Ziarah di akhir Sya'ban

Di antara nisan yang diam,

kutapaki langkah penuh takzim, rumput hijau menunduk lembut, seakan ikut menjaga tidur panjangmu.

Kupeluk sunyi dengan doa, kutabur rindu di atas tanah basah, setiap helai bunga yang kuserakkan adalah bisikan cinta yang tak pernah padam.

Ibuk, di balik keheningan ini, aku masih mendengar suaramu menuntun dengan sabar, menyemai kekuatan dalam rapuhku.

Ziarah ini bukan sekadar singgah, ia adalah perjalanan hati yang kembali pulang kepada sumber kasih tak bertepi.

Semoga damai selalu menyelimuti, dan doa anak dan cucu-cucumu menjadi cahaya yang tak pernah padam di alam keabadianmu.


Allahummaghfirlahā warhamhā wa ‘āfihā wa‘fu ‘anhā

Jeda yang Allah Ridhoi

Refleksi hati menjelang Ramadhan, tentang melambat, menerima diri, dan menemukan ketenangan yang selama ini hilang.

Bismillahirrahmanirrahim…

Tahun ini, langkahku terasa berbeda.
Tidak secepat dulu, tidak seramai dulu, tidak sesibuk tahun-tahun sebelumnya.
Jika dulu aku berlari mengejar jadwal dan program,
kini aku memilih berjalan perlahan, membiarkan hati memimpin arah.

Entah sejak kapan lelah itu terasa bukan hanya di badan,
tapi juga di hati.
Lelah menunggu orang lain ikut bergerak.
Lelah memikul semuanya sendirian.
Lelah mencari donasi sambil menahan malu.

Hingga akhirnya aku mengerti,
bahwa jeda bukan tanda menyerah,
melainkan tanda bahwa hati juga ingin pulang dan bernapas.

Aku teringat firman Allah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Dan sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan siapa yang memaksakan diri, ia akan dikalahkan olehnya.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hati,
menyadarkanku bahwa menjaga diri juga bagian dari ibadah.
Bahwa memperlambat langkah bukan berarti berhenti berbuat baik.

Tahun ini, aku memilih menjadi cermin.
Jika ada gerakan, aku ikut bergerak.
Jika keadaan hening, aku pun ikut diam.
Jika ada yang mengantar proposal, aku bantu cetakkan.
Jika tidak ada, aku tidak memaksa.

Semua mengalir apa adanya…
Tanpa beban, tanpa paksaan, tanpa harus menjadi yang paling kuat setiap waktu.

Program Jumat Berbagi tetap aku jaga,
sederhana, setulus biasa, satu anak pada satu waktu.
Kebaikan kecil yang tidak pernah terasa berat,
kebaikan yang berjalan seirama dengan kemampuan.

Tahun ini bukan tentang banyaknya program,
bukan tentang seberapa sibuk aku terlihat.
Tahun ini tentang kembali menemukan diriku sendiri,
tentang merawat hati sebelum ia retak,
tentang menghargai diri yang selama ini terlalu sering memaksa kuat.

Ramadhan yang datang ini…
aku sambut dengan tenang, dengan pelan, dengan ikhlas.
Karena keikhlasan kadang tumbuh justru dari langkah yang paling perlahan.

Semoga Allah meridhai jeda ini.
Semoga diamku adalah bentuk taat.
Semoga kelelahanku diganti dengan ketenangan.
Dan semoga Ramadhan ini menjadi ruang untuk pulih,
ruang untuk kembali,
ruang untuk merasa cukup.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin… 






📚 Mau baca puisi?

Aku punya e-book berisi 139 puisi (tahun 2022), 

Karyaku sendiri.

Siapa tahu ada yang cocok atau menyentuh hatimu.



Yang mau support atau beli, boleh chat aku ya 

Terimakasih banyak atas dukungannya.

Hati yang Tenang

Aku menunggu tanpa terburu-buru,
memberi ruang, memberi waktu, memberi kesempatan.
Mereka yang dzalim, urusannya bukan padaku, tapi pada Allah.
Hatiku tetap ringan, karena aku tahu:
jalan hidupku adalah tanggung jawabku sendiri.
Setiap langkahku penuh doa,
setiap napasku penuh tawakal,
setiap hatiku penuh ikhlas.
Aku percaya, kebahagiaanku akan datang,

tanpa dendam, tanpa takut, tanpa beban.




Semua Sedang Berjuang

Tidak ada manusia yang benar-benar baik-baik saja di dunia ini. Di balik senyum yang kita lihat, ada cerita panjang tentang perjuangan, luka, dan harapan. Setiap orang sedang menapaki jalannya masing-masing, membawa ujian yang mungkin tak pernah kita ketahui.

Kalimat ini mengingatkan kita untuk lebih lembut dalam menilai, lebih sabar dalam memahami, dan lebih tulus dalam memberi. Karena setiap manusia adalah pejuang yang sedang bertahan, meski dengan cara yang berbeda.

Ujian bukanlah tanda kelemahan, melainkan kesempatan untuk tumbuh. Ia adalah jalan yang mendekatkan kita pada Tuhan, mengajarkan sabar, ikhlas, dan syukur. Dan ketika kita menyadari bahwa semua orang sedang berjuang, kita tidak lagi merasa sendirian. Ada solidaritas tak kasat mata yang membuat langkah terasa lebih ringan.

Semoga setiap perjuangan yang kita jalani menjadi jalan menuju kekuatan, dan semoga kita mampu melihat perjuangan orang lain dengan hati yang penuh kasih.


Di balik senyum ada luka, di balik diam ada doa. Tak ada yang benar-benar baik-baik saja, namun semua sedang berjuang dengan cara yang paling mereka bisa.