Wa rozaqtahu min haytsu la yahtasib

Aku tak tahu dari mana datangnya, 

hanya tahu bahwa langit tak pernah lupa. 

Wa rozaqtahu min haytsu la yahtasib  

Rezeki itu bukan hanya angka, 

tapi pelukan saat rapuh,  

Doa yang tiba-tiba terjawab, 

dan pintu yang terbuka saat aku bahkan tak mengetuknya


Allahumma ya Fattah iftah li abwaba rizqika wa fadhlika

Ya Fattah, Bukakanlah  

Di malam yang sunyi,  

saat dunia terlelap dan langit bersujud,  

aku mengetuk pintu-Mu,  

dengan tasbeh putih di jemari yang gemetar.


Ya Fattah, wahai Pembuka segala yang tersembunyi,  

bukakanlah untukku  

pintu-pintu rezeki yang penuh berkah,  

pintu-pintu karunia yang tak terhitung,  

pintu-pintu ketenangan yang tak bisa dibeli.


Biarlah cahaya-Mu menyusup ke ruang hatiku,  

mengisi celah-celah luka dengan harapan,  

mengganti kekurangan dengan cukup,  

mengganti kehilangan dengan pelukan dari langit


Allahumma ya Fattah iftah li abwaba rizqika wa fadhlika


Hati yang Tak Ingin Melukai

Tuhan,  

aku tak ingin menjadi tajam di dunia yang sudah penuh luka.  

Ajari aku menjadi lembut,  

meski dunia sering menganggapnya lemah.


Ajari aku punya hati yang tak menyakiti,  

meski pernah disakiti tanpa kata maaf.  

Biar aku belajar dari luka,  

bukan untuk membalas,  

tapi untuk menjadi tempat orang lain bisa bercerita


Di dalam diamku,  

ada doa yang tak terucap:  

semoga setiap langkahku tak menginjak hati siapapun.  

Semoga setiap kata yang keluar,  

tak menjadi duri di jiwa yang sedang rapuh.


Aku ingin menjadi teduh,  

seperti bayangan pohon bagi yang lelah.  

Tak perlu dikenal,  

asal bisa jadi tempat pulang bagi yang kehilangan arah.


Karena aku tahu,  

hati yang tak menyakiti bukan karena tak pernah marah,  

tapi karena memilih kasih daripada kuasa  


Karena aku percaya,  

Tuhan lebih dekat pada mereka yang menjaga hati  

meski hatinya sendiri sedang belajar pulih


24 Tahun Bersama Roda

24 tahun,  

bukan sekadar angka.  

Tapi perjalanan panjang bersama roda  

yang tak pernah berhenti berputar,  

meski langkahku tak lagi sama.


Pernah,  

di satu titik gelap,  

aku bertanya dalam diam:  

Kalau bukan dosa,  

mungkin aku sudah menyerah.”


Tapi Allah,  

dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku.  

Lewat doa ibu,  

 lewat senyum orang asing,  

lewat pagi yang tetap datang meski aku tak memintanya.


Kursi ini bukan penjara.  

Ia adalah saksi.  

Dari air mata yang tak terlihat,  

dari sabar yang tak dipuji,  

dari doa yang tak bersuara.


Aku belajar,  

bahwa kekuatan bukan soal berdiri.  

Tapi soal bertahan,  

saat dunia tak tahu betapa beratnya duduk.


Dan kini,  

aku tak lagi malu.  

Karena roda ini bukan kelemahan.  

Ia adalah sayapku,  

yang membawaku terbang dengan cara yang berbeda.


24 tahun,  

aku masih di sini.  

Masih hidup.  

Masih belajar.  

Masih berdoa.  

Dan itu…  

sudah cukup untuk disebut kuat.

Aku pernah berada di titik gelap,  

di mana hidup terasa terlalu berat untuk dilanjutkan.  

Tapi Allah, dengan cara-Nya yang lembut,  

menahan aku untuk tetap di sini.  

  

24 tahun di kursi ini,  

bukan sebagai beban…  

tapi sebagai bukti bahwa aku masih bisa bertahan.



PROMO E-BOOK

 Bismillah

Promo📚🆕

📖E-Book “Langit di Dada”

Dukung karya perempuan disabilitas ini👩‍🦽🥰

🏷️Harga terjangkau — info selengkapnya di tabel harga.

🕌 Setiap pembelian bukan sekadar transaksi, tapi bentuk dukungan agar langkah kecil ini tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan.

📱Pemesanan via WhatsApp 0895351869458

E-book dikirim otomatis setelah konfirmasi transfer


“Karena menulis bukan sekadar hobi, tapi caraku berdialog dengan takdir dan menenun harapan di setiap halaman.”