Loving a Writer Through Harsh Criticism

Menjadi pasangan seorang penulis…

means standing beside someone

whose words are constantly judged.


Kadang dia terlihat kuat,

padahal hatinya baru saja runtuh

karena satu komentar:

“Cerita kamu nggak masuk akal.”


She smiles,

but you know that smile is stitched with self-doubt.


“Am I too much?”

“Is my writing too emotional?”

“Should I stop?”


And you remind her:

Her words have healed strangers.

Her stories have made people feel seen.


Kamu peluk dia,

bukan untuk membungkam rasa sakit…

tapi untuk menguatkan suara yang sempat gemetar.


Because loving a writer

means loving someone

who bleeds silently through every sentence.


Dan kamu adalah satu-satunya pembaca

yang tak pernah menuntut ending bahagia…

cukup dia tetap menulis,

dan tetap menjadi dirinya sendiri.


Terima kasih…

karena kamu nggak pernah minta aku jadi sempurna.

You just asked me to be real.

And for that…

I’ll keep writing,

with you in every page.


RAKOR LKKS

Di antara dinding hitam dan meja kayu,  

Kita duduk dalam lingkaran niat baik.  

Bukan sekadar menghadiri undangan,  

Tapi menyambung silaturahmi,  

Menguatkan ikatan, dan merajut rencana untuk kesejahteraan.  


Setiap senyum adalah semangat baru,  

Setiap bincang adalah langkah maju,  

Karena kita percaya,  

Kebaikan akan sampai lebih jauh, jika dijalankan bersama.  


Kamis itu menjadi saksi,  

LKKS tak hanya nama,  

Tapi rumah bagi hati

Yang ingin melayani.


ES TEH JUMBO

Di tengah terik yang membakar,

aspal mengepul, motor pun sabar,

keringat nempel, baju pun lepek,

haus datang, tenggorokan nyedek.


Melipir sejenak di pinggir jalan,

kulirik warung, hatiku tertawan.

"Teh manis jumbo, ya, esnya banyak!"

Sekejap, dunia terasa cerah nan lapang.


Seteguk dua teguk,

ademnya menusuk,

tenggorokan girang...

eh tapi, batuk!


Ternyata nikmat ada risikonya,

tapi tak apa, jiwaku bahagia.

Es teh jumbo, kamu tak bersalah,

yang salah akunya,


gak tahan godaan, padahal belum pulih total 😅

PASANGAN SIBUK

Mereka sibuk di dunia masing-masing,

Tapi tak satu pun merasa ditinggal.

Tak ada tanya, tak ada interupsi,

Hanya keyakinan bahwa cinta tak perlu pengawasan.


Mereka sepakat:

Bahagia itu bukan banyak bicara,

Tapi hadir saat waktu sedang sepi.

Dan ketika mereka bertemu,

Segalanya menjadi sakral…

Bukan untuk dilihat dunia,

Tapi untuk dirasakan berdua.


Pasangan yang aneh, katanya.

Padahal mereka hanya tahu,

Bahwa cinta itu bukan soal ribut,

Tapi soal saling mengerti tanpa harus menjelaskan




Langkah Kecil di Jalan Sunyi

Tak banyak yang tahu,

Tentang langkah-langkahku yang pelan,

Melewati lorong waktu dengan dada penuh harap,

Bukan untuk dilihat,

Tapi agar tak ada yang tertinggal di belakang.


Tak selalu kuat,

Namun tak pernah ingin menyerah.

Bukan karena aku hebat,

Tapi karena ada yang lebih lemah yang harus tetap kuat.


Bukan tentang siapa aku,

Tapi tentang siapa yang bisa terbantu lewat aku.

Bukan tentang apa yang aku punya,

Tapi apa yang bisa aku bagi, meski hanya setitik cahaya.


Aku tak butuh sorot lampu,

Biarlah Allah yang tahu.

Jika langkahku kecil,

Semoga tetap berarti di hadapan-Nya yang Maha Tahu.