Tubuh lemah, perut bergejolak,
asam lambung naik, muntah yang tak
tertahan.
Aku sudah hati-hati memilih santapan,
namun pikiran dan lelah tetap mengetuk
pintu sakit.
Di sela bab novel yang harus rampung,
di antara live TikTok dan sunyi edit
video,
badan berbisik lirih: “Istirahatlah, aku
pun punya hak.”
Namun Alhamdulillah…
di bulan mulia ini, aku masih mampu
menjalankan puasa Dawud, puasa
Dzulhijjah.
Saat sahur aku berdoa:
“Ya Allah, sehatkan, hamba ingin berpuasa
sunah besok.”
Obat hadir, dikirim sahabat lama,
siang aku rebah, malam selepas Isya aku
terlelap,
lalu bangun jam satu atau dua,
menyulam kata, menulis bab baru.
Sakit bukan penghalang,
justru ia mengajarkan sabar,
menyulam syukur di sela doa,
menjadikan ibadah lebih dekat,
lebih tulus, lebih indah
- Langit Didada
“Di sahur yang sunyi, doa tulus menjadi cahaya.”
