Bismillahirrahmanirrahim
Hari ini aku kembali menjalani Puasa Daud.
Sieharian tadi aku sengaja mengingatkan semua yang ada di rumah.
Malam ini adalah malam menjelang purnama (Full Moon)
Aku selalu mengajak diri sendiri dan orang-orang di sekitarku untuk menjaga hati.
Jangan mudah sedih.
Jangan mengeluh.
Jangan mudah emosi.
Bukan hanya ketika bulan sedang penuh.
Tetapi setiap hari.
Karena hati yang tenang lebih mudah melihat pertolongan Allah.
Semalam aku kembali menulis.
Novel baru untuk persiapan mengikuti Kompetisi Literasi Indonesia (KLI 18) KBM App.
Sedikit demi sedikit kerangka cerita mulai terbentuk.
Menjelang pukul tiga dini hari, aku menutup laptop.
Saatnya tahajud.
Malam itu aku memilih mengamalkan Surah Al-Fatihah sebanyak 313 kali.
Setiap tujuh kali membaca, aku berdoa.
Biasanya ada banyak doa yang kupanjatkan.
Namun semalam berbeda.
Aku hanya membawa satu permohonan.
Aghnini bifadlika amman siwak.
Ya Allah...
Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak bergantung kepada selain-Mu.
Doa itu terus kuulang hingga bacaan Al-Fatihah genap 313 kali.
Selesai tahajud, aku menyiapkan sahur.
Sahurku sederhana.
Segelas air putih hangat dan sebuah pisang.
Aku memang jarang makan berat ketika sahur.
Bagiku, yang penting tetap bisa menyambut puasa dengan rasa syukur.
Setelah Subuh, seperti biasa, aku menunaikan sedekah subuh.
Alhamdulillah, sedekah itu berasal dari hasil kecil affiliate TikTokku.
Kadang lima ribu rupiah.
Kadang empat ribu.
Kadang tiga ribu.
Kadang hanya dua ribu.
Aku setiap buka akun affiliate ku, aku selalu ajak ngobrol sambil bercanda kepada "akun TikTok"-ku.
Tolong ya... setiap hari datangkan yang beli. Biar aku bisa terus sedekah subuh.
Entah kenapa, aku senang sekali dengan kebiasaan ini.
Karena aku percaya, bukan besarnya yang Allah lihat, tetapi keikhlasannya.
Setelah salat Subuh biasanya aku melanjutkan membaca Surah Yasin, Surah Al-Waqi'ah, dan Ratib Al-Haddad.
Namun pagi ini kepalaku terasa sangat berat.
Aku memilih berbaring sejenak.
Sekitar pukul enam lewat sedikit...
Teleponku berbunyi.
Notifikasi dari mobile banking.
Lalu sebuah pesan masuk.
Alhamdulillah.
Allah kembali mengirimkan rezeki melalui seorang sahabat baik yang selalu menolongku,
Aku terdiam.
Lalu tanpa sadar, mataku berkaca-kaca.
Kemarin aku masih memikirkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yayasan.
Pagi ini Allah mengirimkan jalan keluarnya.
Aku bisa segera mengembalikan pinjaman itu.
Dan seperti biasa, setiap kali Allah menitipkan rezeki kepadaku, aku ingin ada bagian yang kembali kubagikan.
Pagi ini pun aku kembali bersedekah kepada orang yang selama ini setia membantu
Aku ingin belajar bahwa rezeki yang datang tidak hanya berhenti di tanganku, tetapi juga mengalir kepada orang lain.
Mungkin itulah salah satu cara sederhana untuk mensyukuri nikmat Allah.
Saat menulis catatan ini, waktu menunjukkan pukul 07.45 pagi.
Ratib Al-Haddad yang tadi belum sempat kubaca akan kulanjutkan.
Kemudian Sholawat Ibrahim seratus kali.
Dan Sholawat Jibril sebanyak yang Allah mampukan lisanku.
Tiga hari lagi aku akan menjalani sidang kedua perceraianku.
Aku tidak tahu bagaimana Allah akan menuliskan takdir itu.
Tetapi hari ini aku memilih untuk tidak mendahului ketetapan-Nya dengan rasa takut.
Karena beberapa hari terakhir Allah sudah berkali-kali mengajarkanku satu hal.
Pertolongan-Nya selalu datang.
Kadang melalui orang.
Kadang melalui ide.
Kadang melalui ketenangan.
Dan kadang datang tepat sebelum kita selesai merasa khawatir.
Hari ini aku kembali belajar...
Bahwa doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.
Mungkin Allah tidak selalu menjawab sesuai waktu yang kita inginkan.
Tetapi Dia selalu menjawab pada waktu yang paling kita butuhkan.
SING TENANG
🤲 Allahumma Sugih.
💰 Allahumma Duit Okeh.
🌿 Allahumma Sehat.
✨ Aghnini bifadlika amman siwak.
Langit DiDada
