Di Ambang Lautan Doa

Sudah hampir dua pekan aku mengamalkan Hizib Bahr, dua kali dalam sehari, bada Subuh dan bada Isya. Kadang, di waktu Dhuha, aku putar rekamannya sendiri. Meski tak langsung bersama jamaah, rasanya tetap ada getaran yang sama: ketenangan, harapan, dan keyakinan.

Ada satu momen yang selalu membuatku berhenti lebih lama, menunduk lebih dalam: saat lantunan sampai pada kalimat wa ḥāṣilanā dhahaba al-baḥru. Di titik itu, kyai mempersilakan kami untuk memanjatkan doa-doa hajat. Rasanya seperti berdiri di tepi lautan yang baru saja surut, jalan terbuka, langit lapang, dan hati penuh harap.

Aku pun menyampaikan segala yang selama ini kupendam: harapan, kesedihan, cita-cita, dan rasa syukur. Ada keyakinan yang tumbuh pelan-pelan… bahwa Allah Maha Mendengar. Doa-doa itu bukan hanya harapan, tapi juga bentuk cinta dan percaya. Semoga terus menjadi jalan menuju kebaikan, untukku dan untuk siapa pun yang membaca ini.

Aku menuliskan ini bukan untuk pamer ibadah, tapi sebagai pengingat dan ajakan lembut. Semoga ada yang terinspirasi, semoga ada yang ikut mendekat. Jika ada manfaat, semoga menjadi amal jariyah. Jika ada kekurangan, semoga Allah ampuni.