Mari Menjadi Bagian dari Perubahan Hidup Seorang Anak yatim piatu

Dik Ririn, anak yatim piatu yang tinggal di rumah tak layak huni,

akan segera memiliki tempat tinggal yang lebih layak melalui misi sosial Tim CAA.

Kami mengetuk hati sahabat semua,

untuk ikut bergandengan tangan,

membangun harapan,

menghadirkan kenyamanan.


Satu keping donasi darimu,

adalah batu bata bagi rumah masa depannya.

Setiap rupiah yang kau beri,

bisa jadi saksi kebaikan yang tak pernah mati.


Bersama Tim CAA,

kita wujudkan rumah penuh cinta untuk Dik Ririn.

Bismillah, semoga menjadi amal jariyah tak terputus


CERMIN HATI

Orang yang hatinya jernih,

melihat sesama seperti taman yang bersih.

Ia temukan bunga di tiap pandang,

melihat kebaikan, walau kecil dan jarang.


Ia tak sibuk mencari cela,

karena hatinya penuh cahaya.

Yang dilihatnya adalah niat dan usaha,

bukan luka atau noda lama.


Tapi hati yang keruh dan gelisah,

selalu mencari celah di wajah-wajah lelah.

Ia lupa bahwa tiap jiwa pun sedang berjuang,

dan setiap manusia sedang belajar menenang.


Maka bila kau menatap dunia,

dan yang terlihat adalah cinta...

Bersyukurlah—itu pertanda

hatimu masih punya cahaya.



JEJAK MENUJU REDHO-NYA

Mereka berjalan tanpa pamrih,  

Menata rumah bagi jiwa yang sunyi,  

Di tangan mereka, harapan terlahir,  

Di langkah mereka, kasih bersemi.  


Bukan harta yang mereka kejar,  

Bukan sanjungan yang mereka harapkan,  

Hanya ridha Allah yang mereka cari,  

Hanya keberkahan yang mereka nanti.  


Di mata anak-anak yatim yang bersinar,  

Ada rahmat yang turun dari langit,  

Bukan sekadar bangunan yang mereka dirikan,  

Tapi perlindungan yang dititipkan.  


Tak ada upah tertulis di dunia,  

Namun ada pahala yang tak terhitung,  

Setiap bata yang mereka letakkan,  

Mengukir pahala yang tak terhitung


Teruslah berjuang, wahai para pembawa cahaya,  

Jangan lelah dalam memberi,  

Karena yang kau bangun bukan hanya rumah,  

Tapi doa yang mengalir hingga akhir nanti.  


Ana

CAALovers


JANGAN JADI ILALANG

Jika tak mampu menjadi padi,

yang merunduk dalam rendah hati,

janganlah jadi ilalang tinggi,

yang sombong namun tak berarti.


Bila tak sanggup memberi terang,

seperti mentari yang cemerlang,

cukup jangan menebar bayang,

yang mengaburkan arah dan pandang.


Jika belum mampu jadi manfaat,

setulus embun yang turun hangat,

cukup berusahalah, sepenuh niat,

untuk tak jadi beban atau mudarat.


Karena hidup bukan soal jadi besar,

tapi bagaimana kita tak menyebar gusar.

Tak perlu jadi cahaya terang,

asal tak menambah gelap yang datang




MENULIS DI TEPI SENJA

Kubuka buku catatan,

Halaman kosong menanti cerita,

Tinta pena menari pelan,

Sambil angin pantai menyisir jiwa.


Ombak tak pernah lelah bercerita,

Aku dengarkan, kuresapi maknanya,

Kadang aku tulis, kadang hanya kurasa,

Seperti rahasia yang hanya aku dan laut tahu isinya.


Dia duduk tak jauh dariku,

Membiarkanku larut dalam imajinasi,

Tak mengganggu, tak bertanya,

Cukup hadir, dan itu puisi paling abadi.


Pantai jadi tempatku bercerita tanpa suara

Saat dunia terlalu ramai, dan kepala penuh kata.

Kupilih duduk lama biar pikiran reda

Biar aku dan dia menyatu dalam senja


Senja memudar di ujung cakrawala,

Aku masih menulis,

Tentang hari ini, tentang dia, tentang segala,

Yang tak sempat kukatakan, tapi abadi di kertas tipis