MENANG

Aku tidak tertarik menang di mata orang.

Karena kemenangan yang sejati bukanlah tepuk tangan, bukan pula sorak sorai.

Aku lebih tertarik membangun hidup yang kokoh,

hidup yang tidak runtuh saat tidak dipilih,

tidak goyah saat dibandingkan,

dan tidak hancur meski ditinggalkan.

 

Menjadi kuat bukan berarti tak pernah jatuh,

tetapi mampu berdiri lagi dengan hati yang utuh.

Menjadi teguh bukan berarti tak pernah rapuh,

tetapi tetap melangkah meski luka masih terasa.

 

Aku ingin hidup yang berdiri di atas fondasi cinta

cinta pada diri sendiri, cinta pada perjalanan,

cinta pada Tuhan yang selalu menuntun.

Karena ketika cinta itu kokoh,

tak ada penolakan yang bisa meruntuhkan,

tak ada perbandingan yang bisa menggoyahkan,

tak ada kepergian yang bisa menghancurkan.

 

Dan di sanalah aku menemukan arti:

bahwa hidup bukan tentang terlihat menang,

melainkan tentang tetap utuh,

meski dunia mencoba merobeknya.

 


MELEPASKAN DAN MENERIMA

Di gerbang Mei yang baru terbuka,

Aku lepaskan lelah yang sempat bertahta.

Setiap baris doa kini mulai menyala,

Mengganti ragu menjadi percaya yang nyata.


Aku layak untuk bahagia yang tenang,

Aku pantas untuk hasil yang gemilang.

Bulan ini, rezeki datang tanpa penghalang,

Segala usaha berbuah manis dan terang.


Mei adalah tentang tumbuh dan mekar,

Menjadi kuat meski jalanan sempat sukar.

Aku adalah pemenang yang takkan gentar,

Menjemput mimpi dengan langkah yang sabar.


Rumah yang Kembali Kutemukan

Aku pernah menjadi laut yang tak tenang,

menyimpan badai tanpa arah yang pasti,

ombak-ombak kecil memukul hatiku diam-diam,

hingga aku lupa rasanya menjadi teduh.

 

Di cermin, kulihat wajah yang asing,

penuh retak dari kata-kata sendiri,

aku berjalan jauh mencari penerimaan,

tanpa sadar yang kucari ada dalam diri.

 

Hari ini aku pulang pada diriku,

mengumpulkan serpihan yang tercecer pelan,

kubiarkan luka bercerita tanpa dihakimi,

lalu kupeluk ia sebagai bagian perjalanan.

 

Aku bukan lagi badai yang kehilangan arah,

melainkan langit yang belajar menerima awan,

dan dalam tenang yang sederhana itu,

aku menemukan rumah: diriku sendiri.


 


Suamiku, Lukaku: Eksklusif di KBM

Alhamdulillah, perjalanan menulis ini kembali menghadirkan kejutan indah. Dari empat karya yang kutitipkan di KBM, satu di antaranya kini resmi menjadi karya eksklusif: Suamiku, Lukaku.

Aku bersyukur atas setiap langkah kecil yang membawaku sampai di sini. Menulis bukan sekadar kata, melainkan perjalanan rasa, tentang jatuh, bangkit, dan menjadi kuat. Eksklusif bukan hanya label, tapi juga cahaya yang lahir dari luka.

Terima kasih untuk doa dan dukungan yang selalu menguatkan. Semoga karya ini bisa menjadi cerita yang menemani dan menguatkan siapa pun yang membacanya.


*SUAMIKU,LUKAKU - langitdidada* Nayla menjalani pernikahan dua tahun bersama Arga, suami yang tidak pernah benar-benar menginginkannya. Ia disalahkan atas semua hal, termasuk soal keturuna, padahal diam-diam dokter pernah mengatakan... Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah: http://kbm.id/book/detail/f5d2b01b-667d-4e7b-a4c3-b414808e0f9b

PERJALANAN HIDUP MENUJU AKU

Ada hari yang terasa jauh

Langkah berat, hati pun rapuh

Namun waktu terus membawaku

Menemukan arti di tiap ragu

 

Ada luka yang tak terlihat

Kupendam dalam sunyi yang pekat

Tapi diri tak ingin rebah

Meski perjalanan tak selalu ramah

 

Ku belajar menerima

Tak semua tanya harus terjawab sempurna

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Ada mimpi yang hampir hilang

Tertutup waktu yang panjang

Namun hati tetap mencoba

Menjaga nyala kecil di dada

 

Ku belajar percaya

Bahwa esok bisa membawa cahaya

 

Beginilah perjalanan ini

Mengajariku berdiri lagi

Saat dunia terasa sepi

Tetap kutemukan cara untuk berani

 

Dan bila bayangan masa lalu

Mencoba menahan langkahku

Ku percaya setiap detikku

Sedang membentuk siapa diriku

 

Dan bila suatu hari nanti

Ku memandang kembali

Ku tahu semua langkah ini

Tak ada yang pergi tak berarti