"Seperti Pertama Kalinya"

Aku selalu mencintaimu

seperti pertama kalinya meski jarak menjelma dinding, meski waktu sering mencuri pertemuan.

Di setiap senja yang sunyi, aku mendengar namamu berbisik dari doa yang tak pernah letih, menyulam rindu jadi kekuatan.

Kau di sana, aku di sini, namun hati kita tak pernah berpisah. Setiap tatap yang tertunda, setiap pelukan yang menunggu, tetap hangat, tetap utuh, seperti pertama kalinya.

Dan bila esok kita kembali bertemu, biarlah dunia tahu cinta ini tak pernah menua, ia selalu lahir kembali, seperti pertama kalinya.



NEW E-BOOK RELEASE!

 “SUAMIKU LUKAKU”

Bukan sekadar kisah cinta

ini tentang luka yang disembuhkan,

tentang bertahan atau melepaskan.

“Kadang, mencintai diri sendiri adalah jalan pulang yang paling sunyi.”


💫 E-Book PDF | Completed

🖊 By: Langit Didada

👉 Minat? 

📩 Pesan di sini:

https://wa.me/62895429302105


Aku Pernah

Aku Pernah Melepaskan Seseorang

Bukan Karena Perasaanku Sudah Hilang, 

Tapi Karena Ada Orang Lain Yang Membutuhkannya, 

Dan Dia Juga Butuh orang Itu....


“Ketika Ramadhan Mulai Berkemas”

Ramadhan mulai merapikan cahanya.

Hari-harinya yang tenang terasa seperti daun yang gugur perlahan indah, tapi membuat hati ikut lirih.
Setiap malam semakin sunyi, namun justru di sanalah doa-doa menemukan bisikannya yang paling jujur.

Ada haru yang pelan-pelan tumbuh,
bukan karena Ramadhan pergi,
tapi karena kita takut tak diberi kesempatan untuk kembali memeluknya tahun depan.

Di sela keheningan itu, doa ini kembali terucap, lebih lembut dari sebelumnya:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah… Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau mencintai maaf.
Maka ampuni, lapangkan, dan kuatkan aku.

Semoga umur ini Allah jaga.
Semoga langkah ini Allah arahkan.
Semoga hati ini tetap dekat dengan-Nya,
hingga Ramadhan kembali datang mengetuk,
dan kita masih diberi ruang untuk menyambutnya lagi.




THR Terindah dari Langit: Menjemput Cinta di Malam 21 Ramadan

Memasuki gerbang sepuluh malam terakhir, suasana hati biasanya mulai bercampur aduk. Ada rindu yang semakin membuncah, namun ada pula tanya yang mengusik: “Sudahkah aku layak dicintai oleh-Nya?” Malam ke-21 bukan sekadar penanda hitung mundur menuju Idul Fitri, melainkan awal dari perburuan harta karun spiritual yang paling berharga. Di saat dunia sibuk menanti THR berupa materi, Allah SWT justru membentangkan "THR" yang jauh lebih mewah bagi hamba-Nya yang bersimpuh dalam sujud.

THR dari Allah itu hadir dalam bentuk ampunan yang menghapus noda hitam di hati, rahmat yang membasuh luka jiwa, serta keberkahan yang membuat setiap detik usia menjadi lebih bermakna. Tidak ada kebahagiaan yang lebih hakiki selain ketenangan hati saat kita merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta. Di malam-malam ganjil ini, setiap doa adalah anak panah yang meluncur tepat ke sasaran, setiap hidayah adalah cahaya yang menuntun kita pulang, dan setiap rintihan tobat adalah jalan menuju puncak kecintaan-Nya.

Mari kita manfaatkan sisa waktu yang singkat ini untuk mengetuk pintu Arasy dengan penuh harap. Di antara desis zikir dan heningnya malam, jangan lupakan doa yang diajarkan oleh Rasulullah ï·º kepada Sayyidah Aisyah RA, doa yang menjadi kunci utama bagi siapa saja yang mengharap kemuliaan Lailatul Qadar:

Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku."

Semoga di malam ke-21 ini, nama kita termasuk dalam daftar hamba yang dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan limpahan kasih sayang-Nya yang tak bertepi.

Ramadan Kareem | 21 Ramadan 1447 H