada yang terlewat.

 

Agar aku tahu siapa yang sudah dan siapa yang belum kusebut dalam doa.

 

Aku senang mendoakan orang-orang baik.

 

Mungkin karena doa adalah salah satu cara yang paling mampu kulakukan untuk membalas kebaikan mereka.

 

Aku percaya, doa yang baik tidak pernah sia-sia.

 

Jika hari ini aku mendoakan kemudahan untuk orang lain, semoga Allah juga menurunkan kemudahan.

 

Jika hari ini aku mendoakan kesehatan untuk orang lain, semoga Allah juga menjaga kesehatan mereka.

 

Dan jika hari ini aku mendoakan kebahagiaan untuk orang lain, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada mereka dan keluarganya.

 

Aku tidak tahu doa mana yang akan Allah ijabah terlebih dahulu.

 

Tetapi aku percaya bahwa tidak ada doa yang hilang.

 

Semuanya sampai.

 

Semuanya didengar.

 

Dan semuanya dicatat oleh Allah Yang Maha Mendengar.

 

Maka malam ini, di antara lantunan sholawat, halaman-halaman novel yang sedang kutulis, dan waktu yang berjalan menuju tahajud, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk berdoa.

 

Bersyukur karena masih memiliki orang-orang baik untuk disebut namanya dalam doa.

 

Dan bersyukur karena Allah masih menjaga hati ini agar tetap mencintai kebaikan.

 

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.

 

Setelah menulis hingga menjelang pukul 03.00, aku menutup laptop dan mempersiapkan diri untuk tahajud.

 

Malam ini terasa istimewa. Setelah puasa Daud dan Tasu'a, insyaa Allah esok akan melanjutkan puasa Asyura.

 

Di antara lantunan sholawat yang masih menemani malam, aku kembali bersyukur.

 

Bersyukur masih diberi umur untuk bertemu Muharram.

 

Bersyukur masih diberi kesempatan untuk berdoa, menulis, dan menyebut nama-nama orang baik dalam sujud-sujudku.

 

Semoga Allah menerima amal ibadah kami, mengampuni dosa-dosa kami, dan melimpahkan keberkahan kepada orang-orang yang kami cintai.

 

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


 

Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.

 

"Aku berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala."



Menulis secukupnya.

Berdoa sebanyak-banyaknya.

Sisanya biar Allah yang bekerja.

LangitDiDada