SELAMAT PAGI SEMESTAKU

Selamat pagi, semestaku tersayang,

Yang kutitipkan rindu pada desir embun tenang.

Langitmu masih biru, walau hatiku kelabu,

Namun di sinimu, selalu ada ruang rindu yang syahdu.


Kupeluk pagi dengan mata setengah terbuka,

Menyusuri napasmu lewat sinar mentari yang pertama.

Kau ajari aku arti sabar dalam hembusan angin,

Dan tentang cinta yang tak pernah memilih untuk pergi.


Semestaku,

Kau bukan sekadar ruang tanpa suara,

Kau adalah tempat doaku berlabuh,

Saat kata tak cukup, dan dunia terasa lusuh.


Selamat pagi,

Untuk segala harap yang berani tumbuh lagi.

Untuk cinta yang diam-diam memeluk hati,

Dan semesta… yang tak lelah menuntunku kembali


LANGKAH YANG TERTUNDA

Di ujung senja ia berdiri,  

perempuan berhijab, menggenggam sunyi.  

Jalan di hadapannya berhiaskan cahaya lembut,  

tapi hatinya masih menimbang: siapa yang akan tinggal, siapa yang akan ikut.


Ia tahu arah

arah ke cahaya, ke cita-cita, ke ikhlas yang belum sepenuhnya tuntas.  

Tapi keberanian bukan hanya tahu,  

ia adalah doa yang digenggam erat dalam dada yang ragu.


Angin membelai jilbabnya pelan,  

seakan berkata: “tak apa jika belum sekarang.”  

Dan di langit senja yang mulai ungu,  

seekor burung melintas pelan, menjadi tanda…  

bahwa langkah itu akan datang, dengan izin-Nya.


YANG TAHU ARAH, BELUM TENTU BERANI MELANGKAH

Tak semua yang tahu arah

siap menantang gelapnya langkah.

Ada yang menyimpan peta dalam dada,

Namun tak pernah berani membuka gerbang pertama.


Karena tahu bukan berarti siap,

Dan sadar bukan berarti sanggup.

Kadang ada keraguan yang tertanam dalam,

Pengalaman hidup yang membuat hati jadi diam.


Berapa banyak jiwa yang menunggu,

Bukan karena tak tahu ke mana melaju,

Tapi karena takut meninggalkan zona semu

yang lama-lama mengurung jiwa dan waktu.


Padahal…

Arah hanyalah janji,

 Langkahlah bukti sejati.

Tanpa keberanian untuk mulai,

Takkan pernah sampai ke cahaya yang dituju.


Beranilah…

Meski gemetar,

Meski sendiri.

Karena yang benar-benar hidup

Adalah mereka yang memilih melangkah,

Bukan hanya mereka yang tahu arah.


24 JAM SERASA TAK CUKUP

Di balik senyum yang tetap terukir,  

ada tumpukan tugas yang tak kunjung berakhir.  

Laptop menyala, printer berdetak,  

telepon berdering, semua serba mendesak.  


Jam digital terus berlari,  

mengejar mimpi yang belum sempat ditulis lagi.  

Di kepala, suara-suara ingin berhenti,  

tapi hati tetap berbisik: "Bismillah, aku bisa hari ini."  


Meski waktu serasa tak cukup,  

aku tetap hadir, meski rapuh.  

Karena aku bukan sekadar sibuk,  

aku sedang bertumbuh


TOPENG TAWA

 Kamu tahu nggak…

Orang yang paling cerewet,

paling ramai dengan canda,

yang tampak paling kuat di mata dunia—

bisa jadi menyimpan luka

yang tak pernah sempat dicerita.


Depresi tak selalu berwajah murung,

kadang ia datang dengan senyum paling terang,

dengan tawa yang menggema,

yang ternyata hanya topeng semata.


Di balik candanya,

ada sunyi yang menggigit.

Di balik tawanya,

ada air mata yang sengit.


Jangan remehkan senyum orang lain,

karena bisa jadi,

itulah cara mereka bertahan hari demi hari