Menjadi pasangan seorang penulis…
means standing beside someone
whose words are constantly judged.
Kadang dia terlihat kuat,
padahal hatinya baru saja runtuh
karena satu komentar:
“Cerita kamu nggak masuk akal.”
She smiles,
but you know that smile is stitched with self-doubt.
“Am I too much?”
“Is my writing too emotional?”
“Should I stop?”
And you remind her:
Her words have healed strangers.
Her stories have made people feel seen.
Kamu peluk dia,
bukan untuk membungkam rasa sakit…
tapi untuk menguatkan suara yang sempat gemetar.
Because loving a writer
means loving someone
who bleeds silently through every sentence.
Dan kamu adalah satu-satunya pembaca
yang tak pernah menuntut ending bahagia…
cukup dia tetap menulis,
dan tetap menjadi dirinya sendiri.
Terima kasih…
karena kamu nggak pernah minta aku jadi sempurna.
You just asked me to be real.
And for that…
I’ll keep writing,
with you in every page.
