Refleksi ini kutulis untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa rezeki, pertolongan, dan jalan keluar selalu datang dari-Nya. Tugas kita hanyalah berikhtiar, bersabar, dan menjaga hati tetap "sing tenang".
Hari ini aku belajar bahwa tidak semua beban datang dalam bentuk kekurangan uang. Kadang beban terbesar adalah menunggu kepastian dari orang lain.
Sudah beberapa hari pikiranku tertuju pada cicilan yang akan jatuh tempo. Selama ini aku dan seorang teman berbagi tanggung jawab. Ketika Allah memberiku kelapangan rezeki, aku berusaha membantu dan menutupi kekurangan. Namun kali ini keadaanku berbeda. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, sehingga aku tidak lagi mampu menanggung semuanya sendiri.
Yang membuat hati terasa berat bukan semata soal uang, tetapi sikap diam ketika komunikasi sangat dibutuhkan. Seandainya belum ada rezeki, katakanlah. Seandainya belum mampu, sampaikanlah. Karena kejujuran sering kali lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar.
Meski demikian, aku bersyukur. Aku masih memikirkan masalah ini, tetapi tidak panik. Aku masih merasa cemas, tetapi tidak kehilangan harapan. Aku percaya bahwa rezeki tidak bergantung pada manusia. Allah mampu menghadirkan pertolongan dari jalan yang tidak pernah kusangka.
Hari ini aku memilih untuk tetap berikhtiar, tetap mengingatkan dengan baik, dan tetap menjaga hati agar tidak dipenuhi prasangka. Jika Allah berkehendak, Dia akan mencukupkan segala kebutuhan pada waktu yang paling tepat.
Ya Allah, lapangkanlah urusanku. Berikan rezeki yang halal dan berkah untukku serta orang-orang yang memiliki tanggungan bersamaku. Jauhkan hatiku dari rasa kecewa yang berlebihan, dan dekatkan aku kepada keyakinan bahwa pertolongan-Mu selalu lebih besar daripada kekhawatiranku.
Aamiin.
Dulu, setiap kali hidup terasa berat, aku menangis.
Hari ini masalah belum sepenuhnya selesai. Pertolongan yang kutunggu juga belum tampak jelas. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalam hati.
Aku tidak menangis.
Bukan karena tidak peduli.
Bukan karena tidak memiliki beban.
Mungkin karena Allah sedang mengajariku cara yang lain.
Air mata itu sudah selesai pada masanya.
Kini, Allah menggantinya dengan ketenangan.
Sing tenang.
