Hujan Sore dan Perpisahan

Di bawah langit yang menangis pelan, 

Hujan sore turun seperti doa yang diam. 

Ada jejak langkah yang tak lagi kembali, 

Ada pelukan yang tertinggal di hati.


Enam tahun bukan sekadar waktu, 

ia menjahit kenangan, tawa, dan rindu. 

Mbak, engkau bukan hanya penolong, 

engkau saudara dalam diam yang tulus dan panjang.


Hari ini, engkau pamit dengan alasan mulia, 

menyambut cucu yang akan lahir ke dunia. 

Dan aku, yang terbiasa melihatmu di pagi hingga sore hari, 

menangis dalam syukur dan haru yang tak henti.


Maaf atas khilaf yang pernah singgah, 

terima kasih atas sabar yang tak pernah lelah. 

Kita saling memaafkan, saling mendoakan, 

di bawah hujan yang menjadi saksi perpisahan.


Semoga langkahmu diberkahi cahaya, 

semoga cucumu lahir dalam pelukan bahagia. 

Dan semoga perpisahan ini bukan akhir, 

melainkan awal dari doa yang terus mengalir.


Rahmat yang Digiring oleh-Nya

Refleksi dari Ali Imran ayat 74

Yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā’, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

“Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Ali Imran: 74)


Di antara banyaknya harapan yang kita panjatkan, ada satu yang paling lembut: 

agar Allah menggiring rahmat-Nya kepada kita. 

Bukan karena kita layak, tapi karena Dia Maha Pemurah.


Setiap pagi, setelah Subuh, aku ulangi ayat ini enam kali. 

Bukan sekadar dzikir, tapi doa yang tersembunyi di dalamnya:

Agar rahmat-Nya datang, 

Meski aku belum sempat memintanya dengan kata-kata.


Aku percaya, 

Rahmat Allah tidak selalu berupa hal besar. 

Kadang ia datang dalam bentuk ketenangan, 

Dalam cinta yang menumbuhkan, 

Dalam arah yang tak membuatku tersesat.


Dan aku tahu, 

Jika ada yang membaca ini lalu ikut mengamalkan, 

Maka pahala akan mengalir seperti cahaya yang tak padam. 

Karena kebaikan, 

Selalu punya cara untuk kembali kepada yang menanamnya.




Allahumma suq ilayya

Bawalah kepadaku, ya Rabb, 

Segala yang Engkau tahu aku butuhkan, 

Meski belum sempat aku pinta.


Bukan sekadar rezeki yang mengalir, 

Tapi ketenangan yang menetap, 

Cinta yang menumbuhkan, 

Dan arah yang Engkau berkahi.


Bawalah aku pada pertemuan yang Engkau ridhai, 

Pada langkah yang tak tersesat, 

Pada cahaya yang tak padam, 

Meski malam panjang dan hati lelah.


Aku menungguMu, 

Dengan hati yang lapang, 

Dengan jiwa yang percaya, 

Bahwa tak ada yang datang 

Tanpa Engkau yang menggiringnya.


Kata-kata hari ini

 Aku tau, Allah pasti nolong aku


Hujan Di Awal Pekan

Senin pagi, langit menunduk pelan,

Menumpahkan rindu lewat gerimis yang sopan.

Bumi beraroma doa dan harapan,

Seolah berkata, *“Tenanglah, semua akan berjalan.”*


Tetes-tetesnya jatuh seperti nasehat,

Bahwa tak semua langkah harus cepat.

Kadang jeda adalah bagian dari kuat,

Dan diam justru tempat doa paling hangat.


Hujan turun, tapi hati tak redup,

Justru makin jernih seperti air yang mengalir lembut.

Hari baru dimulai, meski langit tak biru,

Ada rahmat Allah di setiap sendu.