Kutanam doa di ladang waktu,
Bukan untuk dipanen esok pagi.
Aku percaya, hujan rahmat-Mu
Tak pernah salah memilih musim sendiri.
Kupupuk dengan sabar yang menggigil,
Kusiram dengan sujud yang panjang.
Meski angin ragu berulang kali datang,
Akar harap tetap menembus terang.
Hingga suatu fajar mengetuk jendela,
Bukan membawa semua yang kuminta.
Melainkan menghadirkan jawaban paling sempurna,
Yang bahkan tak sempat kususun dalam kata.
Kini kutahu, doa bukan sekadar suara,
Ia adalah benih yang hidup dalam jiwa.
Dan ketika Allah berkehendak menyapa,
Seluruh semesta ikut berkata: "Inilah waktunya.
