Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah.
Kemarin Allah masih mempertemukanku
dengan puasa Asyura.
Hari ini, jadwal Puasa Daud kembali
menyapaku.
Maka aku melanjutkan puasa dengan hati
yang penuh syukur.
Sahur seadanya.
Sedekah subuh seperti biasa.
Lalu membuka laptop dan melanjutkan
rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupku: menulis.
Pagi ini aku membuka aplikasi KBM
Di halaman utama sudah terpampang banner
besar.
KLI 18.
Periode menulis dimulai tanggal 2 Juli
hingga 6 Agustus.
Aku tersenyum kecil.
Masih ada beberapa hari untuk
mempersiapkan semuanya.
Namun kemudian aku diam.
Aku bertanya dalam hati.
"Ya Allah... kali ini aku harus
menulis kisah apa?"
Aku memejamkan mata.
Tidak lama kemudian, sebuah cerita hadir
begitu saja.
Bukan cerita orang lain.
Bukan kisah yang harus kucari ke
mana-mana.
Tetapi kisahku sendiri.
Tentang masa remaja.
Tentang sekolah.
Tentang mimpi-mimpi yang pernah tumbuh.
Tentang seorang lelaki berseragam TNI
yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Aku tersenyum.
Kalau ceritanya berasal dari pengalaman
sendiri, membuat kerangka terasa jauh lebih mudah.
Tentu nanti akan kukembangkan dengan
sentuhan fiksi agar menjadi sebuah novel yang dapat dinikmati siapa saja
Remaja bisa membaca.
Para ibu bisa menikmati.
Para ayah pun mungkin akan menemukan
pelajaran di dalamnya.
Bismillah...
Fokus.
Namun di balik semangat itu, masih ada
satu hal yang sesekali singgah di pikiranku.
Kemarin pagi, pemilik rumah yang saat ini
disewa yayasan menyampaikan kebutuhan untuk meminjam sejumlah uang, yang
nantinya akan dipotong dari pembayaran uang sewa
Beliau memberi waktu dua hari.
Aku hanya bisa menjawab pelan,
"Insyaa Allah."
Padahal di dalam hati, aku tahu keadaan
kas yayasan sedang kosong.
Aku pun menyampaikan informasi itu kepada
grup pengurus yayasan.
Aku berharap akan ada ide.
Atau mungkin sekadar kalimat penyemangat.
Namun grup itu tetap sunyi.
Tidak ada balasan.
Tidak ada usulan.
Bahkan ketua yayasan pun belum memberikan
tanggapan.
Sejenak aku kembali menarik napas.
Lalu doa itu kembali terucap pelan.
Aghnini bi fadlika amman siwak.
Ya Allah...
Cukupkan aku dengan karunia-Mu sehingga
aku tidak bergantung kepada selain-Mu.
Karena jika akhirnya harus mencari jalan
keluar, kemungkinan besar aku juga yang akan mengusahakannya
Padahal kebutuhaku sendiri masih banyak.
Namun aku belajar, tidak semua beban
harus dipikul dengan rasa panik.
Ada yang cukup dipikul dengan doa.
Ada yang cukup diserahkan kepada Allah
setelah ikhtiar dilakukan semampunya.
Bukankah beberapa hari terakhir Allah
sudah berkali-kali menunjukkan bahwa pertolongan-Nya selalu datang dengan cara
yang tidak pernah kusangka?
Maka hari ini aku kembali memilih untuk
percaya.
Tetap berusaha.
Tetap menulis.
Tetap berdoa.
Dan tetap menjaga hati agar tidak
kehilangan harapan.
Karena aku percaya...
Allah yang memberikan sebuah ide untuk sebuah novel, juga mampu memberikan jalan keluar untuk setiap persoalan hidup
.
SING TENANG.
🤲 Allahumma Sugih.
💰 Allahumma Duit Okeh.
🌿 Allahumma Sehat.
✨ Aghnini bi fadlika amman siwak.
LangitDiDada
