MASA KECIL EMANG MENYENANGKAN YAA..? (CERITA PENDEK)

 

Pukul 06.30 pagi, seperti biasa kesibukan ibu di pagi itu sebelum bapak berangkat bekerja, memandikan putri sulungnya dulu sebelum adiknya bangun. Kakak sudah terbiasa bangun sebelum bapak berangkat kerja, karena kakak selalu ikut mengantar bapak ke pintu sebelum pamit kerja.

 

Ibu, seorang ibu rumah tangga biasa dengan dua putri, putri yang pertama ber umur 3 tahun dan adiknya umur 2 bulan. Bapak bekerja sebagai karyawan di sebuah Perusahaan Textil swasta yang ternama di kota tempat mereka tinggal.

 

Setelah selesai memandikan kakak (putri sulungnya), sudah rapi dan wangi, ibu menyuapin kakak sarapan bubur nasi, menu sarapan rutin kakak yang ibu beli di warung sebelah.

Ibu sekeluarga menghuni rumah kontrakan yang di siapkan perusahaan bapak bekerja, satu rumah seperti asrama, terdiri dari beberapa kamar, jadi sangat ramai setiap hari, apalagi lokasi rumah yang berdekatan dengan jalan raya.

 

Adik bangun tidur, menangis, bergegas ibu menghampiri adik yang berada di ayunan, menggendong adik yang minta nenen.

Setelah selesai menyusui adik, ibu memasak air di dapur dan menyiapkan air untuk memandikan adik.

Adik di temani kakak bermain main di kamar.

Setelah selesai menyiapkan air, ibu memandikan adik dulu.

Kakak yang sendirian di kamar melihat di meja ada pensil (pensil alis ibu yang tinggal separo) dan buku kasbon (catatan hutang belanja) ibu yang sudah kucel, di ambil dan di bawanya keluar rumah.

Kakak berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jln LPI, sambil bernyanyi nyanyi kecil.

Banyak yang bertanya kepada kakak sepanjang jalan,

‘’Siwok (nama panggilan kesayangan kakak) mau kemana, kok sendirian? Ibu dimana?’’

Kakak menjawab : siwok mau toyah (mau sekolah), mau toyah’’

Sepanjang jalan setiap ada yang nanya, kakak jawab mau toyah’’

 

Jarak antara rumah kontrakan dengan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang di tuju kakak sekitar 500 meter. Waktu itu belum ada sekolah PAUD.

Di sekolah TK sudah berlangsung kegiatan belajar ketika kakak sampai, kakak terdiam di pintu sekolah, sambil melihat kedalam kelas, ibu guru melihat ada anak kecil berdiri di pintu sambil membawa buku dan pensil, mendatangi kakak, di bawanya masuk kelas, di dudukkan sambil bertanya :

Ibu guru : Namanya siapa?

Kakak : “Siwok

Ibu guru : “Siwok mau apa ke sekolah?

Kakak : “Siwok mau toyah (sambil memperlihatkan pensil alis dan buku kasbon ibu).”

Ibu guru tersenyum : “Siwok kesini sama siapa?

(bu guru bertanya sambil melihat keluar sekolah, tidak ada orang tuanya yang mengantar).

Kakak : Cendili (sendiri).”.

 

Kembali ke rumah kontrakan

Selesai memandikan adik, ibu memanggil-manggil kakak, “kakak.. kok sepi kemana ya itu anak (ibu bertanya dalam hati) mungkin ada di sebelah (pikirnya).”

Dan ibu pun melanjutkan mengurus adik. Setelah adik sudah selesai, sudah cantik dan wangi, ibu menggendong adik, sambil mencari kakak di sebelah, tidak ada. Di kamar sebelahnya lagi juga tidak ada, semua kamar di rumah kontrakan tidak ada kakak disana.

Ibu panik, kemana kakak pergi, khawatir ke luar rumah karena di luar sudah jalan trotoar, ramai orang lalu lalang karena rumah kontrakannya berada di pusat kota

.

Ibu menitipkan adik di kamar sebelah, kemudian bergegas pergi mencari kakak.

Sambil memanggil-manggil nama kakak di sepanjang jalan LPI.

Ibu bertanya ke tetangga, di toko-toko sebelah, apa kakak main disitu, tetapi tidak ada semua.

Semakin panik ibu, tiba-tiba Nyah Cempli (toko jamu) bilang sama ibu kalau tadi melihat kakak berjalan membawa pensil alis dan buku kecil di tangan sambil bernyanyi-nyanyi.

Nyah Cempli sempat bertanya “Siwok mau kemana?” terus dijawab, “Siwok mau toyah, mau toyah..,” sambil berjalan lurus kesana, mungkin ke sekolahan TK.

Ibu pun bergegas menuju ke sekolahan sambil mengucapkan terimakasih kepada Nyah Cempli yang sudah memberi tahu.

 

Sesampainya di sekolah

Ibu : Assalamualaikum... salam ibu sambil ketuk-ketuk pintu kelas.

Waalaikumsalam’’ jawab Ibu guru sambil keluar membukakan pintu kelas.          

Ibu : mohon maaf bu guru, mau bertanya, apakah anak saya ada disini?’’

Sambil menceritakan ciri-ciri putri sulungnya.

Ibu guru : ooo iyaa ibu, putri ibu ada disini, itu sedang bersama teman-temannya’’(sambil menunjuk kedalam kelas).

Ibu guru : “Saya tanya, namanya siapa.., di jawab namanya Siwok, mau toyah katanya sambil menunjukkan pensil alis dan buku kecil.

Ibu : Ya Allah.. maaf bu guru, jadi merepotkan. Tadi saya tinggal memandikan adiknya, jadi tidak tahu kalau kakak keluar dan kesini. Itu yang dibawa buku kasbon saya (jawab ibu sambil tersipu malu)’’

Kemudian ibu pun dibawa masuk ke ruang kelas, ibu melihat kakak sedang duduk di atas meja di kerumunin teman-temannya.

kakak melihat ibu datang langsung bilang sama ibu : “Siwok toyah bue’’

ibu tersenyum meng-iyakan, sambil mengajaknya pulang.

Kakak tidak mau di ajak pulang, “Siwok mau toyah, mau toyah’’

 

Ibu guru bicara sama ibu : ‘’biar putrinya disini dulu bu, keinginan sekolahnya kuat sekali, kasihan kalau tidak di ijinkan, besok ibu daftarkan putrinya sekolah’’

Ibu : ‘’tetapi putri saya masih berumur 3 tahun bu guru’’?

Ibu guru : ‘’tidak apa-apa bu, ikut-ikutan sekolah dulu sambil menunggu umurnya sampai untuk masuk TK Nol kecil’’

Ibu : Baik bu guru, terimakasih.

 

Akhirnya ibupun menunggu kakak sekolah hari itu karena kakak tidak mau di ajak pulang.

Pukul 10.00 pagi, murid-murid sudah keluar dari kelas, ternyata sudah waktunya pulang sekolah. Kakak pun ikut keluar.

Sambil berpamitan kepada ibu guru, ibu mengucapkan terimakasih, sudah menerima kakak dengan baik.

Sepanjang jalan pulang kakak bernyanyi, wajahnya ceria sekali.

Kakak bertanya kepada ibu : bue, besok siwok toyah lagi yaa? (dialog anak kecil)

Ibu mengangguk dan menjawab : ‘’iyaa, besok siwok sekolah lagi’’

Kakak senang sekali mendengarnya, serasa hari nya pingin langsung besok saja.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah sampai rumah banyak yang bertanya, “Siwok dari mana?

Siwok toyah, jawab kakak.(dengan wajah berseri-seri).

 

Sesampainya di rumah, ibu langsung ke kamar sebelah yang dititipin adik, sambil meminta maaf sudah merepotkan karena di tinggal mencari kakak. Dan ibu pun menceritakan kejadian yang barusan terjadi.

Bulek (panggilan ke tetangga kamar sebelah) menciumi kakak sambil bilang : anak pinter, sudah pingin sekolah ya..dan di jawab anggukan kepala oleh kakak sambil tersenyum riang.

 

Pukul 14.15 WIB Bapak pulang kerja, kakak sudah menunggunya di ruang depan. Di rumah kontrakan ada ruang luas di depan.

Begitu bapak datang, langsung menggendong kakak, kakak pun bercerita kalau tadi kakak toyah (sekolah).

Bapak masih belum paham apa yang kakak ceritakan, kemudian bertanya sama ibu

Siwok toyah tadi katanya, bener apa bu?

Kemudian ibu pun menceritakan semuanya, sambil menemani bapak makan siang.

Ibu bilang, itu anak berarti kalau ibu ajak ke puskesmas (sebelah sekolah TK)  dia hapalin jalannyaya pak?”

Yang ibu takutkan, itu  kan trotoar besar, banyak yang lalu lalang orang dari mana-mana, karena berada di depan pasar utama, terus jalan nya juga berbelok, kok hapal ya anak kita,

Itu yang ibu tidak habis pikir pak.

Karena kemauan sekolahnya tinggi jadi di hapalin jalan ke sekolahnya. Dia bawa pensil alis ibu yang sudah pendek dan buku kasbon kucel ibu (sambil tersenyum malu).

Bapak mendengarkan cerita ibu sambil ikut tersenyum, “Alhamdulillah bu, anak kita sudah pingin sekali sekolah, tidak perlu kita menyuruhnya.”

 

Sore harinya bapak mengajak kakak jalan-jalan ke toko sepatu untuk membelikan kakak sepatu buat sekolah dan tas sekolah juga peralatan sekolah TK.

Kakak gembira sekali, sampai rumah langsung di pakai sepatu dan tas nya.

Sambil muter-muter di depan kaca. Bapak dan ibu melihat sambil senyum-senyum.

Bapak berpesan sama kakak, “Di sekolah tidak  boleh rewel ya, anak pinter, anak sholeha. Kakak mengangguk, “iya pak..”

Karena kakak masih berumur 3 tahun takut rewel di sekolah. .  

Keesokan hari kakakpun berangkat sekolah, ibu mengantar dan menjemputnya.

Dan tidak terasa kakak sekolah sudah masuk kelas TK Nol Besar.

 

Hari ini kakak tanggal kelahirannya, sudah menjadi acara rutin ibu setiap kakak ulang tahun di rayakan, walaupun dengan sederhana. genap usia 5 tahun, kakak rencana mau merayakan ulang tahun di sekolahnya bersama teman-teman.

Ibu pagi-pagi sekali sudah sibuk memasak nasi kuning dan lauk nya, ibu hobby sekali memasak dan membuat kue. Jadi kalau kakak ulang tahun ibu masak dan membuat kue sendiri.

Kakak sudah berada di sekolah karena hari itu kegiatan sekolah seperti biasa.

Jam 10.00 WIB ibu datang di antar becak membawa makanan dan kue ulang tahun kakak, ibu sudah bilang sama bu guru jauh-jauh hari kalau hari itu mau merayakan ulang tahun kakak di sekolahnya.

Dengan di bantu ibu guru dan ibu-ibu yang putra putrinya sekolah di TK tersebut, ibu menyiapkan pesta kecil ulang tahun kakak.

Dan lonceng sekolah pun berbunyi, tanda jam pulang sekolah. Murid-murid berlarian keluar, semua pada berkumpul di halaman sekolah tempat bermain.

Menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama, membuat permainan dan kemudian makan bersama-sama.

 

Tahun berganti, kakak sudah masuk ke Sekolah Dasar (SD), mereka sekeluarga pindah ke desa, karena ibu hamil anak yang ketiga sampai ke empat.

Di desa ibu berjualan baju keliling dari desa ke desa, bapak masih bekerja di perusahaan yang sama. Sebagai anak sulung, kakak di rumah menjaga adik-adiknya.

 

Kelas V (Lima) Madrasah Ibtidaiyah (MI) kakak sekolah sambil berjualan makanan ringan di sekolah. Berangkat sekolah sambil membawa kantong kresek besar isi makanan, menggelar dagangannya jam istirahat, sambil menyeret-nyeret bangku ke luar kelas untuk menggelar dagangannya.

Setelah jam istirahat selesai, di masukkannya kembali dagangannya ke dalam kantong kresek besar. Pulang sekolah, uangnya di kasihkan ibu semua, untuk ibu belanjakan lagi.

Kelas VI (Enam) menjelang Ujian Sekolah, kakak tidak berjualan, karena harus konsentrasi belajar menghadapi Ujian Nasional.

 

Masuk bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), ibu sudah tidak jualan baju lagi, tetapi ganti berjualan makanan, di titipkan di warung-warung.

Jam 2 dini hari ibu sudah di dapur, menyiapkan bahan-bahan dagangannya, ibu jualan gorengan Pia-pia, pastel, kue dadar gulung.

Jam 5.30 pagi, sebagian dagangannya sudah siap untuk di titipkan, ibu membangunkan anak-anaknya untuk siap-siap berangkat sekolah.

Kakak sudah bangun duluan, karena tugasnya membawa makanan di titipkan ke warung-warung di sekitar rumah. Kakak juga membawa dagangan ke sekolah untuk di titipkan di kantin sekolah.

 

Ibu mendidik kakak menjadi anak yang mandiri, sebagai anak sulung yang mempunyai 3 orang adik, tumbuh dalam keluarga sederhana.

Lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak bisa seperti teman-temannya yang langsung meneruskan kuliah, tetapi kakak harus bekerja dulu.

Begitupun dengan adik-adiknya, ibu mendidiknya menjadi anak-anak yang tangguh, dalam keadaan dan situasi apapun, sebagai awal Langkah Perempuan Indonesia yang mandiri.

 

Dan kini ibu sudah tidak bersama lagi, satu tahun yang lalu ibu di panggil Allah Subhanahu Wa Ta’ala.