Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,
Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.
Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,
Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.
Lelaki itu...
Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,
Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.
Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,
Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah
yang mungkin belum lunas,
Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.
Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.
Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.
Tapi setiap detik ia berjalan,
ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:
Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja




