SEPERTI SENYUM YANG MENULAR

Seperti senyum, yang menular,  

ia berjalan dari wajah ke wajah,  

dengan langkah pelan tapi pasti,  

membawa terang pada hari yang biasa.


Kalau kau tersenyum hari ini,  

maka hatiku pun ikut bernyanyi,  

karena dalam senyummu ada aku,  

yang menemukan makna sederhana dari bahagia itu.


Tak perlu kata, tak perlu sapa,  

cukup lengkung kecil di bibirmu saja

maka dunia terasa lebih ramah,  

dan aku, tak lagi sendiri di dalamnya.


Rindu yang Turun Bersama Matahari

Pagi belum sepenuhnya bangun,

Tapi rinduku sudah duduk di sisi jendela.

Menyeruput hangat matahari,

Sambil membayangkan senyummu yang jauh di sana.


Angin pelan menyapu tirai,

seolah menyampaikan bisik:

“Dia juga merindukanmu, tenanglah.”


Tak ada yang lebih romantis

Dari pagi yang dibuka dengan doa untukmu.

Walau tak bersua,

Kita tetap satu arah:

Menuju hari yang penuh cinta, meski dari jarak


Kita Memandang Langit yang Sama

 Di malam yang diam,

Aku mencari wajahmu dalam cahaya bulan

Dan kusampaikan salam lewat bintang-bintang

Yang berpendar, menjadi saksi betapa rindu ini tak pernah redup.


Jarak memang membuat langkahmu tak terlihat,

Tapi doaku sudah lama lebih dulu sampai.

Sujud demi sujud, kusebut namamu

Dalam diam yang hanya Allah dengar.


Sebab cinta yang benar tak selalu bicara,

Tapi ia mendoakan.

Dan rindu yang suci

adalah yang tak memaksa, Hanya menunggu dalam sabar

Dan menyandarkan hatinya kepada Rabb yang Maha Membolak-balikkan rasa.


Jika kau tahu betapa sunyinya malam tanpa kabar,

Ketahuilah, ada zikir yang menyelipkan namamu,

Ada air mata yang jatuh,

bukan karena lemah,

Tapi karena berharap Allah menyatukan

Dua jiwa yang sama-sama memilih-Nya.


Malam ini aku menatap langit yang sama,

Seperti yang kau pandangi di tempatmu.

Di sanalah kita bertemu,

Dalam harap, dalam iman,

Dalam cinta yang tak pernah sendirian

Karena Allah selalu jadi perantara rindu 


BUKAN SEKEDAR USIA

 Dewasa bukan soal angka,

Bukan soal lilin yang makin Banyak di kue ulang tahun.

Ia tumbuh dari luka yang tak diumbar,

Dan pelajaran hidup yang tak selalu manis.


Ilmu bukan sekadar bacaan,

Tapi bagaimana ia meresap dalam sikap.

Pemahaman hadir bukan dalam teriak,

Tapi dalam diam yang memilih bijak.


Ada yang muda tapi sudah matang,

Ada yang tua namun masih belajar menimbang.

Karena hidup tak menunggu umur,

Tapi mengajarkan lewat setiap tikungan.


Dan mereka yang tahu kapan bicara,

Kapan diam,

itulah yang dewasa—sebenar-benarnya.


SELAMAT PAGI, LDR-KU

Selamat pagi, kamu yang Allah titipkan di kejauhan,

yang tak bisa kupeluk dengan tangan,

karena meski tak bisa saling genggam,

tapi selalu kutitipkan dalam setiap sujudku yang diam-diam.


Selamat pagi, kamu yang jauh tapi terasa dekat,

yang namanya kusebut, bahkan sebelum teh pertama tuntas kuteguk.

Jarak boleh sejauh awan dan laut,

tapi rinduku selalu tahu jalan pulang ke hatimu.


Jaga kesehatanmu.. itu juga bagian dari syukurku

Jaga dirimu, karena kamu berharga bukan hanya untukku,

tapi juga untuk tujuan besar yang Allah siapkan.

untuk keluarga dan masa depan

.

Dan jaga hatimu…

agar ia tetap suci,

agar cinta ini tetap berada di jalan yang Allah ridai,

karena aku tak hanya ingin bersamamu di dunia,

tapi juga di akhirat nanti.