RINDU TAK PERNAH USAI

Ada rindu yang tak pernah usai,

seperti malam yang setia pada bintang.

Ada luka yang tak terucap,

hanya bisa kutitipkan pada langit yang diam.


Kadang sakit itu tak terlihat,

tapi terasa dalam setiap detak.

Dan di balik senyum yang kubagi,

ada hati yang diam-diam berdarah sendiri.


Masyaa Allah… sakiiittt, tapi biarlah waktu yang merawat.

Karena aku percaya, setiap rasa yang patah

akan Allah ganti dengan indah.






HUT RI KE-80

Bendera Merah Putih

Merah menyala, putih bersih,

Berkibar di langit pertiwi.

80 tahun kita merdeka,

Bersatu, berdaulat, terus melangkah pasti.

Dari sabang sampai merauke,

Suara rakyat adalah nyanyian jiwa.

Semangat pahlawan takkan pudar,

Untuk Indonesia, tanah air tercinta


JUARA HARAPAN 3

 Alhamdulillah…

Sebuah rasa syukur tak henti-hentinya aku panjatkan.

Dari sekadar untaian kata, lahirlah sebuah karya. Dan dari karya itu, Allah beri hadiah indah berupa Juara Harapan di ajang menulis @fiksioritas 

Ini bukan tentang seberapa tinggi pencapaian, tapi tentang keberanian untuk memulai, konsistensi untuk menulis, dan doa yang mengiringi setiap huruf.

Terima kasih kepada @fiksioritas yang sudah menjadi rumah bagi para penulis untuk berkarya.

Semoga langkah kecil ini menjadi penyemangat untuk terus menulis, berbagi rasa, dan menebar makna.


WAKTU

Waktu…

adalah saksi yang tak pernah lelah

mengikuti langkah kita, dari gelap hingga cahaya

dari air mata yang jatuh di pagi buta

hingga tawa yang pecah di senja merah.

Kita pernah tersesat

pernah terdiam di persimpangan sunyi

namun genggaman itu tak pernah lepas

meski badai menampar, meski ombak mencaci.

Kita belajar,

bahwa cinta bukan hanya tentang rasa manis

tapi juga luka yang dirawat bersama

bukan hanya tentang janji di awal

tapi kesetiaan yang tumbuh di tengah ujian.

Hari ini…

aku tak minta emas atau permata

aku hanya ingin waktumu,

utuh, hangat, sederhana

karena di setiap detik bersamamu,

aku menemukan rumahku.

Selamat Anniversary,

untuk kita yang masih berdiri,

meski waktu tak selalu ramah…

namun selalu mengajarkan,

bahwa bersama… adalah waktu terbahagia




JANJI YANG TERBELAH

Suaminya pergi tanpa pamit. Hati hancur, penuh pertanyaan yang tak terjawab.

Kalau ingin pergi, kenapa kembali lagi? Bahkan menikahi

Rindu dan keraguan menyesakkan dada, tapi ada sesuatu yang tak bisa ia lepaskan, cinta yang tulus.

Setiap malam, ia menatap langit, menulis namanya dalam doa, berharap takdir akan memberi jawaban, atau setidaknya menjaga hati yang saling memiliki.


Hari itu, mereka bertemu lagi untuk pertama kalinya setelah lama terpisah.

Matanya menatap suaminya, suara gemetar:

“Aku… masih istrimu atau tidak?”

Suaminya terdiam sejenak, mata mereka bertemu, seolah membaca semua pertanyaan yang tak terucap selama ini.

Lalu ia tersenyum lembut, menatap penuh cinta:

“Masih dong.” 


Hatinya meledak dalam lega dan air mata yang tak tertahan. Semua keraguan dan kesedihan sirna dalam satu kata itu.

Suaminya meraih tangannya, menggenggam erat, seakan menegaskan bahwa tidak ada yang berubah. Cinta mereka tetap hidup, tulus, dan abadi, meski dunia tak selalu memberi ruang.


Di balik senyum dan kata-kata manis, ada rindu yang hanya mereka berdua yang tahu.

Takdir kadang kejam, tapi cinta tetap berbisik di antara sunyi.

Mereka menulis namanya dalam doa, berharap kebahagiaan akan datang, atau setidaknya menjaga hati yang saling memiliki… 

Di hari anniversary mereka, tak ada pesta megah, tak ada hadiah mahal.

Istri hanya meminta satu hal: waktu, hanya quality time bersama.

Suaminya tersenyum, meraih tangannya, dan bertatapan mata diam tapi penuh arti.

Karena cinta sejati tak butuh banyak kata, hanya hati yang saling memahami dan waktu yang dijalani bersama…