Di beranda yang sunyi, waktu berhenti,
seorang jiwa duduk, berselimut pagi.
Genggaman ponsel, bukan sekadar benda,
ia menyimpan cerita, tawa, dan tanya.
Langit tak bicara, tapi daun mengerti,
bahwa diam pun bisa menjadi puisi.
Tiang kuning berdiri, saksi hari-hari,
di mana harapan tak pernah pergi.
Tanaman di pot, kecil tapi setia,
menemani langkah yang tak selalu nyata.
Dan jendela hijau, memantulkan dunia,
yang kadang jauh, kadang terasa dekat di dada.
Di kursi roda, bukan lelah yang terpeta,
melainkan kekuatan yang tak semua bisa baca.
Ia duduk, ia hidup, ia ada
dengan cara yang lembut, tapi luar biasa
