Sekuat Apa Diriku, Ya Allah

Sekuat apa diriku, ya Allah, sehingga Engkau sangat percaya bahwa aku bisa melewatinya?

Air mata malam ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran hati. Aku menangis bukan karena kalah, tapi karena percaya: Engkau selalu ada, bahkan saat aku merasa rapuh.

Tahajud ini menjadi ruang paling intim untukku berbicara dengan-Mu. Aku ingin menyerahkan seluruh letih, seluruh rasa takut, dan seluruh harapan. Karena aku tahu, Engkau lebih dulu percaya aku mampu, meski aku sering meragukan diriku sendiri.

"Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin."

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat ini menjadi penguat: bahwa setiap langkah, setiap doa, bahkan setiap air mata, semuanya kembali kepada-Mu.



Sekuat apa diriku, ya Allah, hingga Engkau percaya aku mampu? Di balik rapuh ada cahaya, di balik letih ada doa. Aku berjalan, karena Engkau menuntunku



Sahur Terakhir Puasa Dawud

Sebuah puisi menjelang Ramadhan

Sahur ini terasa berbeda... Langit masih gelap, tapi hati mulai terang. Insyaa Allah, tinggal dua kali sahur lagi, Puasa Dawud pamit sejenak, Memberi ruang bagi Ramadhan yang agung.

Ada rindu yang pelan-pelan tumbuh, Pada lantunan doa yang lebih panjang, Pada malam-malam yang lebih sunyi, Pada tangis yang lebih jujur di sepertiga malam.

Aku bersiap, bukan hanya dengan makanan, Tapi dengan harapan dan taubat yang diam-diam. Semoga Allah terima lelah dan niatku, Semoga Ramadhan nanti jadi pelukan yang hangat, Bagi hati yang kadang dingin, kadang rapuh.

Sahur ini, aku belajar bersyukur. Karena diberi waktu untuk bersiap, Karena diberi kesempatan untuk kembali. Karena Ramadhan… Selalu datang sebagai cahaya.



Menunggu dengan Sabar

Assalamu’alaikum sahabat, semoga senja ini membawa ketenangan. Izinkan aku berbagi sedikit cerita tentang hari yang panjang, tentang duduk, menunggu, dan bertahan…

Sejak pagi kursi roda menjadi sahabatku, menampung tubuh yang tak lelah berjuang meski rasa pegal datang seperti jarum halus yang berulang. Aku duduk, menata berkas, menyambut tamu, lalu menunggu dengan sabar hingga senja.

Rasa sakit memang hadir, menusuk perlahan, tapi aku memilih menjadikannya bagian dari perjalanan. Aku menghibur diri dengan kata-kata, menuliskan cerita, seakan setiap huruf adalah pijakan lembut yang menenangkan.

Menunggu bukan berarti diam. Ada doa yang berbisik, ada harapan yang berdenyut, ada semangat yang tetap hidup meski tubuh terasa berat. Kursi roda ini bukan sekadar tempat duduk, melainkan saksi bahwa aku masih bertahan, masih memberi arti.

Dan ketika senja turun perlahan, aku tersenyum kecil. Hari ini mungkin penuh pegal, tapi juga penuh pelajaran: bahwa kesabaran adalah kekuatan, dan setiap detik yang kutahan adalah cahaya yang tak pernah padam.

Terima kasih sudah singgah di ruang kecil ini. Semoga setiap langkah yang kita tempuh, meski perlahan dan terbatas, tetap membawa cahaya. Mari terus bertahan, dengan sabar dan doa yang tak pernah putus.


Tubuh yang Bicara

Hari ini aku duduk di ruang kerja, menatap layar komputer yang terus menyala. Pikiran ramai, tapi tubuh mulai memberi tanda. Rasanya seperti ditinju dari dalam, sakit, keringat dingin keluar, bahkan ingin muntah.

Mungkin ini akibat beberapa hari lembur tanpa jeda. Kadang kita lupa, tubuh pun punya bahasa. Ia bicara lewat rasa lelah, lewat diam, lewat sakit yang datang tiba-tiba.

Aku belajar bahwa hening bukan hanya dari pikiran, tapi juga dari tubuh yang meminta perhatian. Diam di depan layar hari ini bukan sekadar kosong, melainkan panggilan untuk berhenti, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Semoga esok lebih ringan, semoga tubuh kembali kuat. Karena setiap lelah pun bisa menjadi doa, agar kita tetap diberi keteguhan untuk melangkah.


Jendela yang Tak Pernah Tertidur – Kisah Cahaya Menyambut Ramadhan

Malam itu begitu sunyi. Gang kecil di ujung kampung tertutup gelap, hanya suara jangkrik yang sesekali terdengar. Namun ada satu jendela yang tak pernah tertidur, cahaya lampu kuningnya menembus tirai tipis, seolah menjadi tanda bahwa ada seseorang yang masih terjaga. Orang-orang yang lewat sering bertanya-tanya, siapa yang selalu menyalakan jendela itu di tengah malam?

Di balik jendela itu, seorang perempuan duduk dengan tenang. Tangannya sibuk menulis, kadang berhenti untuk berdoa, kadang hanya menatap kosong ke luar. Ia terbiasa terjaga di sepertiga malam, bukan karena tak bisa tidur, melainkan karena hatinya menemukan kedamaian dalam sunyi. Lampu kecil yang ia nyalakan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga sebagai tanda bagi siapa pun yang melihat: sahur sudah dekat, Ramadhan semakin mendekat.

Anak-anak kecil di gang sering mengintip ke arah jendela itu. Mereka merasa ditemani, seolah ada yang menjaga malam mereka. Kadang seorang tetangga yang pulang terlambat tersenyum lega, karena cahaya dari jendela itu mengingatkan bahwa sahur sudah dekat. Jendela sederhana itu menjadi tanda kehidupan, pengingat bahwa ada seseorang yang selalu terjaga, menulis, dan berdoa di tengah sunyi.

Menjelang Ramadhan, perempuan itu berhenti dari puasa Dawud. Namun jendelanya tetap menyala, seakan enggan menyerah pada gelap. Malam-malam terakhir sebelum bulan suci, cahaya itu menjadi lebih berarti: bukan hanya tanda sahur, tapi juga simbol harapan. Orang-orang yang melihatnya tahu, Ramadhan sudah di depan mata, dan ada seseorang yang diam-diam menjaga semangat mereka dengan cahaya kecil dari balik jendela.

Jendela itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar cahaya. Ia adalah doa yang diam-diam dipanjatkan, harapan yang tak pernah padam, dan pengingat bahwa Ramadhan selalu datang membawa kesempatan baru. Orang-orang mungkin hanya melihat lampu kecil yang menyala di tengah malam, tapi sesungguhnya mereka sedang menyaksikan hati yang tak pernah lelah mencari cahaya. Jendela yang tak pernah tertidur itu pun menjadi simbol: bahwa dalam gelap sekalipun, selalu ada sinar yang menuntun menuju Ramadhan.