Sembilan Tahun di Balik Layar

Sembilan tahun...

Kadang aku sendiri masih tidak percaya sudah selama itu.

Sembilan tahun berada di balik layar.
Mengurus banyak hal yang mungkin tidak terlihat oleh siapa-siapa.

Ada begitu banyak cerita yang tidak pernah tertulis.

Tentang malam-malam ketika pikiran tidak mau berhenti bekerja.

Tentang menghitung ini dan itu, memikirkan kebutuhan yang belum selesai, mencari jalan ketika keadaan sedang sempit, mencoba tersenyum ketika sebenarnya hati sedang penuh.

Tentang pesan-pesan yang harus dijawab.

Tentang tanggung jawab yang tetap harus berjalan, bahkan ketika diri sendiri sedang ingin berhenti sebentar.

Orang mungkin hanya melihat ketika sebuah kegiatan terlaksana.

Melihat bantuan sampai.

Melihat anak-anak tersenyum.

Melihat semuanya seperti berjalan biasa saja.

Tapi mereka tidak selalu tahu berapa banyak hal yang harus dipikirkan sebelum semuanya terlihat baik-baik saja.

Dan mungkin memang begitu menjadi seseorang yang berada di balik layar.

Tidak banyak yang tahu ketika kita sedang lelah.

Tidak banyak yang tahu ketika kita sedang bingung.

Tidak banyak yang tahu berapa kali kita menangis diam-diam, lalu keesokan harinya kembali duduk dan mengerjakan semuanya seperti biasa.

Aku pernah merasa ingin berhenti.

Bukan sekali.

Ada masa ketika aku bertanya dalam hati,

“Apakah aku masih sanggup?”

Kadang aku ingin sekali ada seseorang yang berkata,

"Sudah, kamu istirahat saja. Biar kali ini aku yang mengurusnya."

Tapi ternyata, tidak semua hal bisa seperti itu.

Ada yang tetap harus dikerjakan.

Ada yang tetap harus dipikirkan.

Dan akhirnya aku belajar berjalan sambil membawa lelah.

Aku juga belajar bahwa dalam perjalanan panjang, orang-orang bisa datang dan pergi.

Ada yang dulu begitu dekat, kemudian perlahan menjauh.

Ada yang pernah berjalan bersama, lalu memilih jalan masing-masing.

Ada yang mungkin tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik layar.

Dulu, mungkin semua itu membuatku sedih.

Sekarang aku hanya belajar menerima.

Karena mungkin memang begitulah perjalanan.

Tidak semua orang ditakdirkan tinggal sampai akhir.

Dan tidak semua yang pergi berarti meninggalkan keburukan.

Sebagian hanya selesai pada waktunya.

Sembilan tahun membuatku banyak berubah.

Aku tidak lagi terlalu ingin menjelaskan semuanya kepada semua orang.

Tidak lagi terlalu ingin membuktikan bahwa aku sudah melakukan banyak hal.

Sebab semakin lama aku berada di sini, semakin aku memahami bahwa tidak semua kebaikan membutuhkan tepuk tangan.

Ada hal-hal yang cukup Allah saja yang tahu.

Tentang usaha yang tidak terlihat.

Tentang air mata yang tidak diketahui.

Tentang doa-doa yang hanya disampaikan dalam sujud.

Tentang berkali-kali hampir menyerah, tetapi entah bagaimana selalu diberi kekuatan untuk mencoba sekali lagi.

Mungkin itulah bagian paling sunyi dari menjadi seorang pengurus.

Kita sering sibuk memastikan orang lain mendapatkan apa yang mereka butuhkan, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri:

"Aku sendiri sebenarnya bagaimana?"

Dan hari ini aku ingin bertanya itu kepada diriku.

Bagaimana kabarmu?

Apakah kamu masih bahagia?

Apakah kamu masih ikhlas?

Apakah kamu masih kuat?

Atau sebenarnya kamu hanya sudah terlalu terbiasa mengatakan, “InsyaAllah bisa,” setiap kali keadaan terasa berat?

Aku tidak tahu.

Mungkin jawabannya sedikit dari semuanya.

Aku lelah.

Tapi aku masih peduli.

Aku pernah kecewa.

Tapi aku masih ingin berbuat baik.

Aku pernah ingin menyerah.

Tapi ternyata hatiku belum benar-benar bisa meninggalkan amanah ini.

Sembilan tahun bukan tentang seberapa hebat aku bertahan.

Justru semakin lama aku berjalan, semakin aku sadar bahwa aku tidak mungkin bertahan hanya dengan kekuatanku sendiri.

Ada pertolongan Allah di setiap langkah yang bahkan sering tidak kusadari.

Ada rezeki yang datang di saat yang tepat.

Ada orang baik yang muncul ketika aku hampir tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.

Ada jalan yang tiba-tiba terbuka ketika semua terasa buntu.

Maka kalau hari ini aku masih berada di sini, mungkin bukan karena aku hebat.

Mungkin karena Allah masih mengizinkan.

Dan itu cukup untuk membuatku bersyukur.

Sembilan tahun...

Ternyata perjalanan ini bukan hanya tentang mengurus sebuah lembaga.

Perjalanan ini juga tentang mengurus hati.

Belajar ikhlas.

Belajar sabar.

Belajar menerima.

Belajar melepaskan.

Belajar bahwa tidak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai keinginan.

Dan belajar bahwa terkadang, bertahan bukan berarti harus terus memaksakan diri.

Ada waktunya berhenti sebentar.

Menangis.

Mengambil napas.

Lalu kembali berjalan ketika hati sudah sedikit lebih tenang.

Hari ini aku tidak ingin mengatakan bahwa aku akan selalu kuat.

Aku tidak tahu.

Aku juga tidak tahu berapa lama lagi perjalanan ini akan berlangsung.

Yang aku tahu, sembilan tahun ini sudah menyimpan terlalu banyak cerita untuk sekadar disebut sebagai sebuah perjalanan.

Ada bagian dari hidupku yang tertinggal di dalamnya.

Ada air mata.

Ada tawa.

Ada kecewa.

Ada harapan.

Ada doa.

Dan ada begitu banyak nama yang pernah hadir dalam perjalanan ini.

Untuk semuanya, aku hanya bisa berkata:

terima kasih.

Dan untuk diriku sendiri...

terima kasih sudah bertahan.

Terima kasih sudah tetap mencoba meskipun berkali-kali merasa tidak sanggup.

Terima kasih sudah tetap memilih kebaikan, bahkan ketika keadaan tidak selalu baik kepadamu.

Kalau suatu hari nanti aku benar-benar merasa lelah, semoga aku tidak merasa bersalah untuk beristirahat.

Sebab aku sudah berjalan cukup jauh.

Dan kalau ternyata masih ada jalan panjang di depan sana, semoga Allah yang menggenggam tanganku.

Bukan karena aku yakin bisa.

Tetapi karena aku percaya,

selama Allah masih menitipkan amanah, Allah pula yang akan memberikan kekuatan untuk menjalaninya.

Sembilan tahun di balik layar.

Tidak selalu terlihat.

Tidak selalu dipahami.

Tidak selalu mudah.

Tapi Alhamdulillah...

aku masih di sini.