Rindu yang Terjawab

Setahun sudah rindu kami pendam, 

Kini hilal muncul di langit malam. 

Selamat datang bulan mulia, 

Tempat kami bersimpuh dan bertaubat pada-Mu, Ya Allah



Di Bawah Sabit Ramadhan: Menjemput Tenang di Hari Pertama

Hari pertama Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Ada yang sudah berpuasa sejak tanggal 18, ada yang baru memulainya tanggal 19 sesuai keputusan pemerintah. Meski berbeda awal, aku melihat wajah-wajah penuh semangat: ada yang menyiapkan sahur dengan riang, ada yang bergegas ke masjid untuk tarawih, ada yang berbagi cerita tentang persiapan Ramadhan.

Perbedaan itu ternyata tidak mengurangi rasa kebersamaan. Justru aku belajar bahwa Ramadhan adalah ruang luas untuk semua orang mendekatkan diri pada Allah dengan cara masing-masing. Yang penting bukan kapan mulai, tapi bagaimana hati kita menjalani.

Hari pertama ini mengajarkanku: Ramadhan adalah tentang antusiasme, tentang niat yang tulus, dan tentang menghargai pilihan orang lain. Karena pada akhirnya, semua akan bertemu di satu tujuan: keberkahan dan keikhlasan.


Ya Allah, jadikan langkah pertama di bulan ini penuh dengan niat yang tulus dan hati yang lapang.

Ziarah di akhir Sya'ban

Di antara nisan yang diam,

kutapaki langkah penuh takzim, rumput hijau menunduk lembut, seakan ikut menjaga tidur panjangmu.

Kupeluk sunyi dengan doa, kutabur rindu di atas tanah basah, setiap helai bunga yang kuserakkan adalah bisikan cinta yang tak pernah padam.

Ibuk, di balik keheningan ini, aku masih mendengar suaramu menuntun dengan sabar, menyemai kekuatan dalam rapuhku.

Ziarah ini bukan sekadar singgah, ia adalah perjalanan hati yang kembali pulang kepada sumber kasih tak bertepi.

Semoga damai selalu menyelimuti, dan doa anak dan cucu-cucumu menjadi cahaya yang tak pernah padam di alam keabadianmu.


Allahummaghfirlahā warhamhā wa ‘āfihā wa‘fu ‘anhā

Jeda yang Allah Ridhoi

Refleksi hati menjelang Ramadhan, tentang melambat, menerima diri, dan menemukan ketenangan yang selama ini hilang.

Bismillahirrahmanirrahim…

Tahun ini, langkahku terasa berbeda.
Tidak secepat dulu, tidak seramai dulu, tidak sesibuk tahun-tahun sebelumnya.
Jika dulu aku berlari mengejar jadwal dan program,
kini aku memilih berjalan perlahan, membiarkan hati memimpin arah.

Entah sejak kapan lelah itu terasa bukan hanya di badan,
tapi juga di hati.
Lelah menunggu orang lain ikut bergerak.
Lelah memikul semuanya sendirian.
Lelah mencari donasi sambil menahan malu.

Hingga akhirnya aku mengerti,
bahwa jeda bukan tanda menyerah,
melainkan tanda bahwa hati juga ingin pulang dan bernapas.

Aku teringat firman Allah:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Dan sabda Rasulullah :

“Sesungguhnya agama ini mudah, dan siapa yang memaksakan diri, ia akan dikalahkan olehnya.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hati,
menyadarkanku bahwa menjaga diri juga bagian dari ibadah.
Bahwa memperlambat langkah bukan berarti berhenti berbuat baik.

Tahun ini, aku memilih menjadi cermin.
Jika ada gerakan, aku ikut bergerak.
Jika keadaan hening, aku pun ikut diam.
Jika ada yang mengantar proposal, aku bantu cetakkan.
Jika tidak ada, aku tidak memaksa.

Semua mengalir apa adanya…
Tanpa beban, tanpa paksaan, tanpa harus menjadi yang paling kuat setiap waktu.

Program Jumat Berbagi tetap aku jaga,
sederhana, setulus biasa, satu anak pada satu waktu.
Kebaikan kecil yang tidak pernah terasa berat,
kebaikan yang berjalan seirama dengan kemampuan.

Tahun ini bukan tentang banyaknya program,
bukan tentang seberapa sibuk aku terlihat.
Tahun ini tentang kembali menemukan diriku sendiri,
tentang merawat hati sebelum ia retak,
tentang menghargai diri yang selama ini terlalu sering memaksa kuat.

Ramadhan yang datang ini…
aku sambut dengan tenang, dengan pelan, dengan ikhlas.
Karena keikhlasan kadang tumbuh justru dari langkah yang paling perlahan.

Semoga Allah meridhai jeda ini.
Semoga diamku adalah bentuk taat.
Semoga kelelahanku diganti dengan ketenangan.
Dan semoga Ramadhan ini menjadi ruang untuk pulih,
ruang untuk kembali,
ruang untuk merasa cukup.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin… 






📚 Mau baca puisi?

Aku punya e-book berisi 139 puisi (tahun 2022), 

Karyaku sendiri.

Siapa tahu ada yang cocok atau menyentuh hatimu.



Yang mau support atau beli, boleh chat aku ya 

Terimakasih banyak atas dukungannya.