(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Al-Mulk: 13)
Di sepertiga malam,
saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi,
ia duduk bersimpuh di atas sajadah,
dengan tasbih sederhana
di jemari yang gemetar lembut.
Tak ada suara,
hanya detak hati yang berdzikir,
dan air mata yang menetes pelan,
seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.
Ia tak berkata-kata,
karena ia tahu,
Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap.
Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia,
telah lama sampai ke Arasy,
Sebelum ia sempat merangkai kata.
"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..."
Rahasiakanlah, atau nyatakanlah,
Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Dan ia pun menangis,
bukan karena lemah,
Tapi karena akhirnya merasa dilihat,
Oleh Yang Maha Melihat,
meski dunia tak pernah benar-benar tahu.
Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain,
Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan,
Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti.
Ia tak meminta dunia,
ia hanya meminta
Agar hatinya tetap hidup,
Agar niatnya tetap bersih,
Agar amalnya, meski kecil,
Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak
Dan malam itu,
Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup.
Karena ia tahu,
bahwa Tuhan-nya tahu.
Segala isi hati.
Segala luka.
Segala cinta.
Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.