DIBAWAH TANAH YANG SUNYI

Hari ini aku pulang, Bu...

bukan ke rumah yang biasa,

tapi ke rumah Ibu yang paling sepi 

di mana tak ada atap, hanya langit,

dan tak ada pintu, hanya doa.


Aku datang, Bu...

bawa semua rindu yang tak pernah selesai,

bawa semua cerita yang dulu

selalu Ibu dengar meski aku belum selesai bicara.


Aku sudah berusaha jadi kuat, Bu,

aku datang sendiri ke tempat yang jauh,

berjuang membawa amanah,

sambil diam-diam berharap...

andai Ibu masih ada,

pasti Ibu peluk aku tanpa bertanya banyak.


Di sini aku duduk,

di dekat namamu yang tertulis di batu,

menatap tanah basah,

dan menunduk — karena hanya itu yang bisa kulakukan

ketika rindu tak punya lengan

untuk memeluk kembali.


Ibu...

kalau malam Ibu datang dalam mimpiku,

jangan cepat-cepat pergi ya...

biar aku bisa pulang sebentar

ke dalam pelukan yang tak pernah terganti.


SELAMAT SIANG LDR-KU

Di antara jeda siang yang panas,

aku kirim napas rindu lewat angin pelan.

Jangan lupa makan, ya,

dan jangan lupa bahagia juga, meski aku tak di sana.


Hari ini panjang,

dan mungkin melelahkan,

tapi tolong…

jaga kesehatanmu dengan lembut,

jaga dirimu dengan sabar,

jaga hatimu—jangan biarkan lelah membuatnya goyah.


Ada jarak yang tak bisa kupeluk,

tapi ada doa yang selalu menjemputmu.

Kita belum bisa duduk di bangku yang sama,

tapi percayalah,

rindu ini tidak pernah istirahat.


SYUKURKU MENGALIR

Aku tidak punya dunia,

tapi pagi masih membuka tirainya.

Aku tak punya semua jawaban,

tapi setiap hari adalah halaman baru yang boleh kutulisi harapan.


Syukurku bukan tentang banyaknya,

tapi tentang cukupnya

tentang tangan yang masih bisa merangkul,

dan hati yang masih tahu cara bersyukur.


Pada langit yang tak pernah lelah menaungi,

pada doa ibu yang tak henti mengiringi,

pada doa orang-orang yang tak kuketahui

Aku dicintai, dan itu sudah lebih dari cukup.








Selamat malam, LDR-ku.

Selamat malam, LDR-ku.

Tidurlah, dan biarkan rindu pelan-pelan berkemas.

Biar hatimu tenang,

dan semesta tahu:

ada seseorang yang menjagamu, meski dari jauh.


Kertas-kertas pun tahu rasanya rindu

Di ujung meja, kertas-kertas meliuk pelan,

tertiup angin dari jendela yang tak pernah tertutup harapan.

Laptop menyala dalam sunyi,

mencatat rindu yang tak selesai-selesai.


Ada piagam, ada piala,

Kacamata tergeletak, diam saja,

tapi pernah melihat segalanya:

dari tawa yang hangat,

hingga tangis yang dipeluk malam.


Kertas-kertas itu,

seolah mengerti isi hati

mereka terbang ringan,

menuju namamu yang kusimpan rapi

di antara lembar buku dan doa-doa panjangku.


Dan saat angin menyapa,

ia tak hanya membawa udara,

tapi juga pesan rindu…

yang perlahan terbang ke arahmu.