Yang Tahu Segala Bisikan

(Refleksi dari Surah Al-Mulk ayat 13)

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)




Di sepertiga malam, 

saat dunia tertidur dalam pelukan sunyi, 

ia duduk bersimpuh di atas sajadah, 

dengan tasbih sederhana 

di jemari yang gemetar lembut. 

Tak ada suara, hanya detak hati yang berdzikir, 

dan air mata yang menetes pelan, seperti hujan kecil yang malu-malu mengetuk jendela langit.


Ia tak berkata-kata, karena ia tahu, 

Bahwa Tuhan-nya mendengar bahkan yang tak terucap. 

Bahwa bisikan yang ia sembunyikan dari dunia, telah lama sampai ke Arasy, 

Sebelum ia sempat merangkai kata.


"Wa asirru qoulakum awijharuu bih..." 

 Rahasiakanlah, atau nyatakanlah, 

Sungguh Dia Maha Mengetahui segala isi hati. 

Dan ia pun menangis, bukan karena lemah, 

Tapi karena akhirnya merasa dilihat, 

Oleh Yang Maha Melihat, meski dunia tak pernah benar-benar tahu.


Tasbih itu terus berpindah dari satu butir ke butir lain, 

Seperti langkah-langkah kecil menuju ampunan, 

Seperti harapan yang tak putus meski gelap masih menyelimuti. 

Ia tak meminta dunia, ia hanya meminta 

Agar hatinya tetap hidup, 

Agar niatnya tetap bersih, 

Agar amalnya, meski kecil, 

Menjadi cahaya yang tak padam di akhirat kelak


Dan malam itu, 

Di antara remang dan rindu, ia merasa cukup. 

Karena ia tahu, bahwa Tuhan-nya tahu. 

Segala isi hati. 

Segala luka. 

Segala cinta. 

Segala doa yang tak pernah sempat ia ucapkan.

Hujan Sore dan Perpisahan

Di bawah langit yang menangis pelan, 

Hujan sore turun seperti doa yang diam. 

Ada jejak langkah yang tak lagi kembali, 

Ada pelukan yang tertinggal di hati.


Enam tahun bukan sekadar waktu, 

ia menjahit kenangan, tawa, dan rindu. 

Mbak, engkau bukan hanya penolong, 

engkau saudara dalam diam yang tulus dan panjang.


Hari ini, engkau pamit dengan alasan mulia, 

menyambut cucu yang akan lahir ke dunia. 

Dan aku, yang terbiasa melihatmu di pagi hingga sore hari, 

menangis dalam syukur dan haru yang tak henti.


Maaf atas khilaf yang pernah singgah, 

terima kasih atas sabar yang tak pernah lelah. 

Kita saling memaafkan, saling mendoakan, 

di bawah hujan yang menjadi saksi perpisahan.


Semoga langkahmu diberkahi cahaya, 

semoga cucumu lahir dalam pelukan bahagia. 

Dan semoga perpisahan ini bukan akhir, 

melainkan awal dari doa yang terus mengalir.


Rahmat yang Digiring oleh-Nya

Refleksi dari Ali Imran ayat 74

Yakhtaṣṣu biraḥmatihī may yasyā’, wallāhu żul-faḍlil-‘aẓīm

“Allah menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang agung.” (Ali Imran: 74)


Di antara banyaknya harapan yang kita panjatkan, ada satu yang paling lembut: 

agar Allah menggiring rahmat-Nya kepada kita. 

Bukan karena kita layak, tapi karena Dia Maha Pemurah.


Setiap pagi, setelah Subuh, aku ulangi ayat ini enam kali. 

Bukan sekadar dzikir, tapi doa yang tersembunyi di dalamnya:

Agar rahmat-Nya datang, 

Meski aku belum sempat memintanya dengan kata-kata.


Aku percaya, 

Rahmat Allah tidak selalu berupa hal besar. 

Kadang ia datang dalam bentuk ketenangan, 

Dalam cinta yang menumbuhkan, 

Dalam arah yang tak membuatku tersesat.


Dan aku tahu, 

Jika ada yang membaca ini lalu ikut mengamalkan, 

Maka pahala akan mengalir seperti cahaya yang tak padam. 

Karena kebaikan, 

Selalu punya cara untuk kembali kepada yang menanamnya.




Allahumma suq ilayya

Bawalah kepadaku, ya Rabb, 

Segala yang Engkau tahu aku butuhkan, 

Meski belum sempat aku pinta.


Bukan sekadar rezeki yang mengalir, 

Tapi ketenangan yang menetap, 

Cinta yang menumbuhkan, 

Dan arah yang Engkau berkahi.


Bawalah aku pada pertemuan yang Engkau ridhai, 

Pada langkah yang tak tersesat, 

Pada cahaya yang tak padam, 

Meski malam panjang dan hati lelah.


Aku menungguMu, 

Dengan hati yang lapang, 

Dengan jiwa yang percaya, 

Bahwa tak ada yang datang 

Tanpa Engkau yang menggiringnya.