Di kamar yang sunyi,
Di antara dinding yang menyimpan dzikir,
Aku bentangkan sajadah,
Seperti membuka lembaran hati yang ingin kembali.
Tasbih tergeletak di sisi,
Butir-butirnya seperti bintang kecil yang menghitung setiap harap,
Setiap luka yang ingin sembuh dalam sujud.
Al-Qur’an terbuka, ayat-ayatnya berbisik lembut,
Seperti pelukan
Dari langit yang menenangkan jiwa yang lelah berjalan.
Di dinding, tertulis: “Jumu’ah Mubarak”
Bukan sekadar ucapan,
Tapi doa yang mengalir
Dari hati ke langit.
Wahai Rasulullah,
Assolatu wasalamualaika ya sayyidi ya Rasulullah
Shalawat ini kutitipkan dalam malam,
Dalam sepi yang penuh makna.
Engkau yang datang membawa cahaya,
Di saat dunia gelap dan jiwa kehilangan arah.
Engkau yang mengajarkan cinta tanpa syarat,
San sabar yang tak pernah padam.
Di malam Jum’at ini,
Aku ingin menjadi hamba yang kembali,
Yang tak hanya membaca,
Tapi meresapi setiap ayat sebagai pelita.
Aku ingin menjadi saksi,
Bahwa malam bukan sekadar waktu,
Tapi ruang untuk bertemu,
Dengan Rabb yang Maha Mendengar.
Wahai jiwa,
Jangan kau lewatkan malam ini dengan kelalaian.
Karena di sepertiga malam,
Ada pintu yang terbuka,
Ada rahmat yang turun,
Ada cinta yang menunggu untuk disambut.
Dan jika air mata jatuh,
Biarlah itu menjadi saksi,
Bahwa kau pernah berharap,
Pernah mencintai, dan pernah kembali.
