Jendela yang Tak Pernah Tertidur – Kisah Cahaya Menyambut Ramadhan

Malam itu begitu sunyi. Gang kecil di ujung kampung tertutup gelap, hanya suara jangkrik yang sesekali terdengar. Namun ada satu jendela yang tak pernah tertidur, cahaya lampu kuningnya menembus tirai tipis, seolah menjadi tanda bahwa ada seseorang yang masih terjaga. Orang-orang yang lewat sering bertanya-tanya, siapa yang selalu menyalakan jendela itu di tengah malam?

Di balik jendela itu, seorang perempuan duduk dengan tenang. Tangannya sibuk menulis, kadang berhenti untuk berdoa, kadang hanya menatap kosong ke luar. Ia terbiasa terjaga di sepertiga malam, bukan karena tak bisa tidur, melainkan karena hatinya menemukan kedamaian dalam sunyi. Lampu kecil yang ia nyalakan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga sebagai tanda bagi siapa pun yang melihat: sahur sudah dekat, Ramadhan semakin mendekat.

Anak-anak kecil di gang sering mengintip ke arah jendela itu. Mereka merasa ditemani, seolah ada yang menjaga malam mereka. Kadang seorang tetangga yang pulang terlambat tersenyum lega, karena cahaya dari jendela itu mengingatkan bahwa sahur sudah dekat. Jendela sederhana itu menjadi tanda kehidupan, pengingat bahwa ada seseorang yang selalu terjaga, menulis, dan berdoa di tengah sunyi.

Menjelang Ramadhan, perempuan itu berhenti dari puasa Dawud. Namun jendelanya tetap menyala, seakan enggan menyerah pada gelap. Malam-malam terakhir sebelum bulan suci, cahaya itu menjadi lebih berarti: bukan hanya tanda sahur, tapi juga simbol harapan. Orang-orang yang melihatnya tahu, Ramadhan sudah di depan mata, dan ada seseorang yang diam-diam menjaga semangat mereka dengan cahaya kecil dari balik jendela.

Jendela itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar cahaya. Ia adalah doa yang diam-diam dipanjatkan, harapan yang tak pernah padam, dan pengingat bahwa Ramadhan selalu datang membawa kesempatan baru. Orang-orang mungkin hanya melihat lampu kecil yang menyala di tengah malam, tapi sesungguhnya mereka sedang menyaksikan hati yang tak pernah lelah mencari cahaya. Jendela yang tak pernah tertidur itu pun menjadi simbol: bahwa dalam gelap sekalipun, selalu ada sinar yang menuntun menuju Ramadhan.



Pelukan yang Menyapa dalam Mimpi

Siang itu, dalam hening yang lembut,

ada sosok datang menyapa, membawa pelukan yang lama tak singgah.

Aku tak pernah menunggu, tak pernah menyebut namanya, namun semesta menitipkan kehadiran, sekilas rindu, sekilas bahagia, lalu pergi, meninggalkan senyum samar di hati.



Doa kecil dari hati yang penuh syukur, semoga langkah kita selalu dalam ridho Allah

Di malam Nisfu Sya’ban yang hening,

langit seakan membuka pintu rahmat,

doa-doa naik bersama bisikan hati,

mengharap ampunan, mengharap kasih Ilahi.


Bulan separuh bercahaya lembut,

menyapa jiwa yang rindu ketenangan,

di antara sujud dan sholawat,

terasa dekat dengan Sang Pengasih.


Ya Allah, catatkan kebaikan untuk kami,

hapuskan dosa yang membelenggu langkah,

panjangkan umur dalam keberkahan,

lapangkan rezeki dalam ridho-Mu.


Nisfu Sya’ban, malam penuh harapan,

tempat hati bersandar tanpa ragu,

semoga Ramadhan nanti menyambut kita,

dengan cahaya iman yang semakin utuh.




Jangan Biarkan Aku Sendiri, Ya Hayyu Ya Qayyum

Di sepertiga malam yang sunyi,  

aku bersandar pada cahaya-Mu,  

Ya Hayyu, Yang Maha Hidup,  

Ya Qayyum, Yang Maha Berdiri Sendiri.  


Dengan rahmat-Mu aku memohon,  

biarlah segala urusanku Kau perbaiki,  

agar langkahku tak tersesat,  

dan hatiku tetap terikat pada-Mu.  


Jangan biarkan aku sendiri,  

walau sekejap mata,  

karena tanpa-Mu,  

aku hanyalah rapuh yang tak berdaya.  



Ya Hayyu Ya Qayyum,  

dalam dzikirku aku bernaung,  

dalam doa ini aku menemukan,  

cahaya yang tak pernah padam.


Lakal Hamdu dalam Gelapku

Allahumma…

Lakal hamdu, meski dadaku sesak, meski langkahku berat, meski malam terasa panjang tanpa cahaya.

Kepada-Mu segala pengaduan, aku titipkan air mata yang tak terlihat, aku serahkan resah yang tak terucap.

Engkaulah tempatku bersandar, saat dunia menutup pintu, saat hati hampir runtuh.

Tiada daya, tiada kuasa, kecuali Engkau yang Maha Tinggi, yang mengangkatku dari lumpur lelah, yang menyalakan lilin kecil di tengah gelap.

Maka biarlah aku diam dalam doa, biarlah aku kuat dalam pasrah, biarlah aku hidup dalam harapan, karena Engkau, ya Rabb, tak pernah meninggalkan hamba-Mu.