BANJIR MULAI MENYAPA KITA

Sudah memasuki musim penghujan

Air langit mengguyur setiap hari

Terkadang di sertai kilatan cahayaNya

Angin berhembus kencang, daun-daun berguguran

 

Di hutan banyak pohon-pohon di tebang liar

Sehingga tak ada resapan air hujan

Di sungai sampah-sampah menyumbat

Airpun meluap menuju pemukiman

 

Dahulu negeriku banyak penghijauan

Hutan-hutan rimbun, hewan leluasa bermukim di dalamnya

Namun kini, hutan menjadi gersang

Ulah manusia rakus tak punya pikiran

 

Alam semesta murka

Kenapa tak bisa menjaga titipanNya

Kalian masih sumpah serapah adanya bencana

Keserakahan manusia semakin nyata


Doa ketika terjadi bencana banjir :

Bismillah..

Wa qila ya arubla’i ma’aki wa ya sama`u aqli’i wa gidal-ma`u wa quiyal-amru wastawat ‘alal-jdiyyi wa qila bu’dal lil-qaumi-zalimin

“Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” 



SENTUHAN SENJA

Berdiri membisu di tepi jendela

Diam tanpa suara

Melukis bayangmu di cakrawala senja

Ada inspirasi di setiap sentuhannya

Kupahat dalam pagar atma

Bias elok wajah semesta

Rinai hujan tak membasuh lara

Tetesnya menimpa rapuh hati

Jiwaku merintih pada sang pencipta

Merangkai asa dalam doa



ASA PEMULUNG KECIL

Tubuh kecil berjalan tanpa alas kaki

Di atas trotoar dari pagi hingga malam

Mengais sisa-sisa barang, botol minuman dan mainan

Yang sudah di buang di tempat sampah

 

Sebuah karung di pundaknya yang mungil

Sudah semakin terisi, semakin terasa berat

Namun kaki kecil itu terus melangkah

Tak peduli dengan teriknya mentari yang menyengat

 

Pemulung kecil

Di saat teman-teman sebayanya bermain gembira

Dia sudah bekerja untuk kelangsungan hidupnya

Bercita-cita ingin membahagiakan orang tua

 

Terlahir dari keluarga miskin papa

Dia selalu ingat pesan orang tuanya

Nak.. carilah uang dengan cara yang halal

Jangan mencuri apalagi korupsi




SAMPAI LUPA AKU CARANYA BAHAGIA

Untuk saat ini, aku hanya punya puisi

Apakah aku masih bisa punya rasa bahagia?

Sedangkan kesedihan sudah menjadi makanan sehari-hari

Ataukah.. hatiku sudah mati

 

Dalam fase hidup yang datar

Lebih baik menghindar dari hingar bingar

Semua sangat melelahkan

Pundak ini seakan tak sanggup menahan beban

 

Kesakitan, kegagalan, keterpurukan

Aku hanya pura-pura tegar, pura-pura kuat

Agar terlihat bahwa aku baik-baik saja

Padahal sedang menahan air mata



PADAMU


Padamu cinta

Sapaku setiap hari tanpa kau pinta

Masih disini memeluk sepi

Berkawan kata yang ku rangkai menjadi puisi

Harapku, suatu waktu kamu membacanya

 

Padamu rindu

Mengingatmu masih menggetarkan qalbu

Kamu yang membuatku banyak belajar

Belajar menjadi diri sendiri

Belajar tentang pahitnya kehidupan

Belajar untuk selalu bergantung hanya kepada Tuhan