BIAR ALLAH YANG MENYEMPURNAKAN

 Fokuskan hatimu dalam sujud yang jujur,  

di tiap lirih doa sebelum fajar beranjak.  

Ibadahmu—itulah penjagaanmu  

saat dunia gemuruh, Allah tetap dekat.


Berikan dengan lapang dari apa yang kamu bisa,  

walau hanya senyum atau secarik doa.  

Karena sedekahmu tak pernah sia-sia,  

meski manusia tak menyapa.


Usahamu mencari rezeki—cukupkan itu dengan ikhtiar,  

tak perlu memaksakan yang bukan takdirmu.  

Karena rezeki datang seperti hujan:  

tak selalu terlihat awalnya,  

tapi cukupkan tanah yang bersabar menunggu.


Dan semua hal yang membuatmu risau,  

biarkan Allah yang menyempurnakan,  

dengan kasih-Nya yang tak pernah absen,  

dan janji-Nya yang tak pernah lalai.


LELAKI YANG TAK PERNAH BERCERITA

Ia tak pandai melukis lelah dalam kata,  

Tak sempat mengeluh saat peluh jatuh membasah.  

Langkahnya berat, namun mantap menuju rumah,  

Demi satu senyum hangat yang menyambut di ambang pintu.


Lelaki itu...  

Tak pernah memamerkan luka yang ia sembunyikan,  

Tapi selalu pulang dengan tangan terbuka.  

Di matanya tergenggam harap istri dan anak-anak,

Tentang pengganjal lapar, atau selembar biaya sekolah  

yang mungkin belum lunas,  

Tapi tak pernah ia biarkan terlewat dari doa.


Ia pejuang, dalam diamnya yang mulia.  

Ia cahaya, meski kadang meredup oleh dunia.  

Tapi setiap detik ia berjalan,  

ada cinta yang ia bawa pulang dalam wujud sederhana:  

Kehadiran, keteguhan... dan janji bahwa semuanya akan baik-baik saja


WELAS ASIH

Welas asih...  

bukan sekadar simpati yang singgah di permukaan,  

ia adalah pelukan yang diam-diam menyembuhkan,  

perasaan yang memahami sebelum dijelaskan,  

yang memilih untuk mengerti, bukan menghakimi.


Ia adalah cahaya

bukan hanya menerangi,  

tapi juga menghangatkan langkah jiwa yang tersesat.  

Sumber energi yang tak terlihat,  

namun mampu mengubah dunia yang terasa keras.


Welas asih adalah rasa…  

yang ketika dicubit sakit, memilih untuk tidak mencubit,  

yang ketika dilukai, tetap memberi ruang untuk damai.  

Karena ia tahu,  

kebaikan tidak tumbuh dari dendam,  

tapi dari keberanian untuk mencintai setulus hati




Semoga Allah berkahi Jumatku, dan Jumatmu

Dalam sunyi subuh yang berbisik lembut,  

kutitipkan harap di sela doa yang khusyuk.  

Agar setiap detak langkah kita hari ini,  

berjalan di bawah naungan ridha Ilahi.


Semoga Jumatku, dan Jumatmu,  

menjadi taman amal yang harum mewangi,  

dari salam hangat pada sesama,  

hingga bisikan syukur dalam hati yang tak henti.


Jika harimu lelah, semoga damai-Nya memeluk,  

jika harimu tenang, semoga syukurmu tak putus.  

Untukmu yang jauh namun dekat dalam doa,  

semoga berkah-Nya melimpah seluas samudra.


HARI INI

Hari ini bukan sekadar ulangan dari kemarin,  

tapi undangan baru dari Allah  

untuk mencoba lagi

lebih sabar, lebih ikhlas,  

lebih percaya bahwa kebaikan  

tidak pernah sia-sia.


Jika langkahmu terasa lambat,  

ingat: bunga pun tak mekar dalam sehari.  

Tugasmu bukan berlari kencang,  

tapi tetap berjalan walau pelan,  

asal arahmu tetap pada harapan