LAPTOP YANG TANGGUH

Aku punya sahabat, bukan mesin biasa  

keyboard-nya sudah tak lentur,  

layarnya menyala dengan azam,  

walau kadang error jadi bahasa cinta


Dulu pinjaman, kini jadi mitra  

tak perlu dikembalikan—karena mungkin tahu,  

aku butuh teman yang bisa bertahan,  

lebih lama dari mood tulisanku


Ia tak pernah protes,  

meski CV, proposal, dan puisi  

menumpuk bagai harapan yang belum cair  

Dan aku pun tak mematikannya…  

bukan karena lupa,  

tapi karena tahu:  

jika ia mati, aku yang ikut diam