📚 Mau baca puisi?

Aku punya e-book berisi 139 puisi (tahun 2022), 

Karyaku sendiri.

Siapa tahu ada yang cocok atau menyentuh hatimu.



Yang mau support atau beli, boleh chat aku ya 

Terimakasih banyak atas dukungannya.

Hati yang Tenang

Aku menunggu tanpa terburu-buru,
memberi ruang, memberi waktu, memberi kesempatan.
Mereka yang dzalim, urusannya bukan padaku, tapi pada Allah.
Hatiku tetap ringan, karena aku tahu:
jalan hidupku adalah tanggung jawabku sendiri.
Setiap langkahku penuh doa,
setiap napasku penuh tawakal,
setiap hatiku penuh ikhlas.
Aku percaya, kebahagiaanku akan datang,

tanpa dendam, tanpa takut, tanpa beban.




Semua Sedang Berjuang

Tidak ada manusia yang benar-benar baik-baik saja di dunia ini. Di balik senyum yang kita lihat, ada cerita panjang tentang perjuangan, luka, dan harapan. Setiap orang sedang menapaki jalannya masing-masing, membawa ujian yang mungkin tak pernah kita ketahui.

Kalimat ini mengingatkan kita untuk lebih lembut dalam menilai, lebih sabar dalam memahami, dan lebih tulus dalam memberi. Karena setiap manusia adalah pejuang yang sedang bertahan, meski dengan cara yang berbeda.

Ujian bukanlah tanda kelemahan, melainkan kesempatan untuk tumbuh. Ia adalah jalan yang mendekatkan kita pada Tuhan, mengajarkan sabar, ikhlas, dan syukur. Dan ketika kita menyadari bahwa semua orang sedang berjuang, kita tidak lagi merasa sendirian. Ada solidaritas tak kasat mata yang membuat langkah terasa lebih ringan.

Semoga setiap perjuangan yang kita jalani menjadi jalan menuju kekuatan, dan semoga kita mampu melihat perjuangan orang lain dengan hati yang penuh kasih.


Di balik senyum ada luka, di balik diam ada doa. Tak ada yang benar-benar baik-baik saja, namun semua sedang berjuang dengan cara yang paling mereka bisa.

Sekuat Apa Diriku, Ya Allah

Sekuat apa diriku, ya Allah, sehingga Engkau sangat percaya bahwa aku bisa melewatinya?

Air mata malam ini bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kejujuran hati. Aku menangis bukan karena kalah, tapi karena percaya: Engkau selalu ada, bahkan saat aku merasa rapuh.

Tahajud ini menjadi ruang paling intim untukku berbicara dengan-Mu. Aku ingin menyerahkan seluruh letih, seluruh rasa takut, dan seluruh harapan. Karena aku tahu, Engkau lebih dulu percaya aku mampu, meski aku sering meragukan diriku sendiri.

"Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin."

Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat ini menjadi penguat: bahwa setiap langkah, setiap doa, bahkan setiap air mata, semuanya kembali kepada-Mu.



Sekuat apa diriku, ya Allah, hingga Engkau percaya aku mampu? Di balik rapuh ada cahaya, di balik letih ada doa. Aku berjalan, karena Engkau menuntunku



Sahur Terakhir Puasa Dawud

Sebuah puisi menjelang Ramadhan

Sahur ini terasa berbeda... Langit masih gelap, tapi hati mulai terang. Insyaa Allah, tinggal dua kali sahur lagi, Puasa Dawud pamit sejenak, Memberi ruang bagi Ramadhan yang agung.

Ada rindu yang pelan-pelan tumbuh, Pada lantunan doa yang lebih panjang, Pada malam-malam yang lebih sunyi, Pada tangis yang lebih jujur di sepertiga malam.

Aku bersiap, bukan hanya dengan makanan, Tapi dengan harapan dan taubat yang diam-diam. Semoga Allah terima lelah dan niatku, Semoga Ramadhan nanti jadi pelukan yang hangat, Bagi hati yang kadang dingin, kadang rapuh.

Sahur ini, aku belajar bersyukur. Karena diberi waktu untuk bersiap, Karena diberi kesempatan untuk kembali. Karena Ramadhan… Selalu datang sebagai cahaya.