AKU DAN JALANKU

Aku,  

penulis yang merangkai harapan dalam kata,  

relawan yang menebar kasih pada mereka yang butuh pelukan dunia,  

affiliate yang membangun langkah dengan usaha dan kreativitas,  

dan pencinta yang tak pernah ragu.  


Di antara langkah-langkahku,  

ada jejak doa yang kutitipkan,  

ada hati yang ingin memberi,  

ada impian yang kian tumbuh,  

dan ada dirimu, yang tak pernah luput dari ingatan


BUKAN CINTA MANUSIA BIASA

 Ini bukan sekadar rindu yang menepi  

Bukan hati yang mengemis temu  

Ini cinta yang tak terikat waktu  

Mengalir dalam doa, bertaut di langit biru  


Tak hanya lirih dalam senandung  

Tak hanya terucap dalam syair  

Ia menelusup ke dasar jiwa  

Menjadi cahaya yang tak pernah berakhir


Cinta ini suci, tak mengenal batas  

Mengalun bagai irama

Menghidupi arti yang lebih luas  

Bukan cinta manusia biasa




DALAM RENGKUH KEKURANGAN

Tak perlu mengejar sempurna,  

Sebab cahaya tak selalu datang dari bintang.  

Kadang ia lahir dari retakan,  

Mengalir lembut di sela-sela luka.  


Ada indah dalam yang tak utuh,  

Serupa daun yang berlubang diterpa angin,  

Tetap berbisik pada langit,  

Tentang hidup yang tak harus tanpa cela.  


Jangan takut pada goresan waktu,  

Di sanalah kisah bertumbuh.  

Biarkan kekurangan merangkul,  

Sebab dalam rengkuhannya, keindahan menemukan ruangnya








CAHAYA DALAM GELAP

Jangan bersinar di tempat yang terang,  

di sana, gemerlap sudah berlimpah,  

mata yang memandang tak akan bertanya,  

siapa kau, cahaya kecil yang bercahaya?  


Namun di gelap, meski redup sinarmu,  

kau adalah harapan yang tak tergantikan,  

seberkas lembut, secercah tenang,  

keindahanmu hadir dalam kesunyian.  


Tak perlu menjadi bintang di langit yang ramai,  

cukup jadi lentera di malam yang sepi,  

sebab dalam gulita yang menelan dunia,  

cahayamu adalah arti,  

adalah keindahan,  

adalah hidup bagi yang mencari.


TUMPAHKAN PADA-NYA

Jangan tumpahkan segalanya pada manusia,

Karena pandangan mereka sebatas mata,

Hanya mampu menilai dari rupa,

Tak selalu paham luka yang tersembunyi di dada.


Mereka terbatas dalam mengerti,

Hanya menebak dari yang mereka lihat dan dengar,

Sedang hatimu,

adalah samudera yang dalam,

tak terselami oleh sekadar nalar.


Tumpahkanlah segalanya kepada Allah,

Dzat yang tak pernah alpa memahami,

Yang tahu tiap desah napas dalam diam,

Yang mendengar bisik doa, meski hanya di hati.


Dia Maha Mengetahui apa yang tak terucap,

Maha Bijaksana dalam tiap keputusan yang ditetapkan,

Maha Berkehendak atas tiap takdir yang dijalankan—

tak pernah keliru, tak pernah terlambat datang.


Maka tenanglah, wahai jiwa yang resah,

Tak perlu semua orang mengerti,

Cukup Allah yang tahu dan menguatkan,

Di situlah letak ketenangan sejati.